Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 112


Selain mobil pribadinya, Hadi juga masih punya satu buah mobil lagi yang biasa di gunakan untuk mobilitas Mika dan kedua orang tuanya. Juga sudah ada supirnya sendiri, dan kebetulan supir mobil itu belum pulang. Karena memang dia bekerja dari pagi pukul 7 hingga pukul 7 malam dan kebetulan, ini belum waktunya supir itu pulang.


Saat meninggalkan rumah Hadi, Susan terus saja berusaha untuk semakin membuat Murti emosi.


"Mas Hadi pasti akan sangat sedih kan Bu, kalau sampai Sila mengambil hak asuh Mika!" ujar Susan berusaha membuat Murti lebih bersemangat lagi untuk mengumpulkan banyak kosa kata untuk menghina Sila nanti ketika mereka tiba di rumah kedua orang tua Sila.


"Aku juga tidak mengerti, darimana wanita itu punya banyak uang untuk menyewa pengacara, saat perceraian nya dengan Hadi saja dia tidak menyewa pengacara kan?" tanya Murti yang merasa heran.


Susan sebenarnya juga memikirkan hal itu, menurutnya kalau hanya sekertaris biasa yang bahkan baru bekerja sebulan, mana mungkin gaji Sila bisa membayar pengacara yang jelas-jelas adalah pengacara dengan bayaran termahal di kota ini.


Tapi setelah berpikir cukup lama, akhirnya sesuatu muncul di dalam kepala Susan.


"Bu, atau mungkin sebenarnya Sila menyembunyikan harta gono-gini nya dengan mas Hadi?" tanya Susan pada Murti.


Murti yang bingung dengan ucapan Susan pun mengernyitkan dahi nya dan bertanya pada Susan.


"Maksud mu bagaimana?" tanya Murti.


"Begini Bu, bisa saja kan Sila itu tidak melaporkan semua aset milik bersamanya dengan mas Hadi, maksud ku bisa saja dia punya tabungan atau harta lain yang di dapatkan saat pernikahan nya dengan mas Hadi, tapi Sila menyembunyikan nya dari mas Hadi. Dan sekarang setelah mereka bercerai, Sila memanfaatkan harta yang dia simpan itu Bu, untuk membayar pengacara!" jelas Susan panjang lebar mengemukakan pendapatnya tentang Sila.


Murti hanya diam sambil memegang dagunya berpikir apakah mungkin yang di katakan oleh Susan itu benar. Kalau seperti itu, artinya Sila sangat curang. Tapi kalau tidak seperti itu, lalu bagaimana Sila mendapatkan uang sebanyak itu.


"Kalau memang benar seperti itu, kita bisa menuntutnya balik Bu!" tambah Susan lagi yang begitu percaya diri.


Tapi Murti tidak memikirkan untuk menuntut balik, dia juga tidak terlalu perduli dengan harta. Karena memang Murti bukan orang yang matre.


"Aku tidak perduli dengan harta gono-gini Hadi dan Sila! aku hanya tidak ingin hak asuh Mika jatuh pada Sila, dia bukan istri yang baik mana mungkin dia akan jadi ibu yang baik dan mendidik Mika dengan benar, kelakuan nya saja minus!" oceh Murti membuat Susan cemberut.


Meski cemberut tapi Susan berusaha memalingkan wajahnya dari Murti, agar calon ibu mertuanya itu tidak tahu kalau dia sedang manyun alias cemberut karena mendengar Murti tidak butuh harta.


'Heh, terserah kalau kamu tidak butuh nenek peyot, tapi aku sangat butuh harta itu kalau memang benar bisa menuntutnya, maka akan ku bujuk mas Hadi agar mau menuntut hak nya itu, kan lumayan!' batin Susan.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di tumpangi oleh Murti dan Susan tuba di depan pintu gerbang rumah Prio Utomo. Pintu gerbangnya memang tidak seperti milik mansion atau bahkan kediaman Hadi Tama yang sekarang. Hanya gerbang sederhana setinggi pinggang orang dewasa.


Murti dan Susan pun turun dari dalam mobil, mereka langsung melihat ke arah rumah Prio Utomo yang terlihat terang benderang. Dengan dua mobil di depan rumahnya.


"Ayo kita beri pelajaran pada wanita itu!" ucap Murti yang berjalan terlebih dahulu melewati Susan.


Susan tersenyum puas, karena sebentar lagi dia akan menyaksikan sendiri calon ibu mertuanya itu memarahi dan memaki mantan menantunya.


