
Tok tok tok
Suara ketukan pintu tak lama kembali terdengar setelah Deni keluar. Dan tanpa melihat ke arah pintu sama sekali, dan masih fokus membaca dokumen lamaran kerja yang ada di atas mejanya Hadi berkata,
"Masuk!" begitu kata Hadi tanpa menoleh ke arah pintu sama sekali.
Ceklek
Bahkan saat terdengar suara pintu terbuka, Hadi masih tetap serius dengan apa yang dia lakukan dan tidak melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
Seorang gadis cantik yang sudah masuk ke dalam ruangan Hadi terlihat sangat gugup. Dia terus berusaha, merapikan rambutnya yang sesekali menutupi telinganya.
Apalagi ketika dia melihat sosok Hadi yang terlihat sangat serius dan wajah yang tidak ada senyumnya sama sekali. Rosa, gadis itu bertambah gugup.
"Selamat pagi pak?" sapa Rosa dengan suaranya yang lembut.
Hadi langsung menoleh ke arah sumber suara, mendengar suara lembut yang menyapanya.
'Cantik!' ucapnya dalam hati yang secara naluri memuji kecantikan Rosa.
"Duduk!" seru Hadi berusaha menunjukkan karisma dan sikap tegasnya sebagai seorang wakil CEO.
Rosa pun langsung tersenyum, mengangguk pelan lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Hadi.
"Nama?" tanya Hadi yang padahal sudah tahu kalau nama gadis cantik di depannya itu Rosa.
"Rosa pak, Rosalia Putri!" jawab Rosa dengan cepat.
"Kenapa melamar kerja di sini?" tanya Hadi dengan wajah serius ketika melihat ke arah Rosa.
"Perusahaan ini sangat bagus pak, saya pikir kalau bisa bekerja disini akan menjadi awal karir yang bagus untuk saya!" jawab Rosa jujur.
Hadi sedikit memperhatikan gadis muda didepannya itu lebih dalam.
"Jawabanmu terlalu berani. Apa kamu pikir perusahaan ini batu lompatan untuk mu?" tanya Hadi yang cukup terkejut mendengar jawaban Rosa tadi.
"Saya realistis saja pak, saya bekerja memang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik!" jawab Rosa lagi terus terang.
Hadi terdiam sejenak, kalau pelamar kerja lain akan membuat dirinya seolah punya image yang baik, kenapa gadis di depannya ini justru terkesan ceplas-ceplos saja.
"Lalu jika kamu tidak di terima bekerja di sini?" tanya Hadi.
Rosa menunjukkan raut kecewa, tapi itu hanya sekejap saja.
"Saya akan cari kerja di tempat lain. Tapi kalau saya di terima di sini, saya akan lakukan yang terbaik untuk menjadi sekertaris pribadi pak Hadi, saya tidak akan mengecewakan pak Hadi!" ucapnya yang membuat Hadi menarik senyum di bibirnya sedikit.
"Baiklah, kamu boleh keluar. Dan tunggu kabar selanjutnya!" ucap Hadi pada Rosa.
Rosa pun berdiri dan membungkuk sedikit di depan Hadi, membuat bagian dadanya terlihat oleh Hadi yang memang sedang memandang ke arahnya.
'Apa dia sengaja?' batin Hadi yang jakunny4 sudah naik turun melihat pemandangan indah di depan matanya.
"Baik pak, saya akan tunggu kabar baik dari bapak!" ucap Rosa.
Rosa pun berbalik, tapi kemudian dia terselandung kakinya sendiri dan terjatuh.
Brukk
Hadi yang melihat itu sont4k saja bangun dari duduknya dan bergegas menghampiri Rosa. Dia langsung membantu Rosa untuk berdiri.
"Apa ada yang terluka?" tanya Hadi.
"Kaki saya sakit pak Hadi!" jawab Rosa dan memang di mat4 kakinya terlihat sedikit membiru.
Saat Rosa jatuh tadi mat4 kakinya terbentur lantai cukup keras.
"Aku akan panggil OB untuk membantu!" ucap Hadi.
