
Lima menit berlalu dan Dave masih belum melepaskan pandangannya yang tajam pada Sila.
Deg deg deg
Sila menjadi salah tingkah, sebenarnya dia ingin menyapa duluan tapi dia takut kalau Dave akan semakin marah. Alhasil Sila hanya diam sambil memegang ujung roknya dengan perasaan yang tak karuan. Benar-benar seperti kelinci yang sedang berhadapan langsung dengan serigala. Sangat menegangkan.
Tapi kemudian Sila ingat pada apa yang dulu pernah dikatakan Dave. Kalau dirinya harus lebih berinisiatif untuk mengajak Dave bicara kalau Dave sedang diam. Sila pun menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Sila memberanikan dirinya melihat ke arah Dave yang ternyata masih melihatnya dengan tatapan yang sama seperti lima menit yang lalu saat mereka baru meninggalkan daerah rumah kontrakan Karina.
"Tu.. tuan. Semalam...!"
"Jadi sudah tahu salah?" tanya Dave menyela ucapan Sila.
Sila langsung kembali menundukkan kepalanya.
'Ternyata benar, tuan Dave memang marah masalah semalam aku tidak menghubungi nya. Kenapa juga aku bisa lupa!' gumam Sila dalam hatinya menyalahkan dirinya sendiri yang sampai lupa tidak menghubungi Dave.
Karena Dave sudah bicara seperti itu, Sila pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Jadi?" tanya Dave singkat dan tegas.
Mendengar pertanyaan Dave itu Sila langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dave dengan tatapan bingung.
'Jadi? maksudnya apa?' tanya Sila dalam hati.
Dia ingin sekali bertanya seperti itu tapi dia takut salah lagi.
"Ck... Sila kamu tahu tidak aku sampai tidak tidur menunggumu menelpon ku. Apa kamu tidak lihat ada kantung di bawah mataku?" tanya Dave uang mendekatkan wajahnya ke arah Sila.
Sila juga dapat melihatnya, mata Dave memang agak merah.
'Kasihan sekali tuan Dave, bodohnya aku! kenapa aku sampai lupa menghubungi nya. Padahal aku sudah bilang iya!' Sila merutuki kesalahan nya dalam hati.
Tangan Sila pun terangkat dengan sendirinya secara refleks menyentuh wajah Dave yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Maafkan aku tuan, aku sudah tahu salah. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana caranya untuk menebus kesalahan ku itu?" tanya Sila dengan lembut.
Kali ini Sila berkata seperti itu bukan untuk merayu Dave semata, tapi memang tulis dari dalam hatinya. Sila merasa bersalah dan akan menanggung konsekuensi atas kesalahannya.
Merasakan ucapan dan sentuhan tulus dari istrinya itu. Dave pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
"Bagaimana kalau menemaniku sarapan?" tanya Dave dengan tatapan yang membuat Sila agak merinding.
'Sarapan? apa dia belum sarapan?' tanya Sila dalam hati.
"Baiklah tuan, aku akan menemanimu sarapan!" ucap Sila dengan lembut.
Saat Sila akan melepaskan tangannya dari wajah Dave, Dave menahan tangan Sila itu.
"Aku sangat menyukai sentuhan mu...!" ucap Dave lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sila.
"Lain kali sentuh lah di tempat lain!" bisik Dave yang langsung membuat wajah dan telinga Sila menjadi merah karena merasa ada yang berdesir dalam hatinya.
Sila langsung menarik dirinya menjauh dari Dave, dia mengalihkan pandangannya keluar jendela sambil tersipu. Dave malah tersenyum puas melihat Sila yang salah tingkah dan malu.
"Jo, putar balik. Kita kembali ke apartemen ku!" seru Dave pada Joseph.
"Baik tuan!" ucap Joseph dan segera melaksanakan perintah dari bos nya itu.
Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di area parkir, di basemen apartemen Dave. Joseph segera membukakan pintu mobil untuk Dave dan juga Sila.
"Jam berapa meeting dengan perusahaan K?" tanya Dave pada Joseph.
