
Sila masih berusaha mencatat apa saja keperluan Dave saat meeting atau perjalanan dinas dari Joseph. Pria berwajah garang yang selalu bersama dengan Dave itu terlihat kikuk saat bicara pada Sila. Jika biasanya dia akan sangat tegas pada karyawan baru, tapi karena dia tahu bahwa Sila itu adalah istri dari bosnya dan itu berarti kalau Sila adalah nyonya bos. Joseph malah jadi canggung dan serba salah, bahkan setiap kalimat yang dia ucapkan dia memakai kata anda pada Sila, bukan kamu.
Tentu saja hal itu membuat Anita yang juga sesekali memperhatikan apa yang sedang dia rekan kerjanya itu lakukan jadi kesal sendiri. Anita bahkan tak jarang harus melirik dan menaikkan alisnya ketika Joseph bicara pada Sila. Karena terkesan tidak mau menggunakan kalimat non formal atau biasa. Joseph terkesan sangat formal dan menjaga ucapannya.
'Ya ampun, aku tidak pernah melihat tuan Joseph sangat kikuk begitu ketika mengajari karyawan baru!' gumam Anita dalam hati sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lakukan Joseph.
"Dan setiap perjalanan dinas, tuan akan membawa beberapa setel pakaian kerja saja, karena tuan Dave memang sangat sibuk bekerja kalau dinas, untuk makan malam bersama klien juga tuan Dave akan pakai pakaian kerja. Saya rasa hanya itu saja yang bisa saya jelaskan, karena anda job description anda hanya seputar keperluan pribadi dan menyangkut tuan Dave saja, masalah akomodasi, reservasi dan segala macamnya adalah tugas saya nona Sila!" jelas Joseph pada Sila.
Dan lagi-lagi, Anita mengangkat alisnya dan mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Joseph.
'Ya ampun, dia bilang saya, dan anda, lalu nona Sila. Ya ampun Joseph kenapa seperti itu sih, atau jangan-jangan...!' pikir Anita.
Anita lalu melihat ke arah Sila dan juga Joseph secara bergantian. Menurut Anita gesture yang ditunjukkan oleh Joseph adalah gesture menghormati. Dan Sila biasa saja. Anita lantas membulatkan matanya dengan sempurna.
'Astaga, atau jangan-jangan tuan Joseph menyukai Sila!' seru Anita dalam hati.
Anita lalu kembali memperhatikan Sila.
'Kalau di lihat-lihat memang Sila cukup cantik sih, dia juga lumayan pintar. Meskipun tidak sepintar aku. Wah, kalau memang tuan Joseph menyukai Sila, itu hal bagus. Tuan Joseph kan sudah kepala 3 dan belum punya pasangan, kalau aku bisa membantunya mendapatkan Sila. Dia pasti akan merasa berhutang budi padaku, dan dia tidak akan galak-galak lagi padaku!' gumam Anita dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Tak lama kemudian, Joseph keluar dari ruang sekertaris. Dan beberapa menit kemudian, Joseph kembali lagi ke ruang sekertaris dan memanggil Sila dan juga Anita.
"Anita, bos memanggil mu keruangan nya!" ucap Joseph pada Anita.
Lalu dia menoleh ke arah meja kerja Sila.
"Nona Sila, bos meminta anda keruangan nya sekarang!" ucap Joseph pada Sila lalu segera keluar lagi dari ruang sekertaris.
Anita sedikit sewot karena Joseph bersikap berbeda antara dirinya dan juga Sila. Anita lalu membawa tablet yang biasa dia bawa kemudian mendekati Sila yang hanya membawa sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen.
"Eh, kamu sudah kenal berapa lama sama tuan Joseph?" tanya Anita membuat langkah Sila terhenti saat akan berjalan menuju ke arah pintu keluar ruang sekertaris.
"Dengan tuan Joseph?" tanya Sila.
Anita langsung mengangguk cepat.
"Iya, kelihatan sekali kalau dia sangat perhatian padamu. Sepertinya dia menyukai mu!" ucap Anita yang sudah mulai dalam mode Mak comblang on.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Anita, Sila langsung terkekeh.
"Eh kenapa malah tertawa?" tanya Anita heran.
Sila langsung menghentikan kekehannya.
"Maaf Anita, tapi apa yang kamu katakan barusan benar-benar tidak masuk akal!" jawab Sila terus terang sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
"Ih, kamu tuh gak peka banget deh. Tuan Joseph itu benar-benar menyukai mu!" ucap Anita yang masih berusaha menjadi Mak comblang.
