
Di perjalanan menuju ke villa milik Vincent.
Shafa yang baru saja mendapatkan telepon dari Joseph menjadi kesal, karena Joseph memutuskan panggilan begitu saja.
'Ih, apa-apaan sih orang ini. Main putusin telepon gitu aja. Gak jelas banget!' kesal Shafa melihat ke arah layar ponselnya yang sudah kembali ke menu utama.
Vincent yang melihat sang istri kesal pun bertanya.
"Siapa yang menelepon, kenapa kesal begitu?" tanya Vincent sambil melirik sekilas ke arah Shafa lalu kembali fokus ke arah depan.
Shafa yang malas menjawab pertanyaan Vincent segera menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas lalu mendengus pelan.
"Bukan urusan mu!" ketus Shafa.
Vincent hanya terkekeh kecil.
'Sebentar lagi sikap mu itu akan berubah Shafa, sebentar lagi kamu akan jadi milikku. Saat itu mau tidak mau kita harus batalkan perjanjian itu!' batin Vincent begitu percaya diri.
Shafa cukup lama terdiam, tapi dia kepikiran dengan ucapan Vincent kalau ayah dan ibunya akan menyusul karena terjadi sesuatu pada neneknya. Shafa baru sadar, kalau tindakan nya sepertinya salah, jika neneknya kambuh, bukankah ayah dan ibu Vincent tidak akan menyusul.
"Vincent, apa kondisi nenek parah?" tanya Shafa yang sudah mulai cemas.
"Tidak, dia hanya kambuh. Tapi kata ayah dan ibu, mereka akan menemaninya sebentar. Setelah nenek tertidur mereka akan segera menyusul!" jawab Vincent berbohong.
Karena sebenarnya Vincent dan kedua orang tuanya memang sudah merencanakan ini semua. Kedua orang tua Vincent sudah mengetahui perihal perjanjian pernikahan itu, dan mereka tidak ingin kehilangan Shafa sebagai menantu mereka hanya dalam 6 bulan. Karena itu kedua orang tuanya Vincent merencanakan semua ini. Karena kalau Shafa mengandung anak Vincent, dia tidak akan mungkin minta cerai pada Vincent.
Mendengar jawaban Vincent, Shafa sedikit tenang. Karena Vincent tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak kalau ada orang tuanya kan.
Beberapa jam kemudian, saat hari sudah menjelang sore, Vincent dan Shafa tiba di villa milik Vincent. Sebenarnya Shafa sangat senang dengan suasana di tempat ini, sangat tenang. Shafa hanya berharap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak-tidak.
"Apa ayah dan ibu mu masih lama?" tanya Vincent.
"Sebentar lagi pasti sampai, langit sangat mendung Shafa. Sebaiknya kita masuk ke dalam!" ajak Vincent.
Shafa pun melihat ke arah langit yang begitu gelap. Shafa pun memutuskan untuk masuk ke dalam villa.
Sementara itu, di luar Vincent sedang menguras isi bensin di mobilnya, agar saat Shafa mengamuk besok dia pun tidak bisa kembali tanpa persetujuan Vincent. Lagipula sinyal di tempat ini tidak begitu bagus. Shafa pun pasti tidak akan bisa pulang malam ini, dia juga tidak akan bisa menghubungi orang lain. Karena di tempat ini hanya bisa pakai telepon satelit.
Ada dua telepon satelit di dalam villa, tapi Vincent juga sudah meminta anak buahnya untuk menghabiskan daya kedua telepon itu dan membuang chargernya.
Vincent benar-benar sudah merencanakan hal sempurna untuk mengurung Shafa bersamanya malam ini.
Ketika Shafa sedang duduk sambil menikmati teh hangat. Tiba-tiba asisten rumah tangga Vincent menemuinya.
"Nona, maaf apa saya boleh pulang. Anak saya berkelahi dengan tetangga saya nona!" ucap asisten rumah tangga Vincent.
"Hah, kok bisa. Tapi ini sudah mendung, apa tidak apa-apa. Ibu akan pulang naik apa?" tanya Shafa yang perduli pada asisten rumah tangga Vincent itu.
