Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 130


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Joseph sudah sampai di jurang yang dimaksudkan oleh Oman. Tapi tidak ada minibus yang membawa Karina disana. Joseph coba menelusuri lebih jauh lagi, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan mobil yang telah membawa Karina itu.


Joseph pun menepikan mobilnya dan berusaha menghubungi anak buahnya yang berada dekat dengan lokasinya untuk ikut mencari. Bahkan Joseph juga meminta anak buahnya untuk turun ke jurang dengan hati-hati kalau, saja anak buah Feri yang lain itu sudah melemparkan Karina ke sana.


Setelah itu Joseph pun kembali menghubungi Oman.


"Bagaimana Jo, kamu temukan Karina?" tanya Oman dengan cepat begitu menerima panggilan telepon dari Joseph.


"Aku sudah sampai lima menit yang lalu, dan tidak ada mobil itu di sini!" jawab Joseph sedikit gusar.


Mata Oman kembali mengarah ke arah Dani dan Ilyas yang sudah babak belur oleh Roy.


"Sebentar Jo!" seru Oman.


Oman langsung meraih rambut Dani dan menariknya.


"Kamu bilang mereka membawa Karina ke jurang kan? kenapa dia tidak ada disana?" bentak Oman pada Dani.


Ilyas yang gemetaran berusaha menjawab pertanyaan Oman.


"Tu... tuan Oman. Tu... tuan Feri memang memerintahkan seperti itu, Madun dan dua orang lain memang di perintahkan membuang nona Karina ke jurang, ta... tapi Oji memang sangat suka main dengan wanita... mu... mungkin sa... saja!" Ilyas menjeda kalimatnya yang memang sudah terbata-bata.


Oman langsung menghempaskan kepala Dani yang rambutnya tadi sudah dia tarik kencang.


"Ck... dasar para bina*tang!" kesal Oman.


Oman lalu kembali bicara pada Joseph di telepon.


"Jo, ada kemungkinan mereka membawa Karina ke tempat lain dulu!" jawab Oman.


"Dengar, minta nomer ponsel orang-orang yang membawa Karina, minta anak buahmu melacak dimana lokasi terakhir ponsel mereka aktif!" seru Joseph.


"Baik Jo!" jawab Oman.


Dan tanpa menunggu lama Oman langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Joseph. Oman meminta nomer Madun, Oji dan Cecep pada Ilyas.


Sementara itu Joseph juga masih terus menyusuri jurang. Dia juga tidak mau sampai kecolongan kalau Karina benar-benar sudah di buang ke jurang. Setidaknya dia harus menemukan jasad nya.


Sementara itu di tempat lain, Dave sedang berada di kediamannya. Dave bermaksud memberitahukan pada ayahnya tentang apa yang terjadi di perusahaannya dan juga orang kepercayaan ayahnya yang di rekomendasikan di perusahaan Dave.


Ketika sampai di rumah, Dave di sambut oleh Shafa adiknya.


"Malam kak, wah aku pasti mimpi ketiban durian runtuh semalam. Hingga kakak pulang!" ucap Shafa yang memeluk lengan Dave.


Dave hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh adiknya itu.


"Sudah menikah tapi tinggal terus di rumah ayah, kamu tidak takut suamimu akan berpaling pada asisten rumah tangga mu?" tanya Dave pada adiknya.


Sebuah pukulan manja pun akhirnya mendarat sempurna di lengan kekar Dave.


Plak


"Kakak, kenapa bicara begitu?" tanya Shafa.


Tapi kemudian Shafa sedikit berjinjit dan berbisik pada kakaknya itu.


"Memang itu yang ku harapkan!" bisiknya perlahan.


Dave hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan Shafa. Meski pernikahan Shafa dan suaminya adalah rencana Davina. Tapi tetap saja itu sebuah pernikahan yang di setujui oleh Shafa. Rasanya Dave tidak suka jika adiknya itu bicara seperti itu.


"Dimana ayah?" tanya Dave.


"Ini masalah pria, kamu tidak perlu tahu!" canda Dave pada adiknya.


"Ck.. ya sudah, tapi kalau sudah selesai urusan dengan ayah, kita makan malam bersama ya? sudah lama kita tidak makan malam bersama?" tanya Shafa pada Dave.


