
Di apartemen Joseph...
Joseph mencium bau hangus dari arah dapur untuk ketiga kalinya. Pagi-pagi sekali setelah ayah dan ibunya pergi bersama dengan Karina dan Randy untuk ke desa dan melamar Karina pada ibunya. Shafa juga langsung pergi ke apartemen Joseph.
Dia bahkan datang dengan banyak sekali tas belanja yang berisi banyak sekali bahan masakan, dari mulai daging, ikan, sayuran dan bahan-bahan lainnya.
Awalnya Joseph ingin membantu. Tapi Shafa memaksa agar Joseph istirahat saja sambil rebahan di sofa ruang televisi dan menonton acara televisi kesukaan nya.
Joseph hanya bisa menghela nafasnya dan sedikit menarik bibirnya ke atas membentuk senyuman. Ketika dia mencium aroma hangus dari arah dapur.
Sementara keadaan di dapur Joseph, jangan tanya lagi. Sudah seperti sebuah dapur dari sebuah rumah makan yang sangat ramai hingga para pelayan tidak sempat membersihkan dapurnya. Benar-benar sangat berantakan.
"Ya ampun, kenapa sih rotinya tidak mau matang dengan benar. Ini menyebalkan!" ujar Shafa yang melemparkan roti buatannya ke ke atas wastafel cuci piring bersama dengan loyangnya.
Setelah satu jam berkutat di dapur, Shafa pun menyerah. Dengan masih memakai Appron dan juga rambut yang sedikit berantakan bahkan ada sedikit tepung berhamburan di sana. Shafa berjalan dengan lemas ke ruang televisi.
Joseph yang melihat Shafa datang dengan wajah bete parah pun berusaha untuk menahan tawanya.
'Aku sudah menduga ini, dia pasti gagal memasak lagi!' batin Joseph.
Sekuat tenaga Joseph menahan tawa, karena dia tidak mau Shafa tambah bete lagi.
"Ada apa?" tanya Joseph berpura-pura tidak mengerti.
Shafa pun berdiri di depan Joseph. Dengan rambut dan penampilan yang sudah seperti adonan tepung dia berkata dengan pelan.
"Tidak ada satu masakan pun yang jadi!" ucapnya sedih.
Joseph lalu menarik tangan Shafa hingga Shafa jatuh ke pangkuannya.
"Pakaian ku kotor, nanti bajumu bisa kotor juga!" ucap Shafa yang ingin bangkit dari pangkuan Joseph.
Namun Joseph menahannya. Dia bahkan mendekatkan hidungnya ke hidung Shafa, membiarkan tepung yang ada di hidung Shafa menempel di hidungnya.
"Memangnya kenapa, kalau kotor kita tinggal mandi saja!" ucap Joseph.
"Kita mandi?" tanya Shafa dan Joseph menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Maksud mu kita mandi bersama?" tanya Shafa lagi dan Joseph pun lagi-lagi menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Wajah Shafa langsung memerah seperti kepiting rebus. Tapi kemudian Joseph kembali berkata.
"Kamu mandi di kamar mandi yang ada di kamar. Aku mandi di kamar mandi tamu!" jelas Joseph membuat Shafa cemberut.
Shafa sudah berpikir yang tidak-tidak. Rupanya Joseph malah memikirkan hal yang sama sekali di luar ekspektasi Shafa.
Melihat Shafa cemberut, Joseph pun mencubit hidung Shafa dengan gemas. Dan berbisik di telinga wanita itu.
"Sekarang belum saatnya kita mandi bersama, setelah aku melamar mu dan kita menikah. Kita baru bisa...!"
Shafa tidak membiarkan Joseph menyelesaikan perkataannya dan langsung bangkit berdiri.
"Memangnya siapa yang mau menikah dengan mu?" tanya Shafa yang hendak melangkah pergi.
Namun belum sempat dia melangkah, Joseph juga bangkit berdiri dan kembali menariknya.
