Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 275


Malam harinya di adakan acara pengajian di kediaman Hendrawan. Semua orang berkumpul, acara berlangsung hikmat dan lancar hingga selesai. Semua orang juga terlihat lelah, Mika kecil bahkan sudah tertidur sejak pengajian masih berlangsung di pangkuan Dave. Anak manis itu tidak mau berada di barisan ibu-ibu dan wanita lain. Dia malah terus menempel pada Dave.


Beberapa orang yang mengenal Dave, tentu saja di buat heran atas apa yang mereka lihat. Myshopobia Dave sama sekali tak berpengaruh pada Mika. Bahkan semua orang bisa melihat betapa sabar dan sayangnya Dave mengahadapi Mika.


Tuan Praja juga hadir di sana bersama dengan Adi Praja. Dan Rizal serta Davina juga menyambut mereka dengan hangat. Di tengah segala keramaian para asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan dan juga minuman untuk para tamu yang ikut pengajian. Terlihat tiga gadis muda yang sedang ikut menjamu para tamu. Dengan pakaian muslim yang sopan, ketiganya terlihat sangat ramah. Mereka adalah Isnara, Lili dan Putri.


Isnara dan Putri memakai hijab mereka dengan benar. Tapi Lili justru hanya menautkan kerudungnya di bahu saja. Dengan rambut tergerai sana sini. Karina sudah menegurnya, tapi dia bilang akan membenarkannya. Begitu Karina pergi, dia mengubahnya lagi jadi seperti semula.


Di tengah para tamu, ada seorang pria berkacamata yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dia duduk menjauh sedikit dari yang lain karena tengah memberi arahan pada asistennya yang sedang melakukan terapi pada seorang pasien. Dia adalah Jimmy. Seharusnya dia di rumah sakit karena ada jadwal terapi, tapi demi keluarga Hendrawan dia menyerahkan tugas itu pada sang asisten yang juga lumayan ahli.


"Selamat malam, silahkan di minum tuan!" ucap seorang wanita cantik berhijab yang meletakkan segelas minuman di samping Jimmy duduk.


Mata Jimmy menoleh sekilas lalu mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih!"


Tapi baru akan melihat ke layar ponselnya lagi. Jimmy kembali melihat ke arah wanita yang sedang memberikan minuman pada orang yang berada di sebelah Jimmy.


'Cantik!' batin Jimmy.


"Silahkan kakek, ini minumannya!" ucap Isnara pada seorang kakek yang duduk di dekat Jimmy.


Mata Jimmy tak berkedip melihat Isnara yang membagikan minuman pada para tamu yang ada di barisan Jimmy.


'Cantik sekali, aku tidak menyangka om Hendrawan punya asisten rumah tangga secantik itu!' batin Jimmy yang masih terus melihat ke arah Isnara yang bahkan sudah sangat jauh dari dirinya berada.


Sementara itu Putri dan Lili juga membagikan minuman di barisan lain. Oman dan Joseph yang berada di sana. Di barisan para pengawal dan para staf kantor Dave juga Randy.


'Ya ampun, tampan-tampan sekali teman-teman kakak ipar! yang badannya besar itu juga sangat tampan!' batin Lili melihat ke arah Oman.


"Silahkan tuan!" ucap Putri sopan.


Lili pun sibuk membenarkan rambut dan kerudungnya. Dia lalu meraih gelas yang ada di nampan yang di pegang Putri dan memberikannya pada Oman.


"Ini tuan silahkan minimum!" kata Lili.


"Letakkan saja!" seru Oman cuek.


Lili sedikit kecewa, dia langsung meletakkan nya di samping Oman duduk. Tapi dia malah sengaja memperlambat apa yang dia lakukan hingga membuat Oman merasa terganggu.


"Hei, pelayan baru ya? kenapa meletakkan minuman saja lama sekali sih?" tanya Oman kesal.


Lili terkejut bukan main di bilang pelayan oleh Oman. Joseph yang sudah tahu kalau dua wanita itu adiknya Karina. Langsung menepuk bahu Oman dengan lumayan kuat.


"Hei, Oman. Hati-hati bicara! mereka berdua adiknya Karina!" jelas Joseph.