"Jam sepuluh tuan!" jawab Joseph dengan cepat.
"Baik tuan!" jawab Joseph lagi yang langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Dave dan Sila hanya berdua.
Melihat Joseph dan mobil Dave pergi, Sila agak bingung. Dia berpikir sekarang masih jam setengah delapan, kalau hanya sarapan akankah mereka membutuhkan waktu dua jam. Tidak ingin terus bingung, Sila pun bertanya pada Dave.
"Tuan, kalau hanya sarapan kenapa harus selama...!"
Tapi sebelum Sila bisa menyelesaikan pertanyaan nya, Dave sudah meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Sila.
"Kamu akan tahu sarapan apa yang dilakukan selama itu!" ucap Dave lalu menggandeng tangan Sila dan mengajaknya masuk ke dalam lift menuju ke unit apartemen miliknya.
Di dalam lift, jantung Sila berdetak sangat kencang. Sila sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Dave. Dia juga tidak mengerti kenapa selalu seperti itu, padahal itu bukan kali pertama dia akan melakukan hubungan itu dengan Dave. Di villa dulu setelah mereka menikah, Dave bahkan tidak akan melepaskannya atau membiarkan dia turun dari tempat tidur sebelum Dave benar-benar lelah. Mengingat semua itu saja wajah Sila sudah sangat merah.
Ting
Pintu lift pun terbuka, debaran jantung Sila semakin menjadi-jadi saja. Saat Dave akan menggandeng tangan Sila, dia bahkan merasa tangannya seperti tersengat aliran listrik. Sila bahkan menghindar secara refleks saat Dave akan menyentuh tangannya itu.
Menyadari dia melakukan kesalahan, Sila pun langsung meminta maaf pada Dave.
"Maaf tuan, aku tadi merasa...!" Sila menjeda kalimatnya dia merasa bingung bagaimana mengatakan nya.
Dave lalu kembali memegang tangan Sila, dan dia pun mengerti kenapa tadi Sila refleks menghindari tangannya. Dave merasakan tangan Sila sangat dingin.
'Dia gugup, padahal ini bukan pertama kalinya. Dia yang seperti ini benar-benar membuat ku ingin segera memakannya!' batin Dave yang sekarang juga sudah jadi panas dingin karena menahan diri nya sejak di dalam mobil tadi untuk menyentuh Sila.
Ketika mereka sudah berada di depan pintu unit apartemen Dave. Dave berkata.
"Lihat ini, ini adalah password untuk membuka pintu apartemen ini!" ucap Dave sambil menunjukkan angka angka yang dia tekan pada Sila.
Dan pintu apartemen pun terbuka, Dave langsung menggenggam tangan Sila dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen nya.
Melihat apartemen Dave yang lahir biasa mewah itu, Sila dibuat sangat takjub.
'Wah, ini bagus sekali. Benar-benar berkilau!' batin Sila.
Dave lalu menutup pintu apartemen nya yang secara otomatis terkunci. Setelah itu Dave berjalan mendekati Sila yang masih melihat-lihat isi apartemen Dave yang memang bernuansa gold dan hitam.
Dave memeluk Sila dari belakang dan berkata.
"Kamu adalah satu-satunya wanita yang pernah masuk ke dalam sini!" ucap nya di telinga Sila.
Deg deg deg
Jantung Sila benar-benar terus dibuat olahraga saat berdua bersama Dave. Pria tampan itu selalu bisa membuatnya merasa istimewa.
"Apa kamu suka apartemen ini?" tanya Dave kemudian.
Sila pun mengangguk pelan.
"Sangat bagus tuan!" jawab Sila yang memang kagum pada apartemen Dave.
"Apa kamu nyaman disini?" tanya Dave lagi dan lagi-lagi Sila mengangguk.
"Eh!" Sila terkejut ketika Dave mengangkat tubuhnya.
"Karena kamu sudah nyaman, maka aku tidak akan segan!" ucap Dave yang langsung menggendong Sila menuju ke kamarnya. Wajah Sila memerah karena dia sudah tahu apa yang akan di lakukan suaminya itu padanya.
***
Bersambung...