
Setelah sore hari, dan kondisi ayah Sila sudah membaik. Dave mengajak Sila untuk pulang ke rumah ayahnya untuk menjemput Mika yang kata Hadi akan di antar ke sana untuk bisa menginap di rumah ayah Sila.
Sila dan Dave, bersama dengan Joseph pun meninggalkan rumah sakit. Sedangkan Oman, di beri tugas oleh Dave untuk menjaga ayah Sila dan menunggu di rumah sakit, agar kalau keluarga Sila membutuhkan apapun. Oman akan ada disana membantu mereka. Tapi dia hanya berjaga di luar ruangan saja.
Setelah kepergian Sila dan Dave. Ayah Sila bertanya pada Bima.
"Bim, apa benar atasan Sila itu yang membayar semua hutang ayah pada Baron Cs?" tanya Prio Utomo memastikan kalau uang dia dengar dari Bima tadi benar.
Dan setelah mendengar pertanyaan sang ayah. Bima pun mengangguk pasti.
"Benar ayah, tadi tuan Joseph sendiri yang membayar mereka bahkan dengan uang tunai. Sertifikat rumah ayah juga sudah ada di rumah, dan apakah ayah tahu. Mobil kita juga sudah kembali ke rumah. Aku bersama tuan Dave tadi bahkan kesini dengan mobilku!" jawab Bima yang sangat terlihat senang.
"Apa benar Sila dan bos nya itu hanya atasan dan bawahan saja?" tanya Prio Utomo membuat Bima dan juga Tini langsung menoleh ke arah Prio Utomo.
"Ayah kenapa berkata seperti itu?" tanya Tini pada suaminya.
"Bu, apakah mungkin seseorang yang bahkan baru mengenal Sila beberapa minggu bisa mengeluarkan banyak uang untuk Sila dan keluarganya?" tanya Prio Utomo yang memang lebih sensitif dan selalu over thinking di banding Bima dan Tini yang selalu positif thinking dan menyikap semua orang dengan bijak.
Prio Utomo memang sangat aware pada Sila. Oleh karena itulah, dia dulu menyarankan perjanjian pra nikah pada Sila dan Hadi. Tujuan nya hanya untuk melindungi putrinya itu, tapi hal itu malah menjadi jebakan untuk Sila. Untung saja selalu ada hikmah di setiap kejadian. Pria yang bersama Sila malah pria yang sekarang begitu mencintai Sila dengan segenap hatinya.
Tini yang tidak ingin suaminya kembali banyak pikiran hingga kondisi nya kembali drop. Langsung mendekati Prio Utomo dan mengusap lengan suaminya itu.
"Ayah sudahlah jangan berpikir yang tidak-tidak. Sila anak kita, kita mendidiknya dengan baik. Ibu masih tidak percaya kalau dia yang mengkhianati Hadi!" ucap Tini mengeluarkan apa yang dia pikirkan dan rasakan.
Bagaimanapun juga Tini adalah ibu kandung Sila. Dia yang hamil selama sembilan bulan, dan melahirkan Sila dengan penuh perjuangan, dia merawat putrinya itu sejak kecil hingga dia dewasa. Nalurinya mengatakan kalau putri yang dia asuh dengan tangannya itu tidak mungkin melakukan hal yang buruk. Saat dia berbohong atau melakukan kesalahan kecil saja saat ayahnya membentaknya dia akan ingat hal itu dalam waktu lama, bagaimana mungkin anak yang seperti itu bisa melakukan hal yang bisa mencoreng nama baik ayahnya yang sangat dia cintai dan hormati.
Maka sejak pertama Hadi mengusir Sila dari rumah mereka dan mengatakan kalau Sila telah berselingkuh. Tini tak pernah percaya pada hal itu, karena itu juga Tini selalu memeluk dan menenangkan Sila pada saat itu. Meski dia diam tapi Tini juga sangat yakin kalau suatu saat kebenaran akan segera terbuka.
"Jadi maksud mu nak Hadi berbohong?" tanya Prio Utomo.