"Naik sepeda nona, kalau boleh saya pulang sekarang ya. Supaya gak kena hujan!" ucap asisten rumah tangga itu lagi.
Shafa yang iba pada asisten rumah tangga Vincent itu langsung mengangguk setuju.
"Iya, hati-hati ya Bu. Sudah mau gelap!" ucap Shafa.
"Terimakasih nona!" ucapnya lalu pergi meninggalkan villa.
Dukk
Vincent sengaja menyenggol Shafa.
"Maaf maaf, aku tidak sengaja. Tangan ku kebas mengangkat tas kita tadi. Maaf ya!" ucap Vincent.
Shafa langsung meletakkan gelasnya di atas meja. Lalu mengusap pakaiannya yang basah.
"Sudahlah hanya teh saja, lagipula ini sudah tidak panas!" ucapnya.
"Aku akan buatkan lagi untukmu, kamu bisa mandi atau ganti baju saja. Cuaca sedikit dingin, aku segera buatkan tehnya untuk mu!" ucap Vincent terkesan terburu-buru.
"Tidak apa-apa Vincent, aku bisa buat sendiri teh nya nanti. Dimana kamar ku?" tanya Shafa pada Vincent.
"Di dekat tangga, sebelah kanan. Tas mu sudah aku letakkan di sana!" jawab Vincent dan di balas anggukan kepala singkat oleh Shafa.
Shafa pun mandi dan berganti pakaian. Karena memang teh nya manis, jadi tubuhnya terasa lengket. Setelah keluar dari kamar mandi kamarnya dengan masih memakai jubah mandi Shafa terkejut karena Vincent sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan segelas teh di tangannya.
"Vincent, kamu mengejutkan ku. Sudah ku bilang kan aku bisa buat sendiri tehnya!" ucap Shafa yang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Minumlah, ini hangat. Aku akan keluar!" ucap Vincent sambil meletakkan gelas teh di atas meja yang ada di dekat Shafa.
Vincent bahkan sempat menghirup aroma shampoo yang Shafa pakai sebelum dia keluar. Hal itu membuat Vincent semakin bersemangat.
Setelah Vincent menutup pintu, Shafa yang sedikit kedinginan tanpa ragu meminum teh dari Vincent.
Hanya tiga kali teguk4n, lalu dia mengambil pakaian di lemari. Tapi saat akan membuka lemari, kepalanya mulai terasa pusing.
"Aduh, kenapa pusing ya. Apa karena aku belum makan?" gumam Shafa.
Dia yang ingin cepat pakai pakaian lalu turun ke lantai satu dan makan pun berjalan menuju ke arah pintu kamarnya untuk mengunci pintu kamarnya karena akan ganti pakaian. Tapi perasaan Shafa mulai terasa aneh, rasanya dia merasa kepanasan dan pandangan berkunang-kunang.
"Aku kenapa ya?" tanya Shafa.
Shafa yang takut dirinya sakit pun berusaha untuk keluar mencari Vincent. Dia ingin meminta bantuan Vincent karena badannya benar-benar panas dingin tak karuan.
Nafas Shafa makin tereng4h-eng4h, dia bahkan lupa kalau dia masih pakai jubah mandi.
Shafa yang keluar dari kamarnya berusaha untuk turun ke lantai satu karena melihat Vincent sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Vincent..." panggil Shafa.
Suara Shafa sudah serak dan berat. Dia juga merasa ada yang tidak nyaman di bagian bawah perutnya, terasa panas dan juga gat4l. Nafasnya juga semakin panas, dan membuatnya nafasnya ngos-ngos4n.
Vincent tersenyum menyeringai saat dia berbalik dan mendapati Shafa yang tengah bersusah payah bahkan hanya untuk menghampiri nya.
"Tolong panggil dokter, aku merasa ada yang tidak beres dengan ku. Tolong... Vincent!" lirih Shafa yang sudah hampir pingsan tak sanggup menahan gejol4k yang ada dalam dirinya.
Vincent lalu memeluk pinggang Shafa, Shafa yang biasanya langsung akan menghindar, kali ini hanya bisa diam, rasanya tak punya tenaga bahkan untuk sekedar mendorong Vincent.
***
Bersambung...