
Sila berlari ke arah rumah kontrakan Karina karena dia tidak mau wajahnya yang sudah memerah terlihat oleh Dave. Saat Sila sampai di depan pintu rumah kontrakan, dia mengetuk pintu rumah itu perlahan. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Pasti Karina sudah berangkat bekerja, bagaimana ini?" tanya Sila sambil bergumam.
Tapi setelah lama berpikir, dia pun ingat sesuatu. Karina pernah mengatakan padanya kalau dia akan menyimpan kunci cadangan pintu rumah kontrakan itu di bawah pot nomer lima yang ada di depan teras. Dimana pot nomer lima itu terdapat bunga Telang di atasnya.
Setelah ingat akan apa yang pernah Karina ucapkan itu, dengan cepat Sila beralih ke arah beberapa pot bunga yang ada di teras. Sila melihat pot yang ada bunga telang nya. Lalu dengan cepat Sila melangkah ke arah pot itu dan meraih kunci yang terselip di bawah pot.
Setelah mendapatkan kunci rumah kontrakan itu, Sila sangat senang. Matanya berbinar bak mendapatkan harta karun saja.
"Ketemu!" ucapnya senang.
Sila langsung bergegas ke arah pintu lagi, kemudian dengan anak kunci yang dia pegang, dia langsung membuka kunci pintu rumah kontrakan Karina.
Ceklek
Sila masuk perlahan, suasana rumah kontrakan Karina ini masih sama seperti saat Sila meninggalkan nya untuk pertama kali waktu itu. Jam sudah menunjukkan pukul depalan pagi, Sila langsung menghentikan melihat-lihat sekeliling dan langsung masuk ke arah kamarnya dan Karina. Sila bergegas berganti pakaian karena dia tidak ingin terlambat untuk datang ke kantor Dave. Sila sudah tersipu hanya dengan mengingat apa ucapan Dave sebelum dia keluar dari dalam mobil tadi. Jika Sila terlambat satu menit, maka Sila harus memberikan sebuah ciuman pada Dave, terlambat dua menit maka dia harus memberikan dua ciuman, dengan mengingat itu saja wajah Sila sudah memerah.
Setelah berganti pakaian dengan rapi, karena Sila memang sudah punya banyak baju kerja. Di tempat kerjanya yang lama, jabatannya juga sudah tinggi, sebagai kepala divisi. Karena itu pakaian kerjanya juga bukan pakaian yang tidak bermerek. Semua pakaian kerja Sila adalah pakaian bermerek dan mahal.
Setelah selesai bersiap-siap, Sila langsung keluar dari dalam rumahnya. Untung saja dia masih punya uang tunai di dalam tasnya yang dia letakkan di lemari Karina. Sehingga dia bisa membayar taksi nanti.
Sila lalu keluar dari dalam rumah kontrakan Karina.
Saat mengunci pintu, Sila mendengar seseorang menegurnya.
"Selamat pagi neng Sila!" sapa pak hansip.
Sila langsung menoleh lalu tersenyum.
"Selamat pagi pak!" sapa balik Sila.
"Lama gak kelihatan, kemana aja neng?" tanya pak hansip.
"Iya pak, saya ada kerjaan. Saya permisi pak, mau berangkat kerja!" ucap Sila yang langsung berlalu melewati pak hansip karena dia melihat sebuah taksi yang tak jauh dari tempatnya.
Sila bergegas berjalan menuju ke arah jalan, dia langsung menghentikan taksi yang kebetulan lewat itu. Setelah taksi berhenti, Sila bergegas naik taksi itu. Dan Sila langsung menyebutkan tujuannya pada si supir taksi.
Sementara itu di kantornya Dave, dia baru saja selesai dengan meeting penting di pagi harinya. Setelah keluar dari ruang meeting, dia langsung bergegas menghubungi Joseph yang sedang menunggu kedatangan Sila ke kantor.
"Halo tuan!" sapa Joseph.
"Dia sudah datang?" tanya Dave terdengar sangat tidak sabar.
"Belum tuan!" jawab Joseph singkat, padat dan jelas.
"Ck... kemana dia?" tanya Dave terlihat sangat gelisah.
"Tuan, ini bahkan belum satu jam!" ucap Joseph mengingatkan bos nya itu.
Tanpa menjawab lagi atau menanggapi apa yang Joseph katakan. Dave langsung mematikan ponselnya dengan segera lalu memasukkan nya kembali ke dalam saku jasnya.
Dave kembali ke dalam ruangannya di susul oleh Anita yang baru saja selesai mengantarkan klien menuju lift.
Setelah masuk ke dalam ruangannya, Anita langsung membacakan agenda Dave untuk hari ini.
