
Sementara itu di perusahaan Dave, sejak pagi tadi Luna sudah membuat Anita sakit kepala. Berbagai macam pertanyaan yang di ajukan Luna membuat Anita nyaris darah tinggi. Masalahnya semua pertanyaan Luna sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Wanita itu hanya bertanya tentang hal pribadi Dave saja, seolah Luna ingin sekali mengetahui bagaimana Dave kalau sedang di kantor dan sedang bekerja.
Anita yang sudah mulai kesal karena pekerjaannya sangat banyak pun membanting dokumen yang sedang dia kerjakan di atas meja.
Brakk
"Dengar ya Luna, tuan Dave sudah memberitahu aku kalau aku harus tegas padamu, jadi! kalau kamu memang mau bekerja maka salin semua dokumen itu lalu masukkan semua datanya dalam flashdisk yang sudah aku berikan padamu tadi. Tapi kalau kamu di sini hanya untuk bicara dan mengoceh saja, aku akan keluar sekarang lalu mengatakan pada tuan kalau kamu memang tidak punya sama sekali, bahkan sedikit pun niat untuk bekerja!" tegas Anita yang sudah mulai kehabisan kesabaran nya.
Pekerjaan nya sangat banyak karena jam sepuluh nanti dia harus menyiapkan materi meeting untuk perusahaan K. Dan itu tidaklah mudah, masalahnya adalah perusahaan itu juga bekerja sama dengan kakak kandung Dave yaitu Randy, jadi sebisa mungkin Anita tidak mau kalau sampai ada kesalahan sedikitpun karena tak mau bos nya mendapatkan koreksi dari kakaknya itu meskipun sedikit saja.
Luna yang merasa gentar dengan gertakan Anita pun segara mundur dari dekat Anita lalu kembali ke meja kerjanya.
'Huh, kalau bukan karena ibu mengomel terus padaku. Aku tidak akan pernah mengalah padamu! lihat saja, nanti kalau sudah jadi nyonya Dave maka orang di kantor ini uang pertama kali aku pecat adalah kamu Anita!' geram Luna dalam hati.
Meskipun sangat kesal tapi Luna tetap kembali ke meja kerjanya dan melakukan apa yang di katakan oleh Anita. Hal itu karena kemarin ibunya memarahinya habis-habisan. Ibunya sangat kesal karena Luna kemarin pulang sendiri dan tidak di antar oleh Dave. Padahal tujuan utama Luna bekerja di kantor Dave adalah untuk lebih dekat dengan Dave.
Flashback On
Sebuah taksi memasuki pekarangan rumah keluarga Aline. Wanita paruh baya itu mengernyitkan keningnya ketika dari dalam taksi yang keluar adalah putrinya Luna.
Aline mendengus kesal, setelah taksi itu pergi dan Luna berjalan menghampirinya. Aline tanpa basa-basi langsung menepuk lengan Luna lumayan kencang.
Plak
"Ibu, sakit!" pekik Luna.
"Ck... dasar manja. Dimana Dave? kenapa pulang malah naik taksi?" tanya Aline dengan tatapan kesal pada Luna.
Luna malah terlihat semakin kesal, dia memasang ekspresi wajah cemberut lalu berjalan melewati ibunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Anaknya pulang bekerja bukannya di sambut dengan manis malah di pukul, apa ibu tahu apa saja yang sudah terjadi padaku hari ini. Anak ibu ini sudah cukup menderita hari ini!" keluh Luna lalu meletakkan tas nya di atas meja tamu dan dia pun membanting tubuhnya untuk duduk santai di sofa empuk yang ada diruang tamu nya.
"Aku sangat lelah Bu, sekertaris Dave itu menyebalkan sekali. Dia memberiku banyak sekali dokumen hanya untuk aku salin, labuh parah lagi Dave sama sekali tidak membelaku, dia malah bilang pada semua orang di sana agar jangan panggil aku nona, dia meminta para sekertaris nya memanggil namaku saja. Menyebalkan sekali pria itu!" keluh Luna lagi.
