Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 268


Keesokan harinya...


Setelah selesai sarapan, Sila pun mengambilkan tas Dave dari ruang kerjanya. Dave sedang berbincang dengan Mika di ruang tamu.


"Jangan lupa berikan surat ku pada papa ya Daddy!" ucap Mika mengingatkan Dave lagi agar tidak lupa untuk memberikan suratnya pada Hadi.


Dave mencubit kecil hidung Mika.


"Sayangnya Daddy tenang saja, Daddy tidak akan lupa!" jawab Dave sambil mencium pipi tembem Mika.


"Mas, ini tas mu!" ucap Sila memberikan tas kerja Dave pada suaminya.


"Mika, Daddy berangkat kerja dulu ya. Baik-baik sama mama di salon nanti!" ucap Dave dan Mika pun mengangguk patuh.


Dave lalu keluar dari apartemen dan menarik tangan Sila. Di luar ada Oman yang sedang menunggu Dave. Dave lalu memberikan tas kerjanya pada Oman dan meminta Oman turun ke basemen duluan.


Sila hanya tersenyum, karena sebenarnya sejak tadi Dave sudah berusaha untuk mendekati Sila. Namun Mika terus menempel pada Dave.


"Sayang, jangan senyum-senyum begitu. Sepertinya kita juga harus ikut honeymoon bersama kak Randy dan Karina!" ujar Dave dan Sila makin terkekeh.


Dave langsung mengungkung Sila dengan kedua tangannya hingga Sila bersandar di pintu apartemen nya yang sudah tertutup.


"Mas, kita di luar loh! kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Sila yang tidak enak kalau sampai ada yang melihat apa yang Dave lakukan ini.


Tapi Dave seperti sengaja tidak mau mendengar dan segera mendaratkan ciuman mesra di bibir Sila.


Satu detik... dua detik... tiga detik...


Sila mendorong Dave karena dia sudah kehabisan nafas.


"Mas... !"


Dave malah tersenyum.


"Kalau saja aku tidak ada meeting penting, aku pasti akan menarik mu ke kamar!"


Wajah Sila merona merah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Aku berangkat kerja dulu ya, aku akan menjemputmu setelah makan siang dari rumah ibu!" ucap Dave, dan Sila hanya mengangguk sambil masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


Dave kembali mendaratkan kecupan mesra di kening Sila.


"Aku mencintaimu!" ucap Dave yang langsung beranjak dari sana. Karena kalau dia masih terus di sana, dia pasti akan terlambat bekerja.


Sila pun kembali masuk ke dalam apartemen. Lalu mengajak Mika dan Diah ke apartemen Karina.


Setibanya di apartemen Karina, Karina juga sudah siap. Tapi mereka harus menunggu Oman dulu yang sedang mengantarkan Dave pergi ke kantor.


Diah menemani Mika menonton film kartun di rumah televisi sambil menunggu Oman datang. Dan Sila menemani Karina yang sedang membereskan dapurnya.


"Jadi bibi Lina tidak jadi ikut dengan kalian?" tanya Sila.


"Iya, ibu tidak ikut. Ibu dan Bu RT juga ingin membuat makanan dan beberapa cenderamata untuk keluarga Randy. Aku bersyukur ibu Davina mengerti. Mereka akan menjemput ibu satu hari sebelum pernikahan!" jelas Karina menjawab pertanyaan Sila.


Karina pun duduk di samping Sila ketika pekerjaannya sudah selesai.


"Sila, aku akan katakan ini padamu. Sebenarnya aku masih takut jika Randy dekat denganku!" ucap Karina pelan.


Sila pun terdiam, dia berpikir itu merupakan hal yang wajar. Mengingat dulu Randy memang pernah hampir melecehkan nya saat masih bekerja di kantor Riyanti.


"Semalam dia... !" Karina menjeda kalimatnya.


"Dia kenapa?" tanya Sila penasaran.


"Semalam dia mencoba untuk memelukku dan menempelkan dagunya di bahu ku. Tapi hanya seperti itu saja, aku benar-benar merinding di buatnya. Aku takut kalau aku benar-benar tidak bisa... maksud ku pernikahan kami tinggal lusa. Tapi aku takut saat malam pertama kami, aku takut dan tidak bisa menjalankan kewajiban ku dengan baik!" jelas Karina yang akhirnya bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam perasaan nya.