Tapi sepertinya Dave malah tidak mendengarkan apa yang sedang di katakan oleh Anita. Merasa di acuhkan Anita pun mencoba untuk menarik perhatian Dave, sekertaris pribadi Dave itu meletakkan map yang dia pegang di depan Dave dengan gerakan lambat.
"Tuan Dave, pertemuan dengan klien dari perusahaan T sudah di rencanakan sejak lama, tidak mungkin lagi untuk di cancel. Bagaimana tuan?" tanya Anita yang sengaja meninggikan nada suaranya.
"Ck... apa kamu pikir aku tuli Anita!" seru Dave yang malah terlihat sangat kesal.
Anita yang memang sudah sering mendapatkan perlakuan kasar dan perkataan kasar juga dari Dave sudah tidak kaget lagi. Dia malah senang kalau Dave marah padanya.
"Maaf tuan, tapi sejak tadi tuan terlihat tidak fokus!" balas Anita.
Dave tidak mau menjawab, dia selalu melirik jam tangan yang melingkar dengan bangga di pergelangan tangannya. Hal itu membuat Anita semakin penasaran saja, kenapa bos nya itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
"Tuan ini Joseph!" suara Joseph terdengar setelah suara ketukan pintu berhenti.
Mendengar yang mengetuk pintu adalah Joseph. Dave langsung membenarkan posisi duduknya dengan tegap. Karena Dave yakin kalau Joseph pasti datang bersama dengan Sila. Dan Dave memang sudah tidak sabar menunggu kedatangan istri nya itu.
"Masuk!" seru Dave sambil membenarkan jas yang dia pakai.
Anita makin dibuat heran saja dengan apa yang dilakukan oleh bos nya itu. Tapi pandangan Anita juga langsung ikut melihat ke arah pandangan Dave tertuju.
Ceklek
Joseph membuka pintu, dan mempersilahkan seorang wanita dengan pakaian kerja berwarna hitam dan kuning masuk ke dalam ruangan Dave.
"Silahkan nona!" ucap Joseph sangat sopan.
Anita mengangkat sebelah alisnya melihat Joseph yang begitu sopan pada seseorang. Biasanya Joseph itu tidak banyak bicara, bahkan padanya yang sudah bekerja sama dengan Dave selama bertahun-tahun.
Sila pun menganggukkan kepalanya, tanda menghormati Joseph yang sudah mempersilahkan nya masuk dengan sopan. Joseph lalu keluar setelah mempersilahkan Sila untuk masuk. Setelah itu Sila berjalan perlahan mendekati meja kerja Dave.
"Selamat pagi tuan!" sapa Sila pada Dave dan menoleh sekilas serta mengangguk sedikit pada Anita.
Anita mengernyitkan keningnya, dia merasa pernah melihat wanita yang sedang berdiri di sampingnya itu. Tapi dia lupa, pernah melihatnya dimana.
"Selamat pagi Sila, selamat datang dan selamat bergabung di perusahaan ku!" ucap Dave dengan bangga.
Anita terkejut, ternyata wanita itu hanya karyawan. Tapi dia sangat heran kenapa Joseph dan Dave sepertinya memperlakukan karyawan baru itu sedikit istimewa. Padahal pada karyawan lain, Dave dan Joseph tidak pernah seperti itu.
"Anita, dia Sila. Dia sekarang akan menjadi sekertaris pribadi ku, dia yang akan mengurus segala keperluan pribadi ku!" ucap Dave membuat Anita terkejut.
'Apa? sekertaris pribadi, mengurus semua keperluan pribadi? lalu bagaimana denganku?' batin Anita kesal.
Sila yang menyadari tatapan tidak suka Anita lantas melirik Dave, Sila sadar kalau sekarang sepertinya Anita merasa posisinya sedang terancam. Karena itu Sila ingin Dave menjelaskan dengan benar pada Anita. Agar dirinya tidak mendapatkan musuh di hari pertama nya bekerja.
Mengerti tatapan cemas dari Sila. Dave lalu berdehem.
"Ehem, Anita mulai sekarang kamu mengurus masalah pekerjaan. Dan keperluan pribadi yang biasa Joseph siapkan untukku akan di urus Sila. Kurasa Joseph sudah tua dan butuh lebih banyak waktu santai!" jelas Dave kemudian.
Sila menghela nafas lega, begitu pula dengan Anita yang merasa posisinya sudah aman.
'Huh, aku terlalu banyak berpikir. Lagipula mana ada yang bisa menggantikan aku sebagai orang yang paling dibutuhkan oleh tuan Dave!' batin Anita dalam hatinya. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri.
***
Bersambung...