Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 193


Joseph langsung menjauh dari Shafa ketika wanita itu mengecup pipinya sekilas. Joseph bahkan langsung menyentuh pipi kirinya, dimana kecupan Shafa tadi mendarat di sana.


"Jo, apa setelah aku bercerai. Aku boleh mengejar mu?" tanya Shafa yang membuat Joseph bingung harus berkata apa.


Jauh di dasar hatinya, di lubuk hatinya yang terdalam. Keyakinan Joseph mulai goyah, sejak kejadian siang itu di dalam mobilnya ketika Shafa menciumnya. Hati Joseph yang beku benar-benar seperti sudah mencair. Bahkan sejak saat itu wanita yang masih berstatus istri Vincent Oberen itu sesekali mampir di dalam mimpinya.


Dan sejak saat itu pula, Joseph benar-benar sudah bisa menghapus bayangan Karina yang sempat mampir dalam hati dan hidupnya. Akan sangat munafik jika Joseph mengatakan masih tidak menyukai Shafa, karena wanita yang usianya terpaut sangat jauh darinya itulah satu-satunya wanita yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokusnya saat bekerja karena memikirkannya.


Namun hati dan pikiran Joseph sepertinya saling bertentangan. Hatinya sudah mulai tergugah karena sikap dan perhatian Shafa, tapi pikirannya masih menolak semua hal itu. Logikanya menolak untuk membuka hatinya supaya bisa mencintai seseorang yang seharusnya memang tidak dia cintai.


"Nona, sudah cukup!" seru Joseph yang memilih meninggalkan ruangan itu.


Shafa tidak terkejut dengan penolakan Joseph itu, karena dirinya memang sudah beberapa kali di tolak oleh Joseph. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya sudah dia serahkan pada Joseph sejak usianya 17 tahun.


Shafa hanya menghela nafasnya panjang melihat kepergian Joseph.


"Hais, aku pasti terlihat sangat murah4n di depannya. Kenapa sih, kalau dekat dia bawaannya mode soang on terus, ck...!" Shafa berdecak kesal karena selalu terbawa suasana saat berada di dekat Joseph.


Shafa kemudian teringat kembali semua perkataan karyawati yang menggosipkan Karina dan Joseph tadi.


"Tunggu sebentar, jika pak tua itu bisa menyukai Karina. Artinya ada sesuatu dari Karina yang aku tidak punya kan? atau ada hal yang membuat pak tua itu menyukainya, tapi apa ya?" gumam Shafa menduga-duga apa yang kira-kira membuat Joseph tergugah perasaannya pada Karina.


"Cantik? aku juga. Pintar? aku juga, mandiri?...!" Shafa terdiam setelah mengatakan kata mandiri.


Sebab kata itu memang sangat jauh darinya yang sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan hanya dengan sekali tunjuk.


"Ya ampun, ternyata aku memang kalah jauh darinya!" gumam Shafa yang langsung tidak bersemangat.


Sementara itu di pantry kantor, Joseph sedang mendinginkan kepala, hati dan juga tubuhnya. Sejak tiba di pantry, Joseph sudah minum 2 gelas penuh air dingin.


"Wanita itu benar-benar!" gerutu Joseph yang tidak bisa tenang dengan semua sikap Shafa padanya.


'Nona, kamu membuat posisi ku sulit. Kamu bukan orang yang bisa aku jangkau nona. Bukan!' batin Joseph.


***


Sementara itu di rumah sakit tempat Dahlia di rawat. Hadi datang menjenguk ibu mertuanya itu, untung saja saat Hadi datang Safar sudah pergi dari sana dan kembali ke kantor.


Saat Hadi datang, Rosa langsung memeluk suaminya itu dan menangis di pelukan Hadi. Sedangkan Dahlia tampak tertidur di ranjang pasien. Dia tidak pura-pura, setelah minum obat Dahlia memang benar-benar tidur.


"Mas, ibu ku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu mas. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ibu...!" Rosa tidak dapat melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Karena jari telunjuk kanan Hadi sudah berada di depan bibirnya.


"Jangan bicara begitu Rosa, ibumu pasti baik-baik saja. Aku sudah bicara dengan dokter tadi. Dan sudah ku urus semua administrasi nya!" sahut Hadi.