Keduanya berjalan menuju ke arah pintu utama. Bel yang ada di samping pintu, sudah tidak di hiraukan oleh Murti. Dan perempuan paruh baya itu lebih suka menggedor pintu rumah Prio Utomo dengan tangannya.


Brak Brak Brak


"Sila, keluar kamu!" teriak Murti membuat Susan ikut tersenyum menyeringai.


"Kurang keras mungkin Bu!" sela Susan.


Murti yang memang kesal karena pintu tak kunjung di buka pun menggedor lebih kuat lagi. Hingga terbukalah pintu itu dan menampakkan Niken yang melihat kedua wanita di depannya dengan tatapan tidak suka.


"Mau apa ibu kemari? malam-malam begini menggedor pintu rumah orang, tidak sopan sekali!" omel Niken yang memang sejak dulu tidak suka pada Murti.


Menurut Niken Murti itu terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya, dari mulai meminta Sila dulu tidak bekerja lagi, dan tinggal di desa bersamanya. Padahal saat itu karir Sila sangat baik, untung Sila tidak menuruti nya. Kalau dulu Sila sampai menuruti kemauan mertuanya eh mantan mertuanya itu, Niken tidak tahu seperti apa hidup Sila sekarang.


Niken lantas menatap tajam pada Susan.


"Kamu siapa? ikut campur saja!" pekik Niken tak mau kalah.


Mendengar keributan dari arah pintu, Keluarga Prio Utomo yang sebenarnya tengah makan malam pun menyudahi makan malam mereka dan menghampiri Niken yang masih berdiri di depan pintu.


"Ada tamu nak? kenapa tidak di suruh masuk?" suara Tini membuat Niken langsung menoleh ke arah ibu mertuanya itu.


"Tamu tidak di undang Bu, untuk apa menyuruh mereka masuk!" jawab Niken dengan santai.


Niken memang orangnya seperti itu, dia memang orangnya terus terang.


Mata Murti langsung melotot ke arah Niken, dia lantas maju melangkah melewati Niken meski Niken belum menyuruhnya masuk.


"Oh baguslah kalian semua berkumpul di sini!" seru Murti yang sudah berdiri tepat di depan Tini.


"Mana Sila, mana mantan menantuku yang tukang selingkuh itu?" tanya Murti yang membuat semua orang di sana kecuali Susan langsung terlihat sangat emosi.


"Jaga mulut mu Bu Murti!" teriak Bima yang tidak terima mantan mertua adiknya itu mengatakan hal buruk tentang Sila.


"Kenapa? kamu marah? adik mu itu memang tukang selingkuh! karena itu Hadi menceraikan nya. Sudah tidak tahu malu, sekarang masih ingin hak asuh Mika, apa dia tidak waras. Bagaimana mungkin dia bisa mendidik Mika dengan benar kalau kelakuannya saja minus...!"


Plakk


Tini yang berada tepat di hadapan Murti langsung menampar pipi kanan wanita yang usianya tidak jauh berbeda darinya itu. Tini yang paling sabar di antara semua orang di ruangan ini bahkan sudah kehilangan kesabaran nya karena hinaan Murti pada Sila.


"Beraninya kamu menampar ku, aku akan menuntut mu!" gertak Murti yang masih memegangi pipinya yang terasa panas.


Susan yang melihat kemarahan Tini pun perlahan mundur, kalau yang dia anggap paling lemah saja sudah seperti ini bagaimana dengan Bima nanti.


"Bu, sebaiknya kita pergi sekarang. Kita laporkan saja pada mas Hadi tentang perbuatan mereka ini!" bisik Susan pada Murti.


Murti langsung menunjuk ke arah keluarga Sila satu persatu.


"Awas saja kalian, aku akan menuntut kalian. Dan Sila tidak akan pernah mendapatkan hak asuh Mika, pengkhianat seperti dia sama sekali tidak pantas!" pekik Murti.


Tini yang masih emosi pun membalas gertakan Murti.


"Tutup mulut mu dan pergi dari sini. Kita lihat saja besok di persidangan. Yang pengkhianat itu putriku atau putramu yang tidak tahu berterima kasih itu!" seru Tini tanpa mengedipkan matanya.


Susan semakin gentar ketika Bima melangkah maju mendekati Tini.


"Bu, ayo!" ajak Susan yang berusaha menuntun Murti yang masih sangat emosi untuk keluar dari rumah ayah Sila.


Setelah Murti dan Susan pergi, Niken menutup pintu dan menghampiri ibu mertuanya.


"Wah, ibu tadi keren sekali!" puji Niken membuat Bima menepuk dahinya sendiri mendengar apa yang istrinya katakan pada ibunya.


***


Bersambung...