Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 217


Safar pun mendatangi rumah kontrakan Rosa setelah memastikan dua mobil itu sudah pergi menjauh.


Safar langsung menghampiri Rosa.


"Astaga sayang, wajah mu! sssttt... pasti sakit ya?" tanya Safar sambil mengusap pelan lebam di pipi Rosa akibat tiga kali tamparan dari Susan.


"Lumayan mas, ibu sedang ambil kotak obat untuk mengobati ini. Dimana rekaman CCtv nya?" tanya Rosa yang penasaran dimana Safar meletakkan kameranya.


Safar langsung bergegas ke dekat jendela. Dan meraih sebuah kamera kecil di sana. Dia lalu mematikan kameranya dan langsung mengambil kartu SD nya. Safar mengeluarkan laptop dan melihat apa isi rekamannya.


Dahlia datang membawakan kotak obat, sambil di oles krim oleh Dahlia. Rosa melihat semua isi rekaman itu, dari Hadi mengobrol dengan Dahlia, hingga kedatangan Susan.


Mata Safar membulat sempurna.


"Ternyata Hadi Tama menggelapk4n dana perusahaan, mereka bahkan yang telah memfitn4h pak Anton dan kandidat wakil CEO lain di perusahaan pak Kamal. Kalau berita ini tersebar, bukan hanya Susan, tapi Hadi juga akan di penjara!" ucap Safar yang sedikit terkejut.


Masalahnya dia kira Hadi itu pengusaha yang baik hanya mata keranj4ng saja, tapi ternyata dia juga sangat licik.


"Memangnya kenapa? dia juga laki-laki pengkhianat. Aku dengar dia mengkhianati istrinya demi Susan, aku rasa semua ini pantas untuknya!" geram Rosa sebagai sesama wanita, dia tentu saja bisa merasakan apa yang Sila rasakan. Pasti dia merasa sakit hati sama seperti Jasmine kakaknya.


"Baiklah kalau begitu, kita akan buat kehebohan dengan rekaman ini. Boom!" ucap Safar menekan tombol enter hingga rekaman yang sudah di edit sampai saat Susan datang dan marah-marah hingga memaksa Rosa tanda tangan surat perceraian itu terunggah ke media sosial.


Sementara itu di perjalanan pulang, Hadi masih sibuk menghadapi amukan Susan yang bahkan tidak segan memukul dan mencak4r lengan Hadi padahal posisinya saat itu Hadi sedang mengemudi. Itu bahkan bisa sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa mereka berdua. Tapi Susan sama sekali tidak perduli, dia sudah terlanjur sangat sangat kesal pada Hadi Tama. Rasa kesalnya bahkan sudah sampai pada ambang batas, hingga kalau asap bisa keluar dari tubuh Susan seperti dalam film fantasi, pasti asap sudah keluar dari kepala, telinga, hidung dan mulut Susan.


"Hentikan Susan, apa kamu kita celaka?" pekik Hadi yang mulai kehilangan konsentrasi.


"Kamu penyebab semua ini mas, kamu mang pantas celaka!" pekik Susan yang sudah tidak perduli dengan apa yang dia ucapkan. Dia sudah sangat emosi.


"Setidaknya pikirkan bayi yang ada di dalam kandungan mu!" ujar Hadi Tama.


Susan pun langsung terdiam, dia juga langsung memalingkan tubuhnya juga pandangannya dari Hadi.


'Kalau aku tidak hamil, dan kamu bukanlah wakil CEO yang masa depannya sangat bagus, aku sudah pasti akan meninggalkan pria pengkhianat seperti mu mas Hadi!' kesal Susan dalam hatinya.


Pertengkaran mereka bahkan tidak sampai di situ saja. Setibanya di rumah Hadi, Mila malah langsung berteriak memanggil seluruh anggota keluarga Hadi Tama. Yah, memanggil Murti dan Haris dengan teriakan seperti seorang preman pasar.


Murti yang kesal pun hampir tersulut amarah, untung Haris menahannya agar tidak keluar dari kamar. Karena calon besannya itu pasti hanya akan membuat keributan. Dan jujur saja Haris pun sudah lelah menghadapi semua masalah yang di sebabkan oleh Hadi.