Brukkkk
Bibir tebal Joseph memang mampu membuat Shafa merasakan perasaan yang begitu berbeda ketika benda kenyal itu menyentuh bibir mungil merah mudanya. Sensasi tersengat listrik tegangan rendah, yang membuatnya tidak ingin perasaan itu cepat berakhir.
Satu detik, dua detik, tiga detik...
Bahkan sudah dua puluh detik berlalu, namun Joseph tak kunjung memberikan Shafa kesempatan untuk membuka matanya. Dia terus membawa Shafa hanyut dalam perasaan dan rasa cinta mereka berdua. Hingga apa yang mereka lakukan itu membuat Joseph merasakan sesuatu yang ada di bawah sana mulai memberontak.
Tak ingin dirinya lepas kendali, Joseph pun melepaskan Shafa dan bergegas bangkit berdiri. Shafa membuka matanya ketika merasakan ada sesuatu yang hilang.
"Aku akan mandi di kamar mandi tamu, Shafa kamu bisa pakai kamar ku. Setelah itu aku akan pesan makanan untuk kita berdua!" ucap Joseph yang terburu-buru langsung masuk ke kamar mandi tamu.
Shafa langsung terduduk di sofa melihat ke arah kamar mandi yang pintunya sudah tertutup.
Shafa tersenyum malu, lalu bergegas masuk ke dalam kamar Joseph.
Satu jam kemudian, Shafa masih kesal menunggu Joseph yang belum keluar juga dari kamar mandi. Shafa bahkan sudah memesan makanan, dan makanan yang dia pesan juga sudah datang. Tapi Joseph tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
"Ya ampun, dia mandi lebih lama dari seorang perempuan!" kesalnya yang juga sudah menyiapkan makanan di atas piring di meja makan.
Karena sudah lapar, Shafa pun bergegas berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuknya dengan kuat.
Tok tok tok
"Pak tua! apa kamu pingsan di dalam?" tanya Shafa dengan suara yang sedikit meninggi. Takut kalau Joseph yang terdengar menyalakan shower tidak mendengar suaranya.
"Sebentar lagi!" seru Joseph dari dalam.
Shafa pun kembali bertanya.
"Apa semua baik-baik saja? apa bekas jahitannya terbuka lagi? pak tua! jangan membuat ku cemas, cepat keluar aku ingin lihat bekas jahitan di dada mu?" tanya Shafa dengan nada suara yang jelas menyiratkan kalau dia sangat mengkhawatirkan Joseph.
Shafa tidak hanya berseru, dia juga mengetuk pintu kamar mandi terus menerus. Hingga membuat Joseph yang belum selesai dengan urusannya meraih handuk dan melilitkannya sebatas pinggang.
Ceklek
Gluk
Shafa sampai menelan salivanya begitu melihat Joseph yang hanya memakai handuk. Roti sobek yang ada di depan matanya membuatnya terkesima. Bahkan Shafa tanpa sadar mengikuti arah setetes air yang jatuh dari rambut Joseph, ke lehernya lalu ke dadanya dan terus mengikuti rute roti sobek Joseph hingga ke...
"Kemana arah pandangan mu? kamu bilang ingin melihat ini?" tanya Joseph yang menunjuk ke arah bekas jahitan yang ada di dada sebelah kirinya.
Mata Shafa langsung menuju ke arah tangan Joseph dengan wajah yang memerah.
"Hei pak tua, roti sobek mu boleh juga!"
Shafa malah menggoda Joseph lagi, sakit kepala Joseph makin menjadi. Sakit kepala akibat yang tadi saja belum hilang, malah wanita di depannya itu menggodanya lagi. Alhasil, Joseph malah kembali masuk ke mar mandi untuk mendinginkan lagi kepala atas dan juga kepala bawahnya.
Melihat Joseph kembali masuk ke dalam kamar mandi, Shafa mendengus kesal.
"Astaga, apa dia itu duyung. Kenapa dari tadi senang sekali di kamar mandi dan mengguyur tubuhnya!" kesal Shafa yang tidak tahu apa yang sedang di rasakan oleh Joseph.
***
Bersambung...