
"Sila, apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Hadi menyela ucapan Sila.
Sila berhenti bicara tapi pandangannya tidak beralih dari note kecil yang sedang dia pegang dengan erat.
'Kamu bertanya seperti itu? apa kamu masih punya hati mas? bagaimana mungkin hubungan yang di jalin selama 7 tahun bisa dilupakan hanya dalam 7 minggu. Meskipun begitu sekarang aku adalah seorang wanita yang bersuami, aku tidak akan seperti mu yang bisa menaruh nama wanita lain di sisi lain hatimu!' batin Sila yang sebenarnya sangat gugup.
Sila tidak ingin menanggapi pertanyaan dari Hadi, dia memilih untuk melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan tadi.
"Tuan Dave tidak suka pada segala sesuatu yang tidak rapi, sebaiknya gunakan semua peralatan makan yang berwarna putih bersih...!"
Hadi kecewa karena Sila malah tidak menjawab pertanyaan nya dan malah melanjutkan apa yang ingin dia jelaskan.
"Sila, apa kamu tidak mendengar ku?" tanya Hadi lagi dan kali ini dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Sila menghela nafasnya.
"Saya tidak tuli tuan Hadi, tapi saya disini untuk bekerja. Untuk menjelaskan semua yang disukai dan tidak disukai oleh tuan Dave. Bukankah itu yang anda tanyakan tadi pada tuan Dave?" tanya Sila balik. Tapi dia masih tetap tidak melihat ke arah Hadi. Sila hanya fokus pada note kecil yang ada di tangannya.
"Lihat aku Sila, dan katakan kalau kamu sudah melupakan aku?" kali ini Hadi berdiri dan berjalan mendekat ke arah sofa yang Sila duduki.
"Berhenti di situ tuan Hadi!" bentak Sila yang langsung berdiri dan mengangkat tangannya menahan Hadi agar tidak maju lagi.
Hadi langsung berhenti, dia begitu terkejut melihat perubahan besar pada sikap Sila. Sila yang dia kenal dulu tidak pernah membentak Hadi, tidak sekali pun.
Sila langsung melihat ke arah Hadi yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Sebaiknya jaga sikap anda, atau saya tidak akan menjelaskan apa saja yang seharusnya anda tahu agar tuan Dave bisa nyaman saat berada di tempat anda nanti!" tegas Sila dengan sedikit gertakan pada Hadi.
Sila memang terdengar tegas tapi dia terus mengepalkan tangan kirinya dan sesekali dia menggenggam erat ujung blazer bagian belakangnya karena merasa sangat gugup menghadapi Hadi.
Sila yakin kalau Hadi berada di dekatnya dan menatapnya dari dekat, Sila akan lemah. Karena itu dia sengaja menghentikan Hadi sebelum bisa mendekatinya. 7 tahun bukan waktu yang singkat, menatap wajahnya setiap hari, mendengar suaranya setiap hari, kadang tertawa dan sedih bersama membuat perasaan itu begitu tidak mudah untuk di lepaskan begitu saja meskipun telah disakiti, tapi tetap saja Hadi pernah memberikannya banyak hal yang membuatnya tersenyum juga.
Hadi terlihat menghela nafas agak berat, dia tidak menyangka kalau wanita yang dulu dia kenal sangat patuh bisa menjadi wanita yang dingin dan terus membantahnya.
Hadi mundur dan berjalan kembali ke dekat sofa yang tadi dia tinggalkan. Jadi berusaha untuk tenang dan juga kembali duduk. Meski dia terus mengepalkan tangannya dia berusaha untuk tenang.
"Baik, baiklah. Katakan!" ucap Hadi yang menyerah untuk kali ini.
Sila menghela nafas lega, lalu kembali dia duduk dan menjelaskan apa yang ada di note kecilnya itu pada Hadi. Setelah Sila menjelaskan semuanya dia menutup kembali note kecil nya itu dan menyimpannya di tasnya lagi.
"Jadi sebelum pukul delapan kami akan tiba disana, tuan Dave sangat tepat waktu sebaiknya semua sudah di sanitasi saat dia datang! terimakasih dan selamat siang!" ucap Sila lalu meraih tasnya dan berdiri, bersiap meninggalkan ruangan ini.