Dave pun menganggukkan kepalanya cepat. Dan Shafa pun melepaskan lengan Dave dan pergi ke arah dapur.


Dengan langkah cepat sambil menghela nafasnya Dave pun menuju ke arah ruang kerja ayahnya.


Tok tok tok


Tiga kali ketukan tangan Dave di pintu kayu berwarna coklat dengan ukiran yang sangat artistik.


"Ayah, ini aku!" seru Dave.


"Masuklah!" sahut Rizal dari dalam ruang kerjanya.


Dave pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Tanpa menunggu lama dan berbasa-basi, Dave langsung menghubungi Oman dan meminta anak buahnya itu mengirimkan semua yang sudah mereka dapatkan, bukti-bukti kecurangan Feri ke email sang ayah yang memang sedang memeriksa file penting di laptopnya.


Mata Rizal langsung melebar, dan dahinya berkerut. Feri adalah orang kepercayaannya, karena itu demi membantu Dave, Rizal merekomendasikan pria paruh baya itu di perusahaan anaknya. Rizal tidak menyangka kalau malah akan jadi seperti ini.


Dave melihat sang ayah yang memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat memikirkan apa yang dilakukan Feri langsung berkata.


"Aku tidak akan bawa masalah ini ke pihak berwajib, tapi kalau karyawati ku selamat. Jika Karina terluka, atau sesuatu terjadi padanya, maka aku tidak akan melepaskan orang itu meskipun orang itu dulunya sudah banyak berjasa untuk perusahaan ayah!" tegas Dave.


Rizal menghela nafas panjang.


"Aku mengerti, aku tidak akan ikut campur masalah ini. Tapi ayah tidak menyangka kalau Feri bisa berbuat sekejam ini." keluh Rizal yang sudah sangat percaya pada Feri.


Tapi ada hal lain yang membuat Rizal kemudian terdiam.


'Tapi sejak kapan Dave begitu perduli pada karyawati nya?' tanya Rizal dalam hati.


"Dave, apa penyakit mu sudah ada kemajuan?" tanya Rizal yang berusaha mengetahui apakah anaknya itu sudah sembuh hingga bisa menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita.


"Belum!" jawab Dave cepat dan membuat Rizal kembali menghela nafas berat.


Sementara itu di tempat lain, Karina tengah di gotong dari mobil para penjahat itu dan di bawa ke sebuah gudang yang berada tepat di belakang sebuah klub malam yang sangat ramai dan berisik.


Tapi karena gudang itu berada di belakang klub malam, jalan di sana sangat sepi dan jarang sekali ada yang melintas. Karina yang mang hanya pura-pura masih pingsan sangat ketakutan karena mereka memperlakukan dengan kasar. Dia dipanggul seperti jaring beras oleh pria yang badannya lebih besar dari yang lainnya, yang tadi bilang ingin main-main sebentar dengannya.


Setelah masuk ke dalam gudang, orang itu bahkan langsung membanting Karina begitu saja di tumpukan kardus.


'Ya Tuhan, tolong aku... tolong aku!' batin Karina yang tak berhenti berdoa sejak tadi.


"Heh Oji, mana asik bermain dengan wanita yang masih pingsan?" tanya Madun pada pria yang tadi membawa Karina masuk ke dalam gudang.


"Diam lah, cepat Ji! atau bos akan marah pada kita karena belum melapor!" ucap Cecep yang memang ingin segera menyelesaikan pekerjaan nya.


"Kenapa takut, kita kan sudah matikan ponsel kita dari perempatan jalan menuju ke sini tadi?" tanya Madun.


"Terserah kalian, aku mau beli ro*kok dulu. Cepat, aku tunggu di mobil setelah itu!" seru Cecep lalu keluar dari gudang.


"Aku akan ambil air untuk menyiramnya, supaya dia bangun. Tidak seru bermain dengan wanita yang pingsan dan tidak ada perlawanannya!" seru Oji yang juga berjalan keluar gudang menuju ke mobil mereka untuk mengambil air.


'Dua orang pergi, artinya hanya tinggal satu kan di sini. Aku harus melarikan diri!' batin Karina.


***


Bersambung...