
Joseph sudah mendapatkan kabar dari Oman kalau ponsel para penjahat yang di berikan oleh Ilyas itu tidak aktif lagi, terakhir kali ponsel mereka aktif di jalan B di perempatan lampu merah.
Karena sudah memastikan kalau para penjahat itu tidak membawa Karina ke jurang, Joseph mengajak semua anak buahnya pergi dari jurang xxx menuju ke perempatan yang di kirim lokasinya oleh Oman.
Begitu tiba di perempatan Joseph harus kembali memukul setir mobilnya karena kesal.
"Siall! kenapa harus perempatan!" keluh Joseph.
Joseph mengeluh karena dia selanjutnya tidak tahu harus menuju ke arah yang mana. Ke depan, ke kiri atau bahkan ke kanan jalan dari tempatnya sekarang.
Joseph kemudian terdiam sebentar, pertama dia melihat ke arah depan. Di depan adalah perkotaan. Rasanya tidak mungkin kalau para penjahat itu akan membawa Karina ke sana. Di sebelah kiri adalah perumahan, mungkinkah itu adalah salah satu dari rumah para penjahat itu. Joseph lalu kembali menghubungi Oman, dia bertanya pada Oman apakah ada salah satu penjahat yang rumahnya ada di kawasan A.
Setelah menghubungi Oman yang bertanya pada Dani dan Ilyas, tidak ada satu pun dari ketiga orang anak buah Feri yang rumahnya ada di sekitar kawasan itu. Joseph akhirnya tahu dia harus kemana, kawasan klub malam yang ada beberapa gudang tidak terpakai di sekitar dermaga yang ada di jalan sebelah kanan. Setelah menghubungi semua anak buahnya dan menyuruhnya bergegas ke jalan sebelah kanan, Joseph kembali memacu kendaraan nya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu Karina yang masih berusaha untuk bangun setelah melihat pria yang menjaganya berbalik, mencoba untuk duduk dan mer4ba bagian belakang dia duduk. Ada beberapa sisa bubuk kayu, bubuk kayu dari meja yang ada di belakangnya yang di makan rayap.
Karina pun punya ide agar dia bisa melarikan diri dari pria yang satu itu, yang bernama Madun. Satu-satunya penjahat yang berada di gudang.
Karina meraup serbuk kayu dari lantai, dan menggenggam nya di tangannya.
'Ayolah Karina, kamu pasti bisa!' batin Karina menyemangati dirinya sendiri.
Karina pun berusaha untuk berdiri, Madun yang mendengar suara dari belakang segera berbalik. Setelah berbalik dia malah tertawa.
"Ha ha ha, ternyata kamu sudah sadar, Oji baru saja keluar mencari air untuk membangunkan mu. Kamu sudah sadar, sepertinya memang aku yang harus mencic1Pi mu terlebih dahulu!" ucap Madun yang langsung mendekati Karina.
Dengan tangan yang masih terikat di belakang dan mulut yang masih tertutup lakban hitam, mata Karina melebar.
'Satu... dua... !' Karina terus menghitung dalam hati.
Dia tidak boleh sampai salah sasaran karena ini adalah satu-satunya kesempatannya untuk melarikan diri. Setelah merasa perhitungan nya sudah tepat, Karina pun berbalik ketika Madun nyaris sudah hampir menyentuhnya.
Byuk
Serbuk kayu yang Karina genggam dia lemparkan ke arah wajah Madun.
"Agkh... Siall!" pekik Madun yang merasakan matanya pedih terkena serbuk kayu. Mulutnya juga terus meludahh karena serbuk kayu itu juga masuk ke dalam mulutnya.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Karina langsung berlari keluar gudang meskipun tangannya masih terikat dan mulutnya masih tertutup lakban. Karina melihat tak jauh dari gudang itu pria lain sedang keluar dari dalam dengan membawa botol air, Karina tidak mau sampai dia tertangkap lagi. Dia melihat ada seseorang yang berjalan keluar dari belakang sebuah klub malam, dan dia yakin kalau pria itu bukan salah satu dari tiga orang penculiknya.