Oman lalu melihat ke arah Putri dan juga Lili bergantian.


"Kau bercanda Jo!" ucap Oman.


"Kalau dia..!" Oman menunjuk ke arah Putri.


"Aku tidak percaya dia adiknya Karina. Lihat saja gayanya genit sekali!" ucap Oman pelan. Meski dia kesal dia juga tak mau membuat orang lain mendengar apa yang dia katakan.


Lili benar-benar mati gaya. Joseph juga tidak membantah apa yang Oman katakan. Kalau Oman saja yang notabene nya orang yang cuek dan tak perduli saja bisa kesal seperti itu. Artinya memang Lili tingkahnya meresahkan.


Mata Lili berkaca-kaca, dia langsung berlari ke arah rumah utama. Putri yang tidak enak hati langsung menyusulnya.


"Sabar!" ucap Joseph sambil memeluk bahu Oman.


"Aku kesal sekali Jo, sejak aku datang tadi. Dia terus mengganggu ku. Dia tanya siapa namaku, apakah aku temannya tuan Randy. Dia benar-benar genit, aku tahu dia adiknya Karina. Aku sengaja berkata seperti itu padanya. Karena kalau anak itu tidak di beri peringatan seperti tadi, entah siapa lagi yang akan dia ganggu. Dia hanya akan menjelekkan nama Karina saja kalau sikapnya terus seperti itu!" jelas Oman.


Joseph pun mengangguk paham. Dia memang mengerti maksud Oman. Joseph mengerti kalau Oman ingin Lili sadar dan menghentikan sikap genitnya. Karena nama baik Karina dan keluarga Hendrawan akan di pertaruhkan di sini.


"Kau benar! tumben kau pintar?" tanya Joseph.


Oman menyipitkan matanya ke arah Joseph.


"Aku ini memang pintar, sebentar lagi posisi mu akan ku gantikan!"


Plakk


Joseph pun melayangkan tangannya ke arah kepala Oman.


"Jangan mimpi, baru ku puji sedikit saja langsung besar kepala. Mau menyingkirkan aku, kau butuh ribuan tahun lagi anak muda!" ketus Joseph.


Oman hanya berdecak kesal sambil menjauh dari Joseph.


"Iya iya, yang sudah tua bangka!" ucap Oman yang langsung berlari menjauh dari Joseph.


Sementara itu di kamar tamu. Lili sedang menangis karena sangat kesal dengan ucapan Oman tadi. Putri yang ikut menyusulnya langsung memberikan Lili tissue.


"Kak, sudahlah. Jangan menangis. Jangan pikirkan apa yang orang tadi katakan. Karena memang kak Lili yang bersikap berlebihan kan?" tanya Putri.


Mata Lili melotot tajam ke arah Putri.


"Apa maksud mu?" tanya Lili kesal.


"Kak, kita di sini untuk mendampingi kak Karina di hari bahagianya. Jadi jangan merusak semua usaha kak Karina, kalau masalah Kak Lili ingin mendapatkan pria tampan dan kaya seperti kak karina. Kak Lili juga harus bekerja keras seperti kak Karina. Kak Karina sudah sangat bekerja keras untuk kita, untuk ibu. Kak Lili jangan membuat malu kak Karina ya. Tolong jangan bersikap berlebihan mencari perhatian lagi, kalau memang jodoh nanti pasti akan datang sendiri. Kakak juga kan masih kuliah, untuk apa melakukan semua ini? Fokus saja pada kuliah kakak." tutur Putri sambil mengusap lembut rambut Lili.


Lili terdiam, karena semua yang dikatakan Putri memang benar. Dia sungguh malu karena adiknya yang lebih muda dua tahun darinya malah menasehatinya seperti itu.


"Maaf ya!" lirih Lili yang langsung di peluk oleh Putri.


Dari balik pintu, Sila melihat semua itu. Dan dia bangga pada Putri yang memang sifatnya sama persis seperti Karina. Tadi saat Lili berlari masuk dengan cepat disusul oleh putri, Sila melihatnya. Dia takut mereka kenapa-kenapa dan langsung menyusul mereka. Tapi setelah semua di selesaikan oleh putri, Sila pun menghela nafas lega dan kembali ke tempat acara.


***


Bersambung...