
Shafa dan Karina akhirnya pergi ke kediaman Hendrawan. Davina yang melihat kedatangan Karina langsung menghampiri calon menantunya itu dan merangkul lengan Karina.
"Karina, apa Shafa sudah menceritakan semuanya padamu?" tanya Davina dengan antusias.
Karina pun langsung mengangguk.
"Penyelidikan tentang teror padamu itu, justru membawa Randy mengetahui tentang kebenaran kalau kecelakaan Alisha bukan kecelakaan biasa, tapi semua ini ulah Aline. Ibu merasa sangat sedih mengetahui hal ini, jika ibu saja merasakan perasaan seperti ini. Ibu tidak tahu bagaimana hancur dan sedihnya perasaan Randy!" keluh Davina mencurahkan kegelisahan dan apa yang dia rasakan di dalam hatinya pada Karina yang sudah mengerti apa yang harus dia lakukan.
Karina mengangguk paham lagi, dan menepuk punggung tangan Davina yang memeluk lengannya.
"Aku akan menemani nya, dimana dia?" tanya Karina.
"Di kamarnya, di lantai dua. Shafa akan mengantarmu!" jawab Davina kemudian melepaskan rangkulannya pada Karina.
Kini gantian Shafa yang kemudian menggandeng tangan Karina dan mereka berdua menaiki anak tangga bersama menuju ke lantai dua.
Setibanya di depan pintu kamar Randy, Shafa melepaskan tangan Karina.
Shafa pun melihat ke arah Karina dengan tatapan yang menunjukkan harapan besar, agar Karina bisa bersabar dengan semua situasi ini dan terus mendampingi Randy. Meski Shafa sendiri yakin, kalau dirinya di posisi Karina. Mungkin dia tidak akan se-sabar ini menghadapi Randy.
Karina hanya tersenyum lalu mencoba memutar handel pintu kamar Randy. Ternyata pintunya terkunci. Karina pun menatap ke arah Shafa, dan Shafa pun mengetuk pintu kamar kakaknya itu perlahan.
Tok tok tok
"Kak, kak Randy!" panggil Shafa.
Satu detik, dua detik, tiga detik tak ada jawaban dari dalam. Shafa mulai terlihat cemas, matanya bahkan sudah berkaca-kaca dan melihat ke arah Karina.
Karina mengerti kecemasan Shafa, mungkin hal ini yang dirasakan Davina. Takut Randy kembali rapuh.
Sekarang Karina yang mengangkat tangannya dan mencoba mengetuk pintu kamar Randy perlahan.
Tok tok tok
"Randy!" panggil Karina.
Satu detik, dua detik...
Ceklek
Akhirnya pintu kamar itu terbuka, Shafa dan Karina sama-sama menghela nafasnya lega. Shafa kemudian mengelus lengan Karina dan berkata.
"Aku akan ada di bawah kak, jika kak Karina membutuhkan sesuatu!" ucap Shafa lalu meninggalkan Karina bersama Randy yang masih terdiam di ambang pintu yang dia buka cukup lebar.
"Kau datang..!"
Sebelum Randy bicara, Karina sudah menyentuh lengan Randy pelan.
"Jangan seperti ini, Alisha pun pasti tidak ingin melihat mu seperti ini...!"
Brukk
Sebelum Karina bisa meneruskan apa yang ingin dia katakan, Randy sudah memeluknya dengan keras membuat Karina sedikit terkejut bahkan sedikit terhuyung ke belakang. Sampai Karina harus berpegang di tembok yang ada di sampingnya.
Tidak ada kata yang di ucapkan oleh Randy, hanya saja Karina bisa merasakan kalau tubuh Randy gemetaran. Bahkan beberapa detik kemudian Karina mendengar sedikit isakan dari Randy.
Karina membiarkan Randy memeluknya dan menumpahkan semua derita yang ada di dalam hatinya, penyesalan dan rasa bersalah Randy pada mendiang istri pertamanya.
Selama beberapa lama setelah isakan itu berhenti, akhirnya Randy melepaskan pelukannya dari Karina. Wajah Randy benar-benar terlihat sangat sedih. Karina pun mengangkat tangannya dan menyentuh wajah pria yang sedih itu. Menyeka air matanya perlahan.
"Jangan menyimpan semuanya sendirian Randy, aku ada di sini untuk berbagi kesedihanmu dengan ku!" ucap Karina yang ingin menunjukkan kalau dia akan selalu ada di samping Randy di saat seperti ini.