Sila langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin Anita, sudahlah. Bos pasti sedang menunggu kita!" ucap Sila yang langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar.
'Kenapa dia malah tidak percaya dengan apa yang aku katakan, malah bilang tuan Joseph tidak menyukainya. Atau jangan-jangan dia memang sudah punya pacar ya? atau punya suami? ih... kenapa aku malah mengurusi urusan orang sih?' pikir Anita yang mulai sadar kalau dia tidak seharusnya mengurusi urusan orang lain.
Saat Sila sampai di ruangan Dave, Anita mendahului nya berada di depan dan dia yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Senior yang di depan!" ucap Anita pelan pada Sila. Dan Sila langsung mengangguk paham dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Masuk!" suara Dave menyahut dari dalam.
Anita lalu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Dave, di susul oleh Sila. Ketika mereka masuk, mata mereka berdua langsung tertuju pada seorang wanita yang tengah berdiri di depan meja kerja Dave dengan pakaian yang sama sekali bukan pakaian kerja. Dress ketat warna merah, dengan lengan panjang. Lengannya memang panjang, tapi bagian belakangnya bolong lebar sekali.
"Anita, kamu sudah kenal dengan Luna kan?" tanya Dave pada Anita.
Anita langsung mengangguk mendengar apa yang baru saja Dave katakan. Sementara Sila yang tidak di tanya memilih untuk tetap diam.
"Dia juga akan menjadi sekertaris ku, tapi karena dia tidak punya pengalaman bekerja sama sekali, aku perintahkan padamu agar bisa mendidiknya dengan baik. Kamu yang paling berpengalaman dalam hal ini.."
"Dave apa maksud mu? kenapa malah memintanya mengajariku? aku tidak mau dia yang mengajariku, Tante Davina bilang aku harus selalu berada di dekatmu!" ucap Luna menyela apa yang dikatakan Dave.
Mendengar apa yang baru saja Luna katakan, Sila yang awalnya hanya menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dave.
Dave yang memang sejak tadi melihat ke arah Sila melihat mata Sila yang menunjukkan ekspresi terkejut.
"Sekarang aku tanya padamu? apa tujuan mu datang ke kantor ku ini?" tanya Dave dengan nada tegas pada Luna.
Luna yang awalnya sangat percaya diri langsung terdiam ketika nada suara Dave berubah tegas dan wajahnya terlihat dingin.
"Em... untuk bekerja!" jawab Luna tergagap.
"Kalau begitu tunggu apalagi, pergi ke ruang sekertaris bersama dengan Anita, agar Anita bisa mengajari mu dan memberitahu mu apa saja yang harus di kerjakan oleh sekertaris!" seru Dave membuat Anita nyaris tak bisa menahan ingin tertawa, tapi dia langsung memalingkan wajahnya dan menutupi mulutnya.
"Ck.. baiklah!" ucap Luna lalu meraih tas mahalnya dari atas meja kerja Dave dan berjalan ke arah Anita.
"Silahkan nona..!" ucap Anita sopan mempersilahkan Luna. Anita bersikap seperti itu karen tahu kalau Luna adalah calon istri Dave, ibunya Dave sendiri yang pernah datang ke kantor dan memberi pengumuman itu saat desas desus bahwa Dave tidak suka pada perempuan sedang hangat-hangatnya saat itu.
"Eh Anita, kenapa panggil dia seperti itu. Kamu adalah seniornya, jangan bersikap lembek padanya. Ajari dia dengan benar dan tegas!" seru Dave uang menyela Anita.
Anita terlihat sangat senang mendengar apa yang dikatakan Dave.
'Yes, akhirnya aku bisa membalas nona muda manja ini!' batin Anita sangat senang.
Saat Sila juga akan keluar bersama Anita dan Luna, Dave memanggilnya.
"Sila, aku membutuhkan mu disini!" ucapnya membuat ketiga wanita itu berhenti.
"Kenapa? untuk apa dia di ruangan mu?" tanya Luna yang menatap Sila dengan tidak senang.
"Bukan urusan mu, dia juga sekertaris pribadi ku, tentu saja ada pekerjaan untuknya. Keluar!" ketus Dave yang membuat Anita langsung mengajak Luna keluar dari ruangan itu menyisakan Sila yang terlihat bingung kenapa Dave menahannya di ruangannya.
***
Bersambung...