
Sila bahkan sampai terbengong setelah melihat sekilas apa yang ada di layar LED besar itu. Rasanya sangat tidak percaya kalau itu adalah Hadi Tama, pria yang dia kenal tujuh tahun yang lalu. Yang memberikannya kesempatan untuk bisa ujian tepat waktu. Pria baik yang dia kenal di halte bus saat hujan deras dengan wajah yang terlihat begitu sedih karena baru di tinggal menikah oleh mantan kekasihnya.
Ayah dari anaknya, yang selama ini selalu terlihat sederhana dan baik hati. Seorang yang pernah menjadi suaminya, dan selalu menunggu serta memasakkan makanan untuknya kalau dia lembur di tempat kerja. Sila rasanya sangat tidak percaya. Pria itu bisa melakukan hal itu di tempat umum, dengan wanita malam yang tidak jelas. Sila kira dia selingkuh dengan Susan, karena Susan memang cinta pertama dari Hadi. Dan Hadi masih belum move on dari Susan, dia tidak menyangka jika dirinya ternyata memang tidak mengenal siapa itu Hadi Tama. Sila benar-benar tidak mengenal sifatnya selama ini, dia terlalu buta pada kebaikan seorang Hadi Tama.
Mata Sila berkaca-kaca, dia menoleh ke arah Haris. Satu-satunya orang yang dia perdulikan saat ini dari keluarga Hadi. Sila tambah sedih ketika melihat pria paruh baya itu tertunduk malu dan seperti tak punya muka lagi untuk melihat dan bicara pada siapapun.
Susan masih menggenggam erat pegangan kursi, semakin dia melihat ke arah layar LED itu semakin dia kesal dan semakin hatinya sakit. Dia menunggu Hadi menoleh ke arahnya, tapi Hadi tak juga melakukan hal itu.
Dan bagaimana mungkin juga Hadi menoleh ke arah Susan. Dia tidak akan melakukan itu karena Hadi sudah yakin kalau Susan pasti sangat marah padanya. Hadi diam dan berpikir, dia sama sekali tidak ingin hak asuh Mika darinya.
Dengan harapan terakhir bisa mendapatkan kesempatan, dia langsung mengangkat tangannya.
"Pak hakim, saya mau mengajukan pembelaan!" kata Hadi yang langsung mendapatkan perhatian dari semua orang.
Dari arah belakang, tepatnya di tempat Niken duduk dia kembali mencibir mantan adik iparnya itu.
"Ih, dasar tidak tahu malu. Bukti sudah terpampang di depan mata masih saja mau berkelit!" keluh Niken yang memang sangat kesal karena Hadi masih mau membela dirinya.
Murti langsung melihat ke arah Niken. Bagaimana pun juga kecewanya dia pada Hadi. Hadi tetaplah anaknya, dia harus membelanya.
"Diam kamu, siapa yang minta kamu bicara?" tanya Murti kesal.
Niken sudah akan membalas perkataan Murti, tapi baru Niken mau mengambil ancang-ancang. Tini sudah memegang tangannya dan menepuknya perlahan.
"Nak, jangan buat keributan. Sudah ya!" bisik Tini pelan pada menantunya itu.
Niken hanya bisa mengangguk menuruti perkataan sang ibu mertua. Tapi Niken tetap menatap tajam ke arah Susan dan Murti yang juga melihat Niken dengan penuh emosi. Benar kata salah seorang komentator di novel ini, ada kilatan petir saat mata Niken dan juga Susan serta Murti bertemu.
Kembali kepada Hadi, setelah semua juri dan hakim berdiskusi akhirnya hakim ketua pun bicara.
"Silahkan pihak termohon mengajukan pembelaan!" ucap hakim ketua itu dengan tegas.
"Pak hakim, itu memang benar saya. Tapi saya adalah seorang duda, bukankah hal wajar kalau seorang pria dewasa butuh wanita untuk pelampiasannya!" jelas Hadi mengawali pembelaannya.
Dan apa yang dikatakan Hadi itu membuat Susan semakin geram.
