
Sebenarnya Sila masih penasaran dengan siapa Dave bicara di telepon tadi dan apa yang dia bicarakan dengan seseorang yang telah menelepon nya tadi. Karena sejak menerima panggilan telepon tadi, tatapan Dave pada Sila, dia merasakan tatapan Dave itu berbeda. Tapi karena saat Sila bertanya Dave hanya diam, maka dia pun tidak berani untuk bertanya lagi. Lagipula dia sudah sangat percaya pada Dave, pria itu bahkan tidak pernah mengangkat telepon menjauh darinya, itu artinya sebenarnya memang tidak ada yang di rahasiakan dari dirinya. Tapi mungkin saja memang itu bukan urusan Sila, karena itu Dave diam. Itulah yang ada di pikiran Sila saat ini.
Sementara Dave yang sudah memiliki data diri dari orang yang telah di bayar oleh Hadi untuk menjebak Sila benar-benar tak habis pikir pada kelakuan mantan suaminya itu. Dari tadi Dave diam di dalam mobil dalam perjalanan ke kantor itu sebenarnya sedang menahan emosinya. Dave begitu marah dan kesal pada Hadi, bagaimana tidak. Pria yang di bayar untuk tidur dengan Sila waktu itu adalah seorang pria dari perkampungan pemulung, yang bahkan Dave sangat ragu jika dia itu dalam kondisi sehat. Darah Dave benar-benar mendidih, dia tidak menyangka ada pria sebejat Hadi, yang demi selingkuhan dan juga harta gono-gini saja rela menjebak wanita yang sudah menikah dengannya selama lima tahun, menemaninya dalam suka dan juga duka, bahkan sudah memberinya seorang putri kecil yang manis dengan taruhan nyawanya.
Dave benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Hadi. Dave benar-benar merasa jijik menyebut pria bernama Hadi Tama itu sebagai laki-laki. Laki-laki seharusnya melindungi wanita, menjaganya. Apalagi wanita itu adalah istrinya, bidadari surganya. Rasanya Dave benar-benar ingin menghancurkan pria bernama Hadi itu sehancur-hancurnya.
'Dasar pria breng*sek. Meskipun Sila hanya inginkan Mika dan tak ingin membalas mu. Tapi aku yang menghancurkan mu, sampai saat kamu terpuruk, kamu akan menangis dan menyesal telah melakukan semua ini pada Sila!' batin Dave begitu geram pada perbuatan Hadi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di kantor, Joseph membukakan pintu mobil untuk Dave. Dan karena masih sangat emosi, Dave pun pergi duluan meninggalkan Joseph yang masih membukakan pintu untuk Sila.
Melihat kepergian Dave, Sila juga bingung.
'Sebenarnya tuan kenapa?' tanya Sila dalam hati. Dia merasa sedih melihat Dave diam dan mengacuhkan nya.
Ketika Sila sudah keluar dari dalam mobil dan Joseph pun menutup pintu. Sila bertanya pada Joseph.
"Jo, menurut mu apa tadi saat meeting dengan buaya darat, eh.. maksud ku kakak nya tuan Dave itu, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Sila pada Joseph yang merasa bingung dan tidak tahu sikap atau perkataan nya yang mana yang menyinggung Dave hingga Dave tadi Dian saja. Dan sekarang bahkan meninggalkan nya masuk duluan ke dalam perusahaan.
Mendengar pertanyaan dari Sila, Joseph yang sudah lama bekerja dengan Dave dan sangat mengenal pria itu pun hanya tersenyum. Joseph tahu kalau sebenarnya tuannya itu tidak marah pada Sila. Sikapnya berubah ketika selesai menerima panggilan dan melihat pesan di ponselnya. Dan sikap Dave itu bukan marah, Joseph sempat melihat tadi di dalam mobil saat perjalanan menuju ke kantor kalau Dave memandang Sila dengan tatapan yang begitu lirih.
"Nona, tuan tidak marah padamu. Tapi saran ku, jika tuan sedang diam seperti itu sebaiknya anda yang mengambil inisiatif!" ucap Joseph lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil Dave itu menuju tempat parkir di area basemen.