"Bagaimana kalau alamat nya ku kirimkan padamu saja, kamu yang akan datang bersama tuan Dave bukan?" tanya Hadi yang berusaha menghentikan langkah Sila saat hendak keluar dari ruangan itu.
"Maaf, tapi kami sekertaris tuan Dave sudah punya tugas masing-masing. Seperti yang di katakan tuan Dave tadi, anda bisa mengirimkan alamatnya pada Anita!" jawab Sila lalu kembali melangkah keluar.
"Kenapa nomer mu tidak bisa di hubungi?" tanya Hadi kembali membuat langkah Sila berhenti.
"Bukan urusan anda lagi tuan Hadi!" jawab Sila.
Saat Sila akan keluar, Susan sudah kembali dari toilet dan langsung menggelayut manja di lengan Hadi.
Sila berpura-pura tidak melihat dan mendengar Susan dan memilih untuk meninggalkan tempat itu. Hadi terlihat kecewa saat Sila pergi, dia melihat ke arah punggung Sila yang sudah keluar dari ruangan itu lalu beralih ke Susan.
"Sayang, kamu tidak tertarik padanya lagi setelah melihatnya kan?" tanya Susan yang menempelkan dadanya di lengan Hadi.
Hadi hanya diam, untuk sekejap tadi dia memang begitu terpesona pada Sila yang terlihat lebih cantik dan elegan. Namun saat dia mengingat bagaimana Susan mampu memuaskannya di tempat tidur, Hadi kembali memeluk Susan dan langsung menciumnya.
Susan merasa sangat puas ketika Hadi menunjukkan perasaan nya pada Susan.
'Heh, perempuan itu mau bagaimana juga tidak akan bisa di bandingkan dengan aku!' batin Susan begitu percaya diri.
Sila yang sudah keluar dari ruangan itu langsung menekan dadanya dengan kuat. Susan sepertinya sengaja membiarkannya mendengar suaranya yang mende*sah saat Hadi mencumbunya.
Dan hal itu membuat hati Sila masih terasa sakit. Meskipun dia memang sudah tidak punya hubungan apapun dengan Hadi, tapi kenangan saat dirinya, Hadi dan Mika bersama langsung terlintas begitu saja tanpa bisa di kendalikan oleh Sila. Hatinya kembali terasa perih. Tanpa terasa setitik air mata pun menetes dari sudut mata Sila. Menyadari itu Sila langsung menyekanya.
"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat!" gumam Sila berusaha membuatnya kuat dan menyemangati dirinya sendiri.
Setelah menghela nafas beberapa kali dan merasa sudah cukup tenang, Sila langsung berjalan ke arah lobby hotel. Dan benar saja, Joseph sedang menunggunya disana.
"Joseph!" panggil Sila.
Joseph pun sedikit membungkuk kan tubuhnya.
"Silahkan nona, tuan sudah menunggu di mobil!" ucap Joseph yang mempersilahkan Sila jalan terlebih dulu.
Sila pun melangkah ke arah yang ditunjukkan oleh Joseph. Setelah berada dekat mobil, Joseph dengan cepat membukakan pintu untuk Sila.
"Terimakasih Joseph!" ucap Sila sopan.
Joseph kembali menutup pintu lalu masuk ke dalam mobil di bagian penumpang bagian depan.
"Jalan!" seru Dave dingin.
Saat Sila masuk ke dalam mobil sebenarnya dia sudah merasa kalau Dave terlihat berbeda. Kembali pada mode dingin dan pendiam.
'Ada apa dengan tuan Dave, kenapa sejak aku masuk ke dalam mobil dia terus mendiamkan aku. Apa pekerjaan ku ada yang salah ya?' tanya Sila dalam hati.
"Saat aku tidak bicara atau bertanya padamu, apa kamu tidak punya inisiatif untuk bertanya atau bicara lebih dulu?" tanya Dave membuat Sila terkesiap.
Sila merasa bingung, dia lalu melihat ke arah spion depan yang menunjukkan Joseph sedang menahan tawa. Sila menaikkan alisnya ketika Joseph melihat ke arahnya dari spion depan, Sila seperti sedang bertanya pada Joseph.
'Apa maksudnya?'
'Ya ampun nona, apa anda tidak mengerti kalau tuan sedang cemburu!' batin Joseph.
***
Bersambung...