'Dasar laki-laki sia*lan! dia bilang apa? butuh pelampiasan? lalu aku ini apa? dia bahkan hanya bertahan dua ronde saja setiap kalinya. Berlagak butuh pelampiasan lain. Dasar laki-laki breng*sek!' kesal Susan.
Sila benar-benar hilang respect total pada sosok Hadi Tama yang dulu sangat dia banggakan dan hormati.
Tini dan Prio Utomo juga menghela nafas mereka berat. Prio Utomo juga menoleh sekilas ke arah Haris yang memang sangat dia hormati karena Haris juga sangat menghormatinya. Kenangan kedua mertua itu ada saat pesta khitanan Dion, anak pertama Bima dulu. Haris datang jauh-jauh sendirian untuk menghadiri pesta khitanan Dion, bahkan dia menemani Prio Utomo begadang semalam suntuk karena memang harus menjaga segala peralatan dan perlengkapan pesta kala itu. Mereka banyak bercerita dan mengobrol, sejak saat itu hubungan mereka sangat baik. Hingga Prio Utomo mengerti betul apa yang dirasakan oleh Haris, yang sejak tadi benar-benar tidak sekalipun mengangkat kepalanya setelah melihat apa yang ada di layar LED itu.
Jeremy Darrow sudah mengira kalau Hadi Tama akan mengatakan hal itu, itulah kenapa bukti pertama yang dia tunjukkan ada hakim adalah rekaman itu. Melihat Jeremy Darrow tetap diam dan tenang Hadi semakin bersemangat membela dirinya.
"Sesuai tanggal dan jam yang ada di rekaman itu, itu saya lakukan setelah saya bercerai dengan Sila, bahkan jauh sekali setelah itu. Tapi Sila...!" Hadi langsung menoleh ke arah Sila.
Sila tetap tenang meski namanya di sebutkan. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Hadi. Tapi seperti kata Dave, Sila tidak perlu cemas tentang apapun yang terjadi. Karena Dave dan Jeremy Darrow akan mengatasi semuanya. Sila hanya perlu duduk tenang saja di sana.
"Dia berselingkuh dan tidur dengan laki-laki lain bahkan sebelum kami bercerai, dia selingkuh dan melakukan perbuatan hina itu saat kami masih terikat pernikahan. Saya mohon pak hakim, seharusnya hak asuh anak kami tidak jatuh pada Sila, dia bukan ibu yang baik. Bahkan sudah jelas kalau kami juga sudah memiliki surat perjanjian pernikahan yang isinya kalau salah satu dari kami selingkuh maka hak asuh Mika secara otomatis akan hilang dari orang tersebut!" jelas Hadi mengeluarkan pembelaan untuk dirinya panjang lebar.
Tini sekarang yang malah tidak tenang mendengar anaknya terus di hina. Tapi Dave langsung mengatakan pada ayah mertuanya.
"Ayah, minta ibu untuk tenang. Semua akan baik-baik saja!" ucap Dave dan Prio Utomo pun menganggukkan kepala tanda dia paham maksud Dave.
Prio Utomo lalu menepuk punggung tangan Tini yang terkepal.
"Tenang Bu, semua akan baik-baik saja!" ucap Prio Utomo yang membuat Tini menghela nafasnya panjang.
"Jadi saya mohon pak hakim, Sila sama sekali tidak pantas mendapatkan hak asuh anak kami. Dia tidak akan mendidik anak kami dengan benar!" tambah Hadi.
"Interupsi pak Hakim!" ucap Jeremy Darrow yang langsung berdiri lagi dari kursinya.
"Interupsi di terima, silahkan tuan Darrow!" jawab hakim ketua.
"Termohon mengatakan kalau klien saya selingkuh, tapi termohon sepertinya lupa, atau mungkin pura-pura lupa, siapa yang sudah menjebak klien saya!" ucap Jeremy Darrow yang kembali menyerahkan sebuah flashdisk pada panitia persidangan.
Hadi begitu terkejut sampai tak sadar dia bahkan telah berdiri dari duduknya.
***
Bersambung...