Sila tersenyum dan memegang tangan Karina. Menepuk punggung tangan sahabatnya itu perlahan.


"Karina, jika Randy mencintai mu dia pasti akan sabar menunggu sampai kamu siap. Tapi saran ku sebagai seorang sahabat, jika kita sudah menjadi seorang istri kita harus sebaik mungkin melayani suami kita. Mau sedang lelah, mau kita sedang tidak ingin, tapi hal itu merupakan kewajiban. Menerima satu sentuhan dari suami itu merupakan pahala untuk kita!" jelas Sila.


Karina pun mengangguk paham.


"Mungkin kejadian semalam itu hanya proteksi dirimu saja Karina. Karena memang kamu merasa harus melindungi diri dan harga dirimu karena kamu memang belum resmi menikah dengan Randy. Mungkin nanti kalau sudah menikah, dengan sendirinya kamu akan merasa aman di dekat Randy dan bisa menerima semua sentuhannya! karena kalian sudah sah!" tambah Sila lagi.


Karina pun mengangguk kembali dan merangkul Sila.


"Terimakasih ya, rasanya lebih lega setelah mengatakan ini semua padamu!" ujar Karina.


Tak lama kemudian, kurang dari satu jam tepatnya. Oman sudah kembali untuk menjemput Sila, Karina, Diah dan Mika untuk ke salon. Mereka akan mengepaskan pakaian dan juga melakukan perawatan kulit dan wajah agar terlihat kinclong saat pesta pernikahan Randy dan Karina lusa.


Setibanya di salon, Davina dan Shafa juga sudah berada di sana. Shafa langsung berlari ketika melihat Mika yang di gandeng oleh Sila.


Shafa langsung memeluk Mika dan berjongkok di depan Mika.


"Hai my sweet baby bala bala. Aunty sangat rindu padamu. Sini biar aunty menggendong mu!" ucap Shafa yang langsung menggendong Mika.


"Sekarang ikut aunty ya, aunty akan tunjukkan baju cantik mu!" ucap Shafa yang langsung berjalan masuk ke dalam butik.


Sedangkan Davina langsung menghampiri Sila, merangkulnya lalu cipika-cipiki dengan menantunya itu.


"Bagaimana perjalanan kalian, bagaimana dengan kandungan mu Sila?" tanya Davina.


"Baik Bu, semuanya lancar!" jawab Sila.


"Sudah mau lima bulan kan, sudah di USG belum? ibu penasaran sekali, cucu ibu ini perempuan atau laki-laki ya?" tanya Davina yang terlihat sangat penasaran sambil tersenyum dengan begitu riang.


"Belum Bu, mungkin pada pemeriksaan rutin bulan ini!" jawab Sila.


"Nanti periksa nya sama ibu saja ya, Sila!" ucap Davina dengan penuh harap.


Sila pun mengangguk setuju.


"Bagus, ayo kita masuk. Ayo Karina!" ajak Davina.


Mereka pun akhirnya mencoba baju pesanan yang sudah jadi. Semuanya pas dan cocok dengan ukuran tubuh mereka masing-masing. Setelah itu mereka pun di suguhkan makanan dan minuman. Seorang perempuan cantik datang menghampiri mereka.


"Selamat pagi Tante Davina, bagaimana? apakah semua pakaian nya sudah sesuai dengan design yang Tante pilih?" tanya wanita cantik nan anggun itu.


"Hai Resa, iya sayang. Kamu memang sangat berbakat. Semuanya bagus dan sangat pas!" jawab Davina sambil memeluk Resa dan cipika-cipiki padanya.


Shafa yang merasa familiar tapi lupa akan perempuan yang di puji ibunya itu pun bertanya.


"Bu, siapa dia?" tanya Shafa pelan sambil meraih jus jeruk yang ada di atas meja pada Davina yang sudah kembali duduk di samping Shafa.


"Ini Resa, anaknya Tante Walida. Pemilik butik ini. Ibu ada rencana menjodohkan nya dengan Joseph...!"


"Uhukk uhukk!"


Shafa tersedak jus jeruk yang dia minum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Davina.


Shafa kemudian melirik Resa dari atas sampai ke bawah.


'Haih, gepeng begitu mau jadi sainganku. Jangan mimpi!' ujar Shafa dalam hatinya begitu percaya diri.


***


Bersambung...