Tapi sebelum Hadi menelpon OB, Rosa menahan tangan Hadi.
"Tidak usah pak Hadi, aku akan baik-baik saja setelah duduk sebentar di sini!" ucapnya.
Hadi lantas melihat tangan Rosa yang putih dan halus yang sedang memegang pergelangan tangannya.
Rosa yang menyadari itu langsung melepaskan tangannya dari tangan Hadi.
"Maaf pak Hadi, saya tidak sengaja!" ucapnya membuat Hadi semakin dibuat penasaran dengan Rosa.
***
Sementara itu, di siang harinya di tempat lain, Sila sedang menunggu Mika keluar dari sekolahnya.
Tapi saat Sila sedang duduk sendirian di tempat tunggu untuk para wali murid yang menjemput. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba duduk di sampingnya.
Sila yang memang biasa menyapa semua wali murid teman Mika, juga langsung menoleh berniat menyapa wanita itu. Tapi dia agak terkejut karena wanita paruh baya yang ada di sampingnya itu ternyata adalah Murti.
"Bu Murti!" ucap Sila sedikit terkejut dengan kedatangan Murti.
"Sila, apa kabar?" tanya Murti sambil tersenyum pada Sila.
Sila juga membalas senyuman itu dengan senyuman juga. Rasanya senang melihat mantan mertuanya itu tersenyum begitu tulus padanya. Saat masih menjadi menantunya dulu, sangat jarang Sila dapatkan senyuman dari mantan ibu mertuanya itu.
"Aku baik Bu Murti, oh ya bagaimana dengan ayah Haris. Apa beliau sudah membaik?" tanya Sila.
Murti pun mengangguk.
"Iya Sila, ayah sudah membaik!" jawab Murti lalu menghela nafasnya.
Setelah itu Murti pun meraih sebuah undangan dari dalam tasnya.
"Sila, Hadi dan Susan akan menikah Minggu depan. Ibu tahu mungkin kamu sudah tidak sudi lagi melihat mereka berdua. Tapi Hadi tetaplah ayah Mika. Bisakah kamu membawa Mika untuk hadir di pernikahan ayahnya? karena keputusan pengadilan mewajibkan harus ada minimal satu orang dari pihak mu untuk menemani Mika ketika bertemu Hadi kan?" tanya Murti pada Sila.
Sila meraih undangan yang di ulurkan oleh Murti. Sila pun tersenyum dan melihat ke arah mantan ibu mertuanya itu.
"Tentu saja, aku akan membawa Mika ke pernikahan mas Hadi!" jawab Sila yang membuat Murti tersenyum senang.
Murti sedikit menyesal karena baru menyadari kebaikan Sila setelah wanita di depannya itu tak lagi jadi menantunya. Tapi Murti sedikit heran kemana Sila pergi selalu ada orang yang berbadan kekar dan mobil mewah yang menunggunya.
Seperti saat ini, ada Oman dan juga mobil mewah Dave di samping Oman berdiri sambil melihat sekeliling menjaga Sila.
Tapi saat mulut Murti akan terbuka dan bertanya pada Sila, Sila langsung berdiri karena melihat Mika yang sudah keluar dari kelasnya sambil berlari ke arah Sila.
"Mika sayang!" panggil Sila.
Murti yang memang sudah lama tidak melihat Mika pun merentangkan tangannya hendak memeluk Mika. Tapi gadis kecil itu memilih memeluk kaki Sila.
"Mama!" serunya sambil tersenyum ceria.
Sila melihat Murti yang langsung terlihat sedih.
"Mika sayang, peluk nenek Murti!" ucap Sila.
Mika kecil pun melepaskan kami Sila dan memeluk Murti.
'Aku dulu selalu berusaha menjauhkannya dari ibunya karena hasutan Hadi dan Susan, tapi Sila malah menyuruh Mika memeluk ku ketika Mika tidak mau melakukan nya, ini sungguh tidak benar!' batin Murti yang benar-benar menyesal karena terlalu menuruti Hadi dan keegoisan anaknya itu.
***
Bersambung...