Setelah beberapa saat Murti dan Haris tidak muncul juga. Mila malah meluapkan emosi ya pada Hadi Tama.


"Apa ini?" tanya Hadi bingung tapi menerima surat perjanjian dari Mila itu.


"Surat perjanjian pra nikah, sama seperti surat perjanjian pra nikah dengan mantan istrimu dulu, siapa yang selingkuh, maka dia akan angkat kaki dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun uang, dan juga satu barang pun dari rumah ini!" tegas Mila.


Hadi pun tertawa getir mendengar apa yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya itu. Hadi lalu berdiri dari duduknya di sofa, lantas merobek surat itu di depan Mila.


"Jangan pikir aku bodoh, kalian memang punya bukti yang bisa mengancam ku. Tapi kalian juga harus ingat, anak mu itu...!" Hadi menunjuk ke arah Susan.


"Juga ikut dalam semua rencana dan usahaku meraih posisi wakil CEO bahkan penggelap4n dana perusahaan. Kalau aku di penjara, maka dia juga akan masuk penjara! Jadi jangan bertingkah seolah kalian tidak berdosa sama sekali!" terang Hadi membuat Susan mengepalkan tangannya kesal.


Setelah mengatakan hal itu Hadi pun bergegas menuju ke kamarnya. Susan yang ingin mengejar Hadi, di cegah oleh Mila.


"Susan, jangan kejar dia!"


"Tapi Bu..!"


"Dia sedang marah, akan percuma bicara padanya, kamu tidak dengar tadi dia bilang apa. Kamu juga terlibat Susan, jadi diam lah!" perintah Mila dan akhirnya Susan pun menurut.


Di dalam kamarnya, Hadi memutuskan untuk mandi dan mengguyur kepalanya yang terasa sangat panas dan pusing. Bahkan saat ini mulai muncul rasa penyesalan dalam hati Hadi yang lebih memilih meninggalkan dan menjebak Sila, demi cintanya pada Susan. Yang dia pikir itu cinta, tapi ternyata semua itu palsu. Sifat asli Susan yang keluar setelah dia menceraikan Sila, membuat Hadi bahkan semakin kesini rasa cinta itu semakin terkikis habis. Nyaris tak bersisa lagi.


Saat Hadi memejamkan matanya, bayangan wajah Sila yang tersenyum saat hamil Mika dulu terlintas di benak Hadi. Ketika wanita dengan perut besar itu bahkan tersenyum setelah mengatakan dia akan lembur sampai malam dan meminta suaminya itu tidur duluan dan tak perlu menunggunya.


Air mata Hadi menetes seiring derasnya air shower yang tumpah ke wajahnya. Suara Sila kala itu tiba-tiba saja terngiang di telinga Hadi.


'Mas, jangan cemas karena pekerjaanku nanti tidak berat kok. Aku sudah buatkan lauk dan ku simpan di kulkas, mas bisa hangatkan dengan microwave. Jangan menungguku, tidurlah duluan. Supir kantor akan mengantarku pulang dengan selamat'.


Hadi bahkan sampai berjongkok dengan memegangi kepalanya. Isakan tangis terdengar sayup-sayup darinya.


'Mas, uang kuliah mu sudah aku bayar. Di tas juga sudah aku masukkan uang saku. Mas tidak perlu menahan kalau mau beli bakso atau apapun, aku sudah kasih uang saku lebih hari ini. Semangat kuliahnya ya mas!'


Kalimat demi kalimat yang pernah Sila ucapkan sambil tersenyum kembali melintas di benak Hadi. Bahkan ketika Sila hanya membawa bekal telur dadar dan nasi putih. Dia memberikan uang saku lebih untuk Hadi kuliah. Hadi kembali terisak, baru sekarang rasa bersalah dan sesak itu muncul, baru sekarang dia menyadari betapa tulusnya Sila padanya, tapi dia malah menyia-nyiakan ketulusan Sila itu demi wanita yang bermuka dua seperti Susan.


"Sila.. aku menyesal...maafkan aku, aku menyesal Sila..!" lirih Hadi di sela Isak tangisnya.


***


Bersambung...