
Semuanya terdiam, membuat suasana di ruang tamu itu jadi tampak canggung sekali. Tapi Bima yang melihat kejujuran yang diucapkan Dave merasa kalau memang Dave itu sebenarnya lebih baik dari Hadi. Setidaknya dia punya Myshopobia, seperti yang dikatakan nya hanya saat bersentuhan dengan Sila dia tidak merasa jijik. Dan hal itu membuat Bima berpikir, kalau Dave tidak akan pernah melakukan apa yang Hadi lakukan pada Sila. Dave tidak mungkin selingkuh, karena dia tidak mungkin menyentuh wanita lain.
Hal yang sama juga di pikirkan oleh Tini, di tambah lagi sikap Dave yang begitu baik dan menghormati seluruh anggota keluarga Sila. Dave sangat baik, dan Tini yakin kalau Dave akan bisa membantu Sila mendapatkan hak asuh atas Mika.
Tapi lepas dari semua hal itu, Dave sungguh bertanggung jawab, dia bahkan mencari Sila, dan begitu dia bertemu Sila, dia membantunya tanpa pamrih, bahkan menikahinya.
Namun semua rasa kagum dan rasa maklum yang dipikirkan oleh Tini dan Bima, berbeda dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Prio Utomo. Kepala rumah tangga yang sudah mengemban tanggung jawab sebagai ayah Sila itu merasa kalau putrinya dan Dave itu ibarat langit dan bumi.
Pertemuan mereka itu tidak lebih dari sebuah anugerah. Tapi keberuntungan dan anugerah itu tidak akan berlangsung selamanya. Dave Hendrawan adalah CEO perusahaan besar, dengan kehidupan jelas atas. Di lingkungan orang-orang yang terhormat.
Sedangkan Sila, putri Prio Utomo hanya seorang wanita biasa yang pernah menjadi janda dengan satu anak yang bahkan pernah di jebak dan si talak oleh suaminya. Prio Utomo merasa putrinya tidak pantas bersanding dengan seorang Dave Hendrawan. Anggap saja semua itu tidak masalah bagi Dave, tapi apa semua hal itu juga tidak masalah bagi keluarga Hendrawan. Prio Utomo sangsi akan hal tersebut. Prio Utomo lantas menghela nafas panjang, dan berkata.
"Benar kalian sudah menikah?" tanya Prio Utomo yang langsung mengarahkan pandangannya lurus ke arah depan. Karena Dave memang tepat duduk di hadapannya.
Dave pun mengangguk yakin.
"Iya pak, kamu sudah menikah. Satu bulan setelah Sila resmi bercerai dengan mantan suaminya!" jawab Dave.
"Apa kedua orang tua mu, atau keluargamu yang lain tahu kalau kamu sudah menikah dengan Sila?" tanya Prio Utomo yang membuat raut wajah yakin Dave perlahan berganti menjadi datar.
Dan beberapa saat semua kembali terdiam, suasana pun kembali hening. Prio Utomo yang sudah mendapatkan jawaban atas diamnya Dave kembali menghela nafas panjang.
"Apa tujuan mu menikahi Sila?" tanya Prio Utomo lagi.
Dan Dave langsung mengangkat kembali kepalanya, ekspresi yakin itu pun kembali terlihat di wajah tampan Dave.
"Aku ingin melindungi dan membahagiakan Sila, pak Prio!" jawab Dave dengan mantap.
Sila sangat terharu dengan jawaban Dave. Begitu pula dengan Tini yang terlihat tersenyum meski sangat tipis dan nyaris tidak terlihat.
Prio Utomo kembali menghela nafas panjang.
"Lalu kenapa kalian menyembunyikan pernikahan kalian ini?" tanya Prio Utomo.
"Tiga hari lagi pak, tiga hari aku akan mengumumkan kepada keluarga ku kalau Sila adalah istriku. Setelah hak asuh Mika secara mutlak jatuh pada Sila!" ucap Dave yang begitu bersemangat mejelaskan kalau dirinya hanya butuh waktu sampai Sila mendapatkan hak asuh Mika dan setelah itu dia akan mengatakan tentang pernikahan nya pada keluarganya.
