
Keesokan harinya...
Ketika sinar matahari sudah mulai masuk melalui setiap celah kecil di kamar Randy. Dua pasangan pengantin baru yang semalam lembut itu masih terlihat terlelap dan memejamkan mata mereka.
Karena posisi Karina menghadap ke arah jendela, sinar mentari pagi itu menyilaukan nya dan membuatnya terbangun. Perlahan Karina membuka matanya, namun rasanya ada sesuatu yang berat di perutnya.
Ketika Karina benar-benar melihatnya, senyum terukir di wajahnya. Randy masih tertidur sambil memeluknya. Dan yang lebih membuat Karina membelalak kan matanya. Mereka masih dalam keadaan polos.
Karina langsung lompat mengusap wajahnya kasar. Apalagi saat dia melihat jam di dinding kamar Randy yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Astaga, sudah jam 7, ibu akan berangkat satu jam lagi!" gumamnya yang langsung mengangkat tangan Randy dari perutnya.
Tapi Randy malah hanya sedikit menggeliatkan tubuhnya dan malah semakin kencang memeluk perut Karina.
Deg deg deg
Meskipun semalam mereka sudah bersatu, tapi kulit polos Randy yang menempel langsung ke perut Karina. Tetap saja membuat Karina merinding dan kembali tidak tenang.
"Randy... Randy bangun. Lepaskan aku, aku harus mandi, kita sudah kesiangan!" seru Karina.
"Hem...!"
Tapi Randy hanya menanggapi perkataan Karina itu dengan deheman, membuat Karina gemas sendiri lalu menggigit lengan Randy yang tak mau pria itu angkat darinya.
"Agkhh!"
Randy langsung memekik dan mengangkat tangannya dari perut Karina.
"Sayang, ini masih pagi loh. Mau lagi?" tanya Randy dengan senyum yang memuat Karina ingin memukul wajahnya.
Dan benar saja, begitu Karina berhasil turun dari tempat tidur karena Randy sudah tak lagi memeluknya. Karina mengambil bantal dan langsung melempar wajah Randy dengan bantal itu.
Bukk
"Mau lagi... mau lagi! rasakan itu!" seru Karina yang kesal pada Randy yang malah menggodanya tak karuan.
Randy hanya tersenyum puas begitu menyingkirkan bantal itu dari wajahnya, pemandangan indah tersaji di hadapannya.
"Sayang, dadamu benar-benar...!"
Randy menggelengkan kepalanya, membuat Karina yang langsung sadar kalau dirinya tengah polos dan berdiri di depan Randy pun segera berlari ke arah kamar mandi sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Brakk
Karina membanting pintu kamar mandi. Tapi Randy malah terkekeh. Dia terus melihat ke arah kamar mandi, perasaan Randy tak bisa dia lukiskan lewat ribuan kata-kata yang bisa tersusun oleh pujangga. Perasaan nya lebih dari itu, berbunga-bunga, bahagia.
Melihat selimut yang menutupi tubuhnya, Randy pun penasaran akan sesuatu. Dan dia juga langsung menyibak selimut yang dia pakai. Senyuman di wajahnya kembali mengembang bahkan lebih lebar dari sebelumnya ketika melihat bercak merah yang ada pada sprei yang mereka pakai.
Tanpa pikir lagi, karena sangat gemas setelah apa yang dia lihat. Randy pun turun dari tempat tidur dan menyusul Karina di kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang, buka pintunya. Aduh... perut ku mulas!" ucap Randy dari depan pintu kamar mandi.
Karina yang baru saja menyalakan shower dan membasuh tubuhnya dan menuangkan sabun di tangannya pun menyahut.
"Sebentar lagi...!"
"Sayang, sudah tidak bisa di tahan!" seru Randy semakin membuat Karina cemas.
"Kalau begitu pakai kamar mandi lain!" seru Karina yang tengah menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Sayang, bukalah... ini sudah tidak bisa di tahan. Aduh... aduh!"
Mendengar Randy yang terus mengeluh dan terdengar sudah tidak bisa menahan mulas. Karina pun menghela nafas pelan membuat bahunya sedikit naik dan turun sekilas.
Ceklek
Karina pun membuka pintu kamar mandi. Tapi matanya langsung mengarah pada pusaka suaminya yang sudah on.
"Maksudmu yang sudah tidak tahan itu...!" Karina menjeda kalimatnya melihat Randy mengunci pintu kamar mandi dan tersenyum menyeringai ke arahnya.
