Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 143


Dave pun memilih untuk berhenti menjadi Mario teguh dadakan yang menasehati Randy dengan berbagai kalimat petuah, karena usahanya untuk membujuk Randy agar tidak memaksa Karina untuk menikah dengannya yang hampir saja berhasil telah digagalkan oleh adiknya sendiri. Dave nyaris saja membuat Randy berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Dave itu semuanya adalah benar.


Randy tidak akan membuat Karina bahagia kalau memaksakan cintanya pada Karina. Tapi nyaris saja Dave berhasil, sang adik Shafa justru datang bak Dewi amor yang mencoba untuk menyemangati Randy supaya dia berjuang untuk mendapatkan cinta Karina.


Shafa seolah tidak mau kehilangan sosok Karina sebagai kandidat kakak iparnya.


"Cinta itu harus diperjuangkan kak, ayo semangat! kakak pasti bisa membuat Karina jatuh hati pada kakak. Tunjukkan kalau kak Randy bisa berubah, bukan lagi buaya darat dan buaya air payau!" ucap Shafa dengan wajah yang sungguh ceria.


Randy senang mendapat dukungan dan juga semangat dari adik kandungnya Shafa, tapi di akhir kalimat Shafa Randy langsung menarik senyumnya dari wajahnya.


"Kamu ini sedang memujiku atau sedang menghinaku?" tanya Randy.


Shafa tidak menjawab, dia malah hanya terkekeh sambil memeluk lengan Dave.


Dave pun melirik ke arah adiknya itu.


"Menasehati orang pintar, tapi rumah tangga sendiri malah di buat berantakan!" tegur Dave.


Shafa jadi memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Ih kak Dave ini bisanya merusak suasana saja. Kakak tahu gak rumah tangga itu nggak segampang pengucapannya rumah dan tangga, rumah tangga itu rumit. Kakak kan belum menikah, mana bisa mengerti. Ck.. rumah tangga itu penuh dengan...!" sebelum Shafa selesai dengan perkataan nya Dave langsung mengusap wajah Shafa dengan tangannya.


Dave yang juga sudah menikah sebenarnya, tidak mau di ceramahi oleh sang adik. Jadi dia langsung mengusap gemas wajah Shafa.


"Ih, kebiasaan kak Dave ih...!" kesal Shafa lalu menjauh dari Dave dan langsung meraih cermin dari tasnya dan membenarkan makeup nya.


"Aku akan bertaruh dengan mu!" ucap Randy yang langsung membuat perhatian kedua saudaranya itu tertuju kepadanya.


Dave menatap serius ke arah Randy begitu pula Shafa yang sedang memegang cermin.


"Aku akan mengejar Karina, dan akan berusaha mendapatkan cintanya dalam waktu satu bulan. Tapi jika dalam waktu satu bulan itu, Karina masih tak memberiku kesempatan dan tidak membuka hatinya untukku. Aku akan menyerah. Dan akan mengatakannya pada ayah dan ibu!" jelas Randy yang membuat Shafa tersenyum senang.


Shafa dengan cepat menghampiri Randy dan memeluknya.


"Ini baru kakak ku!" serunya sangat bangga pada keputusan Randy.


Dave hanya mengangguk saja, karena ini juga bagus. Dia bisa melihat sejauh mana Randy akan berjuang dan membuktikan kalau dia memang benar-benar akan berubah dan tidak lagi menjadi seorang Casanova.


"Baiklah!" sahut Dave.


Tapi ketika Dave baru menghela nafas lega, Randy bicara lagi.


"Tapi kalau aku berhasil mendapatkan Karina, kamu juga harus menikah dengan Luna!" seru Randy.


Mata Dave langsung melotot, dia bahkan langsung mendengus kesal.


"Kamu memang kakak ku, tapi jangan berpikir aku tidak berani memukul mu sampai semua gigimu itu rontok ya!" gertak Dave yang kesal dengan ucapan Randy.


Plakkk


"Aduh!" pekik Randy karena merasakan sakit di lengan kirinya, masalahnya punggungnya masih nyeri, di tambah pukulan Shafa membuat lukanya terasa linu.


