
Sila sudah tiba di rumah sakit yang sudah di berikan alamatnya oleh Oman. Karena Oman juga masih sibuk membantu pak Haris dan keluarganya menyelesaikan berbagai administrasi. Setalah di tangani secara intensif di ruang UGD, dua jam setelah itu pak Haris sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Sila dan Dave pun menemui pak Haris di ruang rawatnya.
Melihat Sila dan Dave masuk ke dalam, Murti yang duduk di sebelah ranjang pasien Haris pun segera berdiri dan menghampiri Sila, tentu saja hal itu membuat Dave menjauh sedikit dari mereka.
"Sila, kata dokter ayahnya Hadi akan segera sadar setelah di pindahkan. Tapi sekarang sudah satu jam Sila, dan dia belum membuka matanya sama sekali!" kata Murti yang terlihat sangat cemas.
"Bu Murti sabar ya, sebelum kemari kami sudah bertemu Oman, dan dia sudah menjelaskan semuanya. Kondisi ayah Haris sudah lebih stabil, tapi memang dalam usianya dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk pemulihan. Bu Murti harus tenang, dan berpikir positif saja!" ucap Sila mencoba menasehati sekaligus menenangkan Murti yang memang terlihat sangat cemas dan panik dalam waktu bersamaan.
Murti pun mengangguk paham, tak lama kemudian Zain juga sudah datang. Karena Zain sudah datang, Sila pun pamit pada Murti.
"Bu, Zain sudah datang. Aku pamit ya Bu, semoga kalian bisa dengan sabar melewati semua ini. Percayalah Bu, pasti ada hikmah di setiap ujian yang Allah berikan kepada kita. Ibu dan ayah jaga kesehatan kalian baik-baik setelah ini ya...!"
Zain yang mendengar kata-kata Sila sepertinya akan pergi dan tidak akan menemui mereka lagi dalam waktu dekat pun segera menghampiri Sila.
"Kak Sila, ada yang ingin aku sampaikan padamu!" ucap Zain membuat Sila beralih dari Murti pada pria yang baru datang dan masih terlihat lelah itu.
"Ada apa?" tanya Sila.
Sebelum Zain mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Sila, dia melihat ke arah Dave yang juga menayapnya datar.
"Tuan aku mohon maaf harus mengatakan hal ini pada kak Sila, ini tentang kak Hadi!" ucap Zain meminta ijin pada Dave.
Karena Zain meminta ijin dengan sopan, dan dari yang dia dengar dari Sila kalau Zain juga adalah orang yang selalu baik padanya. Maka Dave pun mengangguk setuju.
"Katakan saja!" seru Dave dengan nada suara dan raut wajah datar.
Zain terlihat senang, dia bahkan mengucapkan terima kasih pada Dave.
"Terimakasih tuan!" ujarnya lalu beralih pada Sila.
"Sebenarnya begini kak Sila, saat aku di dalam kereta tadi. Kak Hadi menghubungi ku dari penjara, dia berkata dia sangat menyesal dan dia sangat merasa bersalah pada kak Sila dan juga Mika. Kak Hadi sudah mengakui semua perbuatannya, dia benar-benar merasa bersalah kak." jelas Zain yang membuat Dave menaikkan sebelah alisnya.
Dave merasa dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Zain tersebut.
"Kalau kamu ingin katakan Hadi Tama itu ingin bertemu dengan Sila dan Mika, itu tidak mungkin. Anak dan istriku tidak akan pernah menginjakkan kaki mereka di penjara!" tegas Dave yang membuat Zain langsung berkeringat dingin.
Dave berkata seperti itu dengan tatapan mata tajam dan wajah yang begitu dingin. Jangankan Zain yang sudah berkeringat dingin, bahkan Murti saja sudah memundurkan langkahnya karena tekanan yang mendominasi dari suara tegas Dave Hendrawan tersebut.
Sila hanya bisa menghela nafas panjang saat suaminya berkata seperti itu. Dia juga berpikir hal yang sama dengan Dave.
Zain terlihat menunduk, dia merasa sangat sedih tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak.
"Jika kamu menemui mas Hadi, katakan padanya kalau aku sudah memaafkan dirinya"
Tes tes
Tanpa terasa air mata Murti menetes begitu saja dari dua sudut matanya.
Zain bahkan menatap Sila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah melupakan semua perbuatan mas Hadi padaku, aku sungguh telah memaafkannya! tapi maaf karena aku sama sekali tidak ingin ikut campur lagi atau ada urusan apapun lagi dengannya. Karena aku sudah punya suami dan keluarga ku yang baru sekarang. Aku sangat menghargai hubungan ini! jadi mulai sekarang, Zain kaulah yang harus menjaga ayah Haris dan Bu Murti ya. Aku doakan semoga kalian bisa hidup dengan baik dan sejahtera!" ucap Sila panjang lebar.
Zain hanya bisa diam mendengar semua yang Sila ucapkan.
Setelah itu Sila dan Dave pun pergi dari sana. Dengan Oman yang sudah memberikan semua rincian administrasi juga sebuah cek yang diberikan oleh Dave untuk pak Haris dan Murti memulai kehidupan baru mereka di kampung. Karena Hadi memang sudah tidak punya sepeserpun uang lagi.
Setelah kepergian Sila, Murti memeluk Zain sambil menangis sesegukan.
"Padahal kamu selalu bilang pada ibu, kalau kakak ipar mu itu baik sekali. Tapi ibu yang tidak mau mendengarnya. Sekarang dia benar-benar sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi Zain...!" lirih Murti yang merasa sangat sedih telah salah menilai Sila selama ini.
Mendengar semua ucapan ibunya Zain hanya bisa diam.
"Bu, ayah kan sudah tidak apa-apa. Sebaiknya ibu juga istirahat dulu. Aku akan menemui kak Hadi di penjara, untuk bilang kalau setelah ayah boleh keluar dari rumah sakit. Kita akan segera kembali ke kampung!" ucap Zain.
"Tapi Zain, bagaimana dengan persidangan Hadi? apa kita akan membiarkan dia sendirian di sini?" tanya Murti panik.
"Aku akan bicarakan itu dengan kak Hadi Bu, masalahnya aku hanya di ijinkan cuti dua hari saja. Jika lebih dari itu kemungkinan aku akan di demosi, sekarang cari kerja sangat sulit Bu. Jadi aku mohon pengertian ibu ya!" ucap Zain dan Murti pun hanya bisa terdiam.
Dia paham kalau Zain pulang maka dia dan Haris juga akan banyak menghabiskan uang di tempat ini, sementara Dave memberikan uang itu untuk modal usaha di kampung. Kalau mereka menggunakan nya hanya untuk menemani persidangan Hadi yang belum pasti. Maka mereka malah tidak akan bisa membangun usaha di kampung.
Murti pun hanya bisa menghela nafasnya, dia lalu menganggukkan kepalanya di depan Zain.
"Baiklah, sampaikan permintaan maaf ibu untuk kakakmu karena tak bisa menemani persidangan nya. Tapi sampaikan padanya, ibu selalu mendoakan yang terbaik untuknya!" ucap Murti sambil berderaian air mata.
"Iya Bu!" jawab Zain lalu memeluk ibunya.
***
Bersambung...