Sila pun merasa sedikit kecewa karena Joseph malah seperti bukan memberikan solusi tapi masalah baru baginya.
"Inisiatif? inisiatif apa?" tanya Sila yang merasa bingung.
Sila pun berniat kembali ke ruangannya, lebih tepatnya ruangan Dave. Karena meja kerjanya juga ada disana. Tapi saat akan masuk ke dalam lift. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Sila membuatnya sangat terkejut.
"Heh, darimana saja kamu? kamu baru datang? aku akan laporkan kamu pada Dave ya, dasar pemalas!" seru Luna yang kebetulan lewat di situ dan melihat Sila yang baru berjalan dari pintu masuk perusahaan ke arah lift.
"Nona Luna, aku bukannya baru datang... tadi aku...!"
"Bukan baru datang? aku sejak tadi tidak melihat mu! memang jam berapa kamu datang tadi?" tanya Luna menyela apa yang ingin di jelaskan oleh Sila.
Sila terdiam, dia memang baru datang ke perusahaan ini.
"Jam...!" Sila menjeda kalimat yang ingin dia ucapkan.
Luna makin terlihat sangat puas sudah memergoki kedatangan terlambat Sila.
"Habislah kamu, kamu tahu tidak. Kalau Dave itu paling tidak suka ada karyawan yang datang terlambat, apalagi kamu adalah sekertaris pribadi nya, seharusnya kamu memberikan contoh yang baik pada karyawan lain!" ucap Luna seperti sedang menasehati Sila.
Beberapa karyawan yang sepertinya senggang pun mendekat ke arah mereka berdua karena Luna bicara dengan suara yang cukup keras. Luna memang sengaja melakukan nya.
Melihat banyak karyawan yang mulai berkerumun, Sila berusaha bicara baik-baik pada Luna.
"Nona Luna, dengarkan aku dulu. Aku bukan datang terlambat...!"
Melihat Sila yang masih terus berusaha untuk menyangkal, Luna pun mulai kesal.
Dia menarik tangan Sila yang berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
"Masih juga berkilah, ayo ikut aku. Aku akan laporkan kamu pada Dave!" seru Luna yang langsung mengajak Sila masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka.
Kerumunan itu pun bubar seiring pintu lift yang tertutup.
"Apa tadi kata nona Luna, nona Sila datang terlambat?" tanya seorang karyawati dengan cangkir kopi di tangannya.
"Iya, ku dengar begitu!" jawab temannya yang berjalan beriringan dengannya hendak masuk ke divisi mereka.
"Tapi tadi aku lihat nona Sila datang bersama dengan tuan Joseph dan juga tuan Dave, saat aku akan ke pantry tadi aku lihat tuan Dave berjalan lebih dahulu masuk sedangkan nona Sila dan tuan Joseph sedang bicara di dekat mobil tuan Dave!" jelas karyawati yang membawa cangkir kopi itu lagi.
Wajah terkejut tapi terlihat senang justru di tunjukkan oleh karyawan yang berjalan bersama dengannya. Dia yang memang tidak suka pada sikap arogan dan sombong Luna malah terlihat senang.
"Wah, kalau begitu nona Luna sudah membuat kesalahan. Coba saja aku bisa lihat apa yang akan terjadi di ruangan tuan Dave. Nona Luna yang sok ingin menjadi karyawan rajin itu malah akan dimarahi nanti oleh tuan Dave ha ha ha!" ucapnya begitu senang.
"Heh, kenapa bicara begitu. Dia itu kan calon istri tuan Dave, mana mungkin dia akan dimarahi!" kata temanya yang tidak percaya kalau Dave akan memarahi Luna.
"Bisa saja, kamu tahu tidak. Kemarin saat di kantin, aku dengar nona Anita bilang kalau tuan Dave bahkan membentak nona Luna, dan menyuruh nona Luna membereskan ruang sekertaris!" jelasnya lagi pada temannya itu.
"Benarkah? wah pasti akan seru ha ha ha, sayang sekali kita tidak bisa melihatnya!" sambung karyawati itu ikut tertawa.
***
Bersambung...