"Ibu benar ayah, coba ayah pikirkan ini baik-baik. Sila yang hidup bersama dengan kita selama 20 tahun, bagaimana dia bicara, bagaimana dia bersikap. Kita lah yang paling mengerti. Maka dari itu aku juga yakin kalau Sila tidak bersalah. Hanya saja saat kami mencari bukti itu untuk di tunjukkan pada Hadi. Kami menemui jalan buntu!" sesal Bima yang tidak bisa berbuat lebih untuk adiknya.
Prio Utomo juga terlihat sangat sedih. Dia lah yang terlalu menganggap Hadi itu sangat baik seperti malaikat. Karena itu dia percaya saja pada apa yang dikatakan Hadi waktu itu, apalagi Sila juga sama sekali tidak menyangkalnya. Prio Utomo lagi-lagi mengusap wajahnya kasar.
"Ya Tuhan, bodohnya aku!" sesalnya.
***
Sementara itu Sila dan Dave sudah sampai di rumah ayahnya. Tapi Hadi belum datang.
Sila pun mengangguk, meskipun dia telah membawa beberapa pakaian nya ke rumah kontrakan Karina. Tapi kebanyakan hanya pakaian kerja dan piyama tidur saja.
"Iya masih ada mas, tapi kalau Mika datang...!"
"Ada aku kan disini!" sela Dave membuat Sila tersenyum dan mengangguk paham.
Sila pun masuk ke rumah, dia berjalan dengan cepat ke arah kamarnya. Masih sama seperti dulu, kamar yang dia tempati sejak kecil hingga dia menikah dengan Hadi. Sila pun membuka lemari, susunan pakaian nya juga sangat rapi. Dia yakin kalau ibunya pasti yang sudah merapikan nya. Tapi saat Sila melihat ke tempat tidur, dia melihat selimut yang biasa ayahnya pakai ada di atas bantal dan terlipat dengan rapi. Mata Sila pun berkaca-kaca, dia tahu kalau ayahnya pasti tidur di kamarnya. Meski di luar tampak kasar dan tegas. Tapi Sila tahu kalau sang ayah sebenarnya sangat berhati lembut.
Sejak kecil kalau Sila liburan ke rumah neneknya atau sedang ada karya wisata dan menginap beberapa hari. Ibunya selalu bilang kalau sang ayah pasti akan tidur di kamar Sila. Jika tidak, Prio Utomo pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Sila terharu sekali karena sampai sekarang pun ayahnya masih seperti itu.
Setelah meletakkan selimut itu kembali di tempatnya. Sila lantas pergi ke kamar mandi dan langsung bersih-bersih.
Beberapa menit kemudian, Sila keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Dia juga hanya memakai lipstik dan bedak tipis saja. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mika yang sudah dia rindukan selama hampir dua bulan ini. Sila melangkah keluar dengan cepat ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Mata Sila berbinar ketika melihat mobil yang masuk ke dalam pintu gerbang ayahnya adalah mobil milik Hadi.
Dave yang melihat Sila berlari keluar juga segera berdiri dari duduknya dan berdiri di belakang Sila bersama dengan Joseph.
Pintu mobil Hadi terbuka, dan seorang wanita berpakaian baby sitter turun dengan membawa tas yang cukup besar. Dia lalu membuka pintu mobil di sisi yang lain kemudian tampaklah seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang terlihat kebingungan turun dari dalam mobil.
Sila langsung tersenyum lebar, dia langsung berlari ke arah Mika. Dave juga ikut tersenyum melihat Sila begitu senang.
"Mika sayang!" panggil Sila lalu mendekat ke arah Mika hendak memeluknya.
Tapi di luar dugaan nya, gadis kecil itu malah seperti takut dengan mata merah dan berkaca-kaca lalu bersembunyi di belakang baby sitter nya.
Deg
Sila benar-benar syok melihat putrinya menjauh darinya dan seperti takut padanya.
"Sayang, ini mama nak. Mika, sini sayang!" panggil Sila dengan air mata yang sudah menggenang dan siap tumpah kapan saja.
Mika menggeleng. Dan sontak saja itu membuat hati Sila hancur sekali lagi.
***
Bersambung...