"Tidak... Randy, kita sudah kesiangan dan ak...emmpt!"
Dan tentu saja, acara mandi Karina berubah menjadi acara lain. Hingga setengah jam kemudian.
"Randy, ibuku akan berangkat jam 8. Ini sudah jam setengah delapan!" ucap Karina setelah Randy melepaskannya.
Mata Randy melebar, kemudian dia berkata.
"Sayang, kenapa tidak bilang sejak tadi. Cepat kita mandi!" ucap Randy yang langsung mendapatkan pukulan sayang dari Karina di lengannya.
Plakk
"Aku sudah mengatakan nya sejak tadi...?" kesal Karina.
"Sayang, sakit. Aku akan mengadukan mu pada ibumu!"
Mata Karina membelalak sempurna mendengar ucapan Randy itu.
Plakk plakkk plakkk
Karina kembali memukul lengan Randy sampai lengan suaminya itu merah.
"Rasakan itu, lapor sana. Tapi jangan harap ibumu percaya. Dia lebih percaya padaku!" seru Karina yang menjulurkan lidahnya sebelum menyalakan shower dan kembali membasuh seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki.
Randy hanya tersenyum, dia pun ikut berdiri di bawah shower agar menghemat waktu mereka. Begitu air mengguyur tubuhnya, Randy baru merasakan perih di punggung nya. Tapi dia menahannya dan tidak mengeluarkan suara karena khawatir Karina akan merasa bersalah padanya, karena rasa sakit di punggung Randy itu adalah ulah Karina.
Tapi semua itu karena Karina juga merasakan sakit yang luar biasa semalam. Setelah acara mandi selesai, dua pasangan muda itu ganti pakaian dan langsung menuju pintu kamar mereka.
Ceklek
"Selamat pagi!"
Karina dan Randy tersentak kaget ketika dia membuka pintu, Dave, Sila, Davina, Shafa dan kedua adik Karina sudah ada di depan pintu.
Wajah Karina langsung memerah karena tatapan mereka semua mencurigakan.
"Ibu, maaf aku... kami bangun kesiangan!" ucap Karina yang merasa tidak enak pada Davina.
Tapi wanita paruh baya itu malah tersenyum senang. Dia langsung merangkul Karina.
"Ibu mengerti, bagaimana tidur kalian? nyenyak tidak? atau kalian tidur tidur?" tanya Davina yang membuat Karina bertambah merah wajahnya.
Sila dan yang lain malah terkekeh. Membuat Randy juga menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ibu... jangan mengganggu Karina begitu!" tegur Randy yang ingin menjadi pahlawan dari istrinya.
Mereka pun turun ke lantai satu, mereka sarapan pagi bersama sebelum Marlina, Lili dan Putri. Juga Bu RT dan Isnara meninggalkan rumah itu dan kota ini untuk kembali ke desa.
Di depan rumah, Karina memeluk ibunya dengan derai air mata.
"Jangan menangis nak, ibu akan kembali ke desa. Tapi kamu juga bisa sering-sering ke sana kan?" tanya Marlina dan Karina pun mengangguk sambil menyeka air matanya.
Marlina sekali lagi memeluk Karina.
"Kamu beruntung nak, ayah dan ibu mertuamu sangat baik. Hormat dan sayang lah pada mereka ya nak. Jadilah istri dan menantu yang baik, juga ipar yang baik!" ucap Marlina menasehati putrinya sekali lagi.
Karina mengangguk paham. Randy langsung memeluk pinggang Karina.
"Ibu tenang saja, aku akan menjaga putri ibu ini lebih dari aku menjaga diriku sendiri!"
Marlina tersenyum mendengar ucapan Randy.
"Terimakasih nak Randy!"
Marlina tersenyum lega melihat begitu banyak cinta untuk Karina dari keluarga ini. Dia masuk ke dalam mobil begitu pula Lili dan Putri. Saat mobil sudah hampir meninggalkan gerbang, Marlina kembali berbalik dan melihat Karina yang masih di rangkul oleh Randy dari kaca belakang mobil.
'Kang Lihin, putrimu sudah jadi istri orang. Dan aku yakin dia akan sangat bahagia. Suaminya, juga keluarga suaminya sangat baik. Terimakasih sudah melindungi putri kita selama ini, sekarang sudah ada yang akan melindunginya. Kamu bisa tenang kang...!' batin Marlina yang kembali menangis haru.
***
Bersambung...