Randy pun memandangi wajah Karina yang terlihat sangat tulus dan mendamaikan hatinya yang sedang tidak karuan. Randy mengajak Karina duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Setelah menenangkan hatinya, dia akhirnya menceritakan tentang apa yang terjadi lima tahun yang lalu.
Bagaimana hancurnya dirinya saat mendapati sang istri yang akan memberikan kejutan anniversary pernikahan untuk dirinya di temukan dalam keadaan mengenaskan di dasar jurang dengan mobil yang hampir terbakar seutuhnya.
Saat air mata Randy kembali mengalir, Karina menggenggam tangan Randy dengan erat. Sangat erat. Seolah Karina bisa merasakan kepedihan yang ada di alam hati calon suaminya itu. Dia juga tidak menyangka kalau perubahan yang terjadi pada diri Randy karena semua hal yang terjadi lima tahun lalu itu.
Kemudian Randy kembali menceritakan bagaimana dia menemukan para preman yang meneror rumah kontrakan Karina yang ternyata dua orang dari tiga orang itu adalah pelaku yang mencelakai Alisha.
"Aku tidak akan memaafkan wanita licik itu, dia harus membusuk di penjara. Benar-benar membusuk di penjara!" kesal Randy.
Karina pun mengangguk setuju.
"Kau benar, tapi biar tangan-tangan hukum yang bekerja. Percayalah pada keadilan Tuhan, dan percayalah kalau Alisha pasti tidak akan menyalahkan mu. Dia juga pasti tidak ingin kamu terus larut dalam kesedihan dan penyesalan. Dia pasti ingin kamu bisa bahagia Randy. Karena seperti itulah cinta, bukankah kalau kita mencintai seseorang, keinginan kita hanyalah melihat orang yang kita cintai itu bahagia. Maka bahagia lah untuk Alisha." ujar Karina panjang lebar mencoba menjelaskan pada Randy.
Randy pun terdiam, tatapannya hanya tertuju pada genggaman tangan Karina. Sementara Karina, tatapannya justru tertuju pada wajah dan mata Randy yang masih terlihat menyimpan begitu banyak kesedihan karena rasa cintanya yang mendalam pada Alisha.
'Ternyata kamu memang sangat mencintai nya. Bahkan dia sudah pergi lima tahun yang lalu, hidupmu masih terus di pengaruhi olehnya. Apa aku bisa dapatkan tempat setara dengannya di hatimu, apakah aku mampu?' tanya Karina dalam hatinya.
Di satu sisi dia merasa kagum pada cinta Randy untuk Alisha. Tapi di lain sisi, ada rasa tidak percaya diri kalau cinta yang di miliki Randy padanya sama besarnya seperti cinta Randy pada Alisha.
Saat Randy mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Karina. Karina terkejut, karena pandangan mereka berdua terkunci. Karina juga sudah tidak bisa berpaling ke lain arah karena tatapan Randy begitu dalam dan benar-benar mengunci pandangannya.
"Inikah alasannya saat itu kamu bertanya lebih besar mana cintaku padamu atau pada Alisha?" tanya Randy.
Deg deg deg
Jantung Karina berdetak kencang. Bagaimana mungkin Randy tahu apa yang sedang dia pikirkan. Karina pun bungkam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
Tapi kemudian tangan Randy terangkat dan menyentuh lembut wajah Karina. Membuat Karina memejamkan matanya karena merasa jantungnya benar-benar sudah mau mencelos dari tempatnya. Dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Itu membuat Karina gugup.
"Aku mencintaimu Karina, rasa cintaku padamu melebihi nyawaku. Apa sekarang kamu sudah dapat jawabannya?" tanya Randy.
Mata Karina terbuka perlahan, kini dia sudah dapatkan jawabannya. Selamanya memang Alisha tidak akan pernah hilang dari hati Randy, tapi tempat mereka berbeda. Karina memiliki seluruh hati Randy, meski di dalamnya terkunci rapat tempat untuk Alisha.
Wajah Karina bersemu merah, membuat Randy yang awalnya hanya ingin mengungkapkan perasaannya malah tidak bisa menahan untuk tidak melakukan hal yang lebih. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Karina. Lima centimeter lagi Randy sudah pasti akan bisa menjangkau bibir merah peach Karina.
"Kak Randy, kak Dave menelepon... ups maaf!" ucap Shafa yang bicara sambil melenggang masuk begitu saja.
Dengan cepat dia langsung berbalik dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak lihat apapun!" ujar Shafa yang langsung beralih keluar kamar Randy yang memang sejak Karina masuk ke dalam kamar Randy tadi pintunya memang terbuka lebar.
***
Bersambung...