Meskipun dalam keadaan gelap dari pintu belakang yang keluar itu siluet pria yang memakai setelan jas. Sedangkan seingat Karina, tiga penjahat yang menculiknya memakai jaket dan celana jeanss. Dengan cepat Karina yang memang sudah tidak memakai alas kaki segera berlari ke arah pria yang dia lihat keluar dari arah belakang sebuah klub malam yang ada di depan gudang.
Saat Karina berlari, Madun keluar dari dalam gudang sambil terus mengusap matanya yang pedih.
"Oji, Cecep... wanita itu kabur!" teriak Madun yang keluar dari gudang.
Oji yang melihat sebuah bayangan berlari ke arah klub langsung bergerak cepat menyusul bayangan yang dia yakini Karina.
"Siall, kenapa tidak ku ikat juga kakinya tadi!" kesal Oji yang langsung berlari mengejar Karina.
Karina yang sudah panik mendengar teriakan Madun, dan Oji yang juga sudah mulai mengejarnya semakin mempercepat larinya.
Brukk
Karina langsung menubruk orang yang bertubuh lumayan kekar dan tinggi itu. Setalah menubruk orang itu Karina terjatuh, kegelapan membuat Karina tidak bisa melihat wajah pria itu.
"Macan betina!" seru pria itu.
Karina mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara pria itu, dan satu-satunya orang yang memanggilnya macan betina, dia tahu siapa pria itu. Dan setelah dia semakin menunduk, ternyata benar pria itu adalah Randy, Randy Hendrawan. Pria yang sangat tidak ingin Karina temui lagi seumur hidupnya.
Tapi Karina juga tidak ingin kalau para pria itu kembali menangkapnya, selain hidupnya akan berakhir, dia juga akan kehilangan sesuatu yang amat berharga sebelum itu. Dan itu benar-benar akan menjadi akhir yang sangat mengenaskan bagi Karina.
Karina berusaha untuk bicara, sambil menengok ke arah Oji yang semakin dekat. Karina berusaha meminta bantuan pada Randy.
Randy yang memang sudah setengah mabuk, tapi masih sadar. Langsung membuka lakban yang menutup mulut Karina.
"Mau bilang apa?" tanya Randy santai.
"Tuan, tuan Randy tolong aku. Ada yang menculik ku, aku mohon tolong aku!" seru Karina yang matanya sudah berkaca-kaca.
Karina sudah setengah hati menghadapi situasi ini, karena Oji semakin mendekat.
Randy kemudian melihat ke arah yang sejak tadi di lihat oleh Karina.
Tiga orang pria memang sedang berjalan cepat ke arahnya, di depan satu dan dua orang lagi di belakangnya. Tadinya mereka berlari, tapi ketika melihat Karina menubruk seseorang, mereka pun menghentikan lari mereka dan hanya berjalan dengan cepat ke arah Randy dan Karina.
"Hei macan betina, kenapa selalu cari masalah?" tanya Randy santai.
"Tuan, aku mohon tolong selamatkan aku kali ini saja. Aku akan sangat berhutang budi pada tuan, suatu saat aku akan membalas kebaikan tuan ini. Aku berjanji, aku mohon tuan, tolong aku!" pinta Karina terus memohon pada Randy karena dia tidak ingin nasibnya berakhir seperti ini.
Randy lalu melihat ketiga orang itu berhenti di depannya.
"Hei tuan, jangan ikut campur. Berikan wanita itu pada kami, kami punya urusan dengannya!" seru Oji yang sekarang sudah berdiri dengan jarak dua meter dari Karina.
Karina menggelengkan kepalanya dengan cepat pada Randy.
"Tuan, jangan!" pinta Karina memelas.
Randy pun menunduk dan membangunkan Karina agar berdiri. Perlahan Karina berdiri.
"Aku akan menolong mu, tapi dengan satu syarat!" seru Randy.
Mata Karina melebar, bisa-bisanya pria di depannya ini masih bernegosiasi disaat seperti ini.
"Jika tidak mau terserah, aku akan kembali masuk ke dalam dan pura-pura tidak melihat apa-apa!" serunya lagi.
'Kejam sekali orang ini, aku ragu dia kakak kandung tuan Dave yang begitu baik!' batin Karina.
"Tuan, katakan syaratnya!" teriak Karina saat Randy akan berbalik.
Randy lalu kembali mendekati Karina.
"Menikahlah denganku!" seru Randy.
Deg
***
Bersambung...