Aline yang mendengar semua keluhan anaknya itu sama sekali tidak simpati pada Luna. Dia malah terlihat mulai kesal pada Luna.
"Kenapa itu bisa terjadi? apa kamu membuat kesalahan?" tanya Aline yang mencurigai Luna.
"Apanya kesalahan? aku hanya membanting satu buah laptop milik sekertaris nya itu, karena Anita itu memang terlalu menyebalkan Bu!" keluh Luna lagi.
'Aku kadang suka berpikir apa Luna ini benar-benar anakku, kenapa dia tidak memiliki sedikit saja kepintaran ku, hanya wajahnya saja yang cantik seperti aku, selebihnya aku ragu!' keluh Aline yang memang sangat sangat kecewa pada Luna.
"Luna!" panggil Aline dan Luna pun langsung membuka matanya dan melihat ke arah ibunya.
"Iya Bu!" jawab Luna pelan. Dia sudah nyaman sekali dengan posisi duduk santai sambil bersandarnya.
"Ibu kadang berpikir ya, jangan-jangan kamu itu bukan anak ibu?" tanya Aline yang sontak saja membuat Luna langsung bangkit dari posisinya lalu duduk dengan tegak sambil menunjukkan wajah protes pada Aline.
"Ibu, kenapa bilang begitu?" tanya Luna yang matanya sudah berkaca-kaca.
Aline lalu meletakkannya jari telunjuk nya di dahi Luna dan sedikit mendorongnya.
"Heh, kalau kamu anak ibu kamu tidak akan seceroboh itu. Mengerti!" kesal Aline.
"Bagaimana bisa Dave simpati padamu, kalau di hari pertama kamu bekerja saja kamu sudah bangun itu laptop milik sekertaris nya. Yang namanya laptop milik seorang sekertaris, di dalamnya pasti banyak sekali file dan dokumen penting. Wajar saja Dave menjadi tidak respect padamu! bodoh sekali sih!" kesal Aline pada Luna.
Luna pun terdiam, tapi sebenarnya dia juga tidak terlalu merasa bersalah. Karena dia memang sangat kesal pada Anita itu.
"Tujuan mu datang ke kantor Dave dan bekerja disana itu untuk mendekati Dave, mengambil hati Dave. Bagaimana bisa kamu dekat dengannya kalau kamu malah membuat kerugian baginya. Dia pasti tidak suka pada hal itu. Luna bisakah kamu sedikit berpikir... Ibu sudah susah payah membujuk Davina untuk mempekerjakan kamu di kantor Dave. Kalau sudah seperti ini ibu harus berbuat apa lagi? masak iya harus ibu yang terus berpikir bagaimana cara agar kamu mendapatkan perhatian Dave? Sekali-kali gunakan otak mu sendiri!" omel Aline pada Luna.
Aline sudah benar-benar sangat kesal pada kelakuan putrinya itu. Sebaliknya Luna malah semakin kesal pada Anita karena menganggap semua ini salahnya. Kalau saja dia tidak membuat Luna emosi, Luna pasti tidak akan membanting laptop itu dan membuat Dave marah padanya bahkan membentaknya.
"Iya iya ibu, aku dengar! baiklah besok aku tidak akan membuat Dave marah padaku lagi. Sekarang aku tidur ya Bu, aku lelah sekali!" ucap Luna yang langsung meraih tasnya dan pergi ke kamarnya.
Aline yang melihat putrinya itu sepertinya benar-benar lelah pun memilih menghentikan omelannya dan diam. Dia hanya bisa memijat dahinya memikirkan bagaimana lagi cara agar Luna mendapatkan perhatian dari Dave.
Di dalam kamarnya Luna membanting tubuhnya di kasur dan melihat ke arah langit-langit kamarnya.
"Haih, kalau boleh memilih aku benar-benar lebih memilih Randy daripada Dave. Kenapa juga aku harus menghabiskan seluruh hidupku dengan orang yang sama sekali tidak akan pernah menyentuhku, huh...!" gumam Luna.
Flashback Off
***
Bersambung...