"Shafa, kamu kejam sekali pada kakak mu sendiri!" protes Randy.


"Habisnya kak Randy kalau bicara suka asal, aku juga tidak mau ya kalau wanita ratu drama itu menikah dengan kak Dave, iyuh!" ekspresi Shafa benar-benar seperti seseorang yang sangat jij1k akan suatu hal.


"Ck... tidak usah repot memikirkan pernikahan ku. Buktikan saja kalau kamu memang sudah berubah dan buktikan itu pada Karina. Karena kalau satu bulan lagi Karina bilang masih tidak mau menikah dengan mu, aku yang akan berdiri paling depan mendukungnya!" tegas Dave yang langsung berbalik dan meninggalkan Shafa dan juga Randy dalam keadaan termangu.


Setelah Dave menutup pintu kamar rawat Randy, Shafa dan Randy saling pandang.


"Lihat itu! dia sampai menggertak seperti itu! apa kamu masih percaya kalau hubungannya dengan Karina hanya sebatas atasan dan bawahan?" tanya Randy pada Shafa.


Shafa hanya mengangkat bahunya sekilas. Dia juga bingung, kalau di tanya Dave selalu bilang Karina hanya karyawati di perusahaan nya, itulah alasan Dave membelanya. Tapi menurut yang Shafa lihat dan amati, kakak keduanya itu seperti sangat perduli pada kebahagiaan dan masa depan Karina.


'Hem... pasti ada udang di balik lub4ng ini, aku akan mencari tahu kenapa kak Dave sampai sebegitu perduli pada Karina!' batin Shafa yang sudah mengaktifkan mode Sherlock Holmes nya.


Sementara itu di kantor wakil CEO perusahaan T. Hadi Tama sedang memeriksa dan mengamati beberapa CV dari para pelamar kerja yang akan menggantikan tugas Susan sebagai sekertaris nya.


Susan sudah resmi berhenti dari perusahaan karena satu minggu lagi mereka akan menikah. Dan Susan harus mengurus segala persiapan pernikahan sementara Hadi harus fokus dalam pekerjaan karena dia sudah beberapa hari cuti mengurus masalah hak asuh Mika dan juga Haris yang masuk rumah sakit.


Apalagi satu minggu lagi dia harus cuti lagi untuk menikah. Jadi dia ingin selama beberapa hari ini fokus pada pekerjaan nya saja. Kabar kehamilan Susan juga membuatnya lebih bisa menerima kalau Mika memang sudah tidak berada dalam asuhannya lagi. Tapi sesuai perjanjian, Hadi tetap boleh menemui Mika, tapi hanya pada siang hari saja. Itupun harus ada orang lain dari pihak Sila yang bersama dengan mereka. Memang sedikit tidak nyaman bagi Hadi, tapi itu lebih baik daripada tidak bisa bertemu dengan Mika.


Tok tok tok


Ketika Hadi sedang serius membaca salah satu CV pelamar kerja. Pintu kantornya di ketuk.


"Masuk!" seru Hadi.


Pintu itu terbuka, dan Deni yang masuk ke dalam.


"Hadi, itu tiga orang sudah di seleksi oleh HRD, mau langsung di wawancarai disini atau di HRD saja?" tanya Deni pada Hadi.


"Aku sudah baca CV ketiganya, semuanya terlihat berpengalaman dan bagus. Tapi coba suruh mereka satu persatu kesini. Aku ingin lihat seberapa cepat mereka mengatur jadwal ku!" seru Hadi.


"Baiklah, dari yang mana dulu?" tanya Deni.


Hadi langsung melihat CV atas nama Rosa. Wajahnya paling cantik, dan dia paling muda di antara ketiga orang itu. Masih 22 tahun. Baru lulus kuliah. Meski yang di cantumkan dalam surat lamarannya hanya pengalaman kerja saat dia magang, tapi wanita muda itu magang di perusahaan yang cukup besar dan terkenal, Hadi jadi penasaran dengan Rosa.


***


Bersambung...