Prio Utomo sebenarnya merasa sangat lega, mata pria paruh baya itu memancarkan rasa syukur karena setelah semua yang di derita putrinya, dia bertemu dengan Dave. Yang jelas terlihat juga memperjuangkan hak asuh Mika untuk Sila, yang artinya dia memang tidak hanya perduli pada Sila tapi juga pada Mika, dan terlebih lagi dia sudah jelas sangat perduli pada Prio Utomo. Karena sudah melunasi hutangnya pada Baron Cs dan merawatnya dengan fasilitas terbaik di rumah sakit.
Prio Utomo merasa kalau tidak akan ada lagi pria yang lebih baik dari Dave untuk Sila.
"Terimakasih banyak nak Dave, kami sangat percaya padamu!" ucap Tini yang sejak tadi melihat ekspresi sang suami.
Tini tahu, kalau suaminya awalnya memang sempat ragu. Tapi begitu mendengar semua penjelasan Dave, Tini juga tahu kalau suaminya mulai dapat menerima kenyataan kalau sekarang memang Dave adalah menantu mereka.
Meskipun Oman juga masih cemas akan di terima tidaknya Sila nanti di keluarga Hendrawan. Apalagi oleh Davina, yang jelas-jelas sudah memiliki calon menantu pilihannya sendiri untuk Dave.
Tak berselang lama pun, Niken yang merasa kalau suasana sudah kembali tenang dan hangat pun segera keluar dari ruang tengah.
"Semuanya, makan malam sudah siap. Mari kita makan malam bersama!" ucapnya dengan senyuman yang terlihat sangat lebar.
Dia tahu kalau Dave sudah di terima di keluarga ini, dan menurut Niken itu adalah hal yang luar biasa. Seorang CEO terkenal di kota ini adalah adik iparnya.
Bima yang sejak tadi memperhatikan keceriaan istrinya pun berkata.
"Dek, jaman senyam-senyum terus. Aku jadi ngeri!" celetuk Bima membuat Niken melotot pada Bima.
"Kenapa? mas mau bilang aku tidak waras lagi. Coba mas bilang seperti itu lagi, aku akan tidur di kamar Tasya, biar mas Bima tidur sama nyamuk!" balas Niken yang langsung mendahului nya gak menyusul Sila dan ibunya yang sudah lebih dulu berjalan bersama Dave, Prio Utomo dan juga Oman ke rumah makan.
Bima langsung mengusap kepalanya gusar.
"Hais, aku kan hanya takut dia di anggap tidak waras karena senyum-senyum sendiri. Kenapa malah dia marah padaku!" gerutu Bima yang kemudian mengikuti langkah Niken dan yang lain menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Sementara itu di rumah Hadi Tama, semua orang yang awalnya datang untuk menghadiri perayaan dan memberikan selamat atas kenaikan jabatan Hadi malah jadi ribut satu sama lain.
Hal itu berawal dari celetuk ibu muda yang sejak tadi memprotes tingkah laku Susan yang benar-benar seperti nyonya rumah. Padahal dia belum resmi menikah dengan Hadi.
"Oh jadi mereka belum menikah? kok tinggal satu rumah sih? gak benar ini!" ucap salah seorang ibu yang sudah berumur.
"Bu RT, gimana ini. Masa iya kita biarkan ada warga yang belum menikah malah tinggal di satu rumah?" tanya ibu lain.
Bu RT Linda langsung menegur Murti.
"Bu Murti, tolong ya Bu. Ini sudah meresahkan warga, sebaiknya bilang sama putra ibu untuk cepat menikahi wanita itu, atau jika tidak maka wanita itu tidak boleh tinggal serumah dengan putra ibu!" ucap Linda pada Murti.
Murti yang awalnya ingin membanggakan anaknya malah jadi salah tingkah karena kelakuan Susan.
'Huh, daripada menyuruhnya cepat menikah dengan perempuan sombong itu, lebih baik aku mengusirnya dari sini!' batin Murti yang memang sudah sangat jengah dengan kelakuan Susan.
"Susan, kamu dengarkan kata ibu-ibu tadi. Cepat kemasi barang-barang mu dan pergi dari rumah ini!" tegas Murti.
***
Bersambung...