Kemudian Hadi mengajak Rosa untuk duduk di kursi plastik yang ada di dekat ranjang pasien. Kamar rawat Dahlia memang hanya kamar rawat biasa, yang bahkan satu ruangan bisa di isi tiga pasien. Tapi karena sedang tidak ada pasien lain, tempat tidur pasien lain pun kosong.


"Aku tidak mau menyusahkan mu mas. Aku takut mbak Susan tidak mengijinkan mu membayar biaya rumah sakit ibuku. Uangku hanya cukup untuk membayar ruangan seperti ini, jadi...!"


Hadi begitu sedih mendengar apa yang dikatakan Rosa. Hadi langsung menggenggam tangan istri yang baru di nikahi nya dalam hitungan hari itu.


"Rosa, kamu istriku. Kenapa bilang begitu? aku akan pindahkan ibumu ke ruangan yang lebih bagus ya?" tanya Hadi.


Namun dengan cepat Rosa menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah mas, di sini saja sudah cukup. Dokter juga bilang, besok ibu sudah boleh pulang. Tapi mas, apa mbak Susan baik-baik saja? bagaimana dengan anak mu mas? dia tidak apa-apa kan?" tanya Rosa mencoba menarik simpati Hadi lebih lagi.


Hadi pun menepuk tangan istrinya itu.


"Anak ku baik-baik saja, Susan juga. Tapi inilah yang aku ingin bicarakan denganmu!" seru Hadi membuat Rosa merubah ekspresi wajah nya menjadi sangat cemas.


Hadi bisa melihat kecemasan Rosa itu.


"Mbak Susan minta mas Hadi menceraikan aku ya?" tanya Rosa dengan suara serak terdengar sangat sedih.


Mata Rosa bahkan sudah berkaca-kaca. Hadi hanya bisa menghela nafasnya panjang. Tapi sebelum Hadi bicara, Rosa kembali berkata.


"Aku tidak apa-apa mas, lagipula aku memang tidak seharusnya ada dalam kehidupan kalian! meskipun sekarang aku rasanya sudah tidak bisa hidup tanpa mas Hadi, tapi aku akan menerima semua keputusan mas Hadi" Rosa berkata dengan air mata yang sudah berlinangan. Dua juga menarik tangannya dan memalingkan wajahnya dari Hadi. Benar-benar akting yang luar biasa.


'Ternyata semua yang di duga mas Safar benar, baguslah. Jadi aku tahu apa yang harus aku katakan dan lakukan!' batin Rosa.


Hadi sampai tak bisa berkata-kata. Rosa yang di sampingnya ini benar-benar persis seperti Susan yang satu tahun lalu. Sangat pengertian, dan mengalah. Dulu Susan juga begitu, setelah Hadi resmi menjadikannya kekasih gelapnya di belakang Sila. Susan tidak pernah menuntut apapun pada Hadi, dia bahkan selalu mengalah kalau ada janji tapi Hadi harus membatalkan nya karena Sila atau Mika. Hadi memang lemah terhadap wanita semacam itu, pada wanita yang menyanjungnya dan mengandalkan nya dalam segala hal.


"Rosa, maukah kamu membantuku. Aku tidak akan menceraikan mu. Tapi maukah kamu membantuku?" tanya Hadi pada Rosa.


Rosa langsung menoleh ke arah Hadi lagi.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk mu mas? jika aku bisa, aku pasti akan melakukan nya!" jawab Rosa membuat Hadi jadi besar hati.


"Aku akan katakan pada Susan, aku sudah menceraikan mu. Hanya sampai dia sembuh dan kondisinya normal. Setelah itu aku akan jelaskan semuanya padanya!" ucap Hadi yang sudah tak punya cara lain menghadapi masalah pribadinya kali ini.


Rosa pun mengangguk setuju, Hadi sangat senang. Dia lalu memeluk Rosa karena senangnya.


'Persis, seperti kata mas Safar. Baiklah Susan, kamu sekarang mungkin akan tersenyum senang karena mas Hadi akan datang padamu dan mengatakan telah menceraikan aku, tapi setelah tahu jika suamimu membohongimu dan tidak menceraikan ku, kamu bukan hanya akan pendarahan. Aku rasa kamu juga akan struk!' batin Rosa.


***


Bersambung...