Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 172


Sementara itu di tempat lain, di sebuah hotel yang ada tak jauh dari sebuah klub malam. Seorang gadis tengah menangis di dekat jendela kamar hotel, dengan memeluk selimut putih tanpa memakai apapun sebagai penutup tubuhnya selain selimut putih itu.


Gadis itu adalah Rosa, dia terisak terdengar sangat memilukan.


Sedangkan di atas ranjang tempat tidur, tengah tertidur seorang pria yang tampan dengan keadaan yang sama polosnya dengan Rosa.


Pria itu adalah Hadi Tama, dia perlahan membuka matanya ketika mendengar suara tangisan Rosa yang terdengar begitu memilukan.


Hadi masih berusaha mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, kepalanya terasa pusing tak dia tak bisa mengabaikan suara tangis itu. Hadi perlahan bangun, dan dengan posisi duduk selimut yang tadinya menutupi tubuhnya pun turun, merasa dingin pada tubuhnya Hadi barulah menyadari kalau ternyata dia sudah tak mengenakan sehelai pakaian pun selain selimut hotel yang menutupi tubuhnya.


Matanya terbuka lebar, dia yang tadinya sangat pusing berusaha untuk menyibak selimut yang dia pegang. Karena ingatannya samar-samar seperti tengah memaksa Rosa untuk minum bersamanya karena masalah yang dia hadapi di perusahaan dan dengan Susan.


Ternyata benar, saat dia membuka selimut ada noda darah di atas sprei tempat tidur. Hadi Tama langsung memukulkan kedua tangannya pada kepalanya. Hingga beberapa kali Hadi melakukan itu, dia merutuk1 kebodohan yang dia lakukan pada Rosa.


Masalahnya dengan Susan saja belum selesai, sekarang dia membuat masalah baru, menambah masalah baru dengan menghancurkan kehidupan seorang gadis yang masih peraw4n. Hadi mendengus kesal pada dirinya sendiri, apalagi mendengar tangisan sedih Rosa. Dia sungguh menyesal karena telah minum minuman keras lagi hingga mabuk dan melakukan hal tercela pada Rosa.


Penyesalan Hadi adalah karena Rosa masih peraw4n, kalau tidak dia tidak akan terlalu pusing dan akan memberikan ganti rugi berupa uang yang banyak pada Rosa.


Hadi langsung mendekati Rosa, setelah dirinya meraih celananya dan memakainya. Tangan Hadi perlahan menyentuh Rosa tapi Rosa menepisnya dengan cepat.


"Jangan sentuh aku, aku sudah minta padamu agar jangan melakukan hal lebih, kenapa pak Hadi. Apa aku serendah itu di matamu? aku hanya ingin menghibur mu pak Hadi, menemanimu saat kamu berada dalam kegusaran, kenapa malah kamu perlakukan aku seperti ini pak Hadi. Aku sudah menjaga harta berhargaku ini bertahun-tahun untuk suamiku, tapi kamu merampasnya dengan kasar pak Hadi. Sekarang tidak akan ada lagi yang akan menerimaku, tidak akan ada yang akan menikahi ku, kamu menghancurkan hidupku pak Hadi. Kamu jahat...!" tangis Rosa kembali pecah.


Hadi merasa sangat bersalah pada Rosa. Dia memang bukan pria setia, tapi dia memang salah telah merampas keperawan4n Rosa dengan paksa. Meskipun dia tidak begitu yakin apa yang sudah dia lakukan karena dia sedang mabuk malam itu. Tapi tangisan Rosa, noda darah di sprei, dan keadaan mereka yang sama-sama tidak berpakaian membuktikan apa yang Rosa katakan itu benar.


Hadi langsung duduk berjongkok di depan Rosa. Bagaimana pun dia juga tidak bisa lari dari tanggung jawab, apalagi Hadi sangat yakin kalau dia tidak memakai pengaman.


"Aku akan bertanggungjawab!" ucap Hadi membuat Rosa menoleh ke arah Hadi dengan tatapan tak percaya.


"Pak Hadi bilang apa?" tanya Rosa dengan suara lirih dan tatapan mata sedih dan juga sayu.


"Aku akan bertanggungjawab, aku akan menikahi mu!" ucap Hadi lagi.


Rosa mendorong Hadi hingga Hadi terjatuh.


"Pak Hadi pasti bohong, pak Hadi mengatakan itu agar aku tutup mulut kan. Pak Hadi akan menikah bagaimana mungkin pak Hadi akan menikahi aku, biar aku mati saja!" pekik Rosa yang langsung berdiri dan berlari ke arah jendela kamar hotel.


Rosa memegang kuat selimut yang melilit tubuhnya dan mulai menaiki tangga itu, Rosa begitu nekat, dia sudah merasa tidak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini.


Hadi yang terkejut bukan main karena tindakan Rosa langsung berdiri dan mengejarnya, dia menarik pinggang Rosa dan memeluknya.


Rosa kembali terisak, dia memukul tangan Hadi yang memegang pinggangnya.


"Lepaskan aku, biarkan aku mati. Kenapa melarang ku, kamu juga tidak mau menikahi ku dengan benar. Kamu hanya ingin aku jadi simpanan, aku akan di sebut sebagai perusak rumah tangga orang. Padahal kamu yang menghancurkan hidup ku, lepaskan aku... lepaskan aku..!" teriak Rosa terus memberontak pada Hadi.


Hadi yang sudah sangat kebingungan mulai tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi pernikahannya dengan Susan bahkan sudah di tetapkan, dan sudah hampir setengah undangan pernikahan yang tersebar. Dia juga tak mungkin menyakiti Susan, sekarang pacarnya itu tengah hamil anaknya bahkan sudah dua bulan lebih. Hadi benar-benar di buat sakit kepala bukan main.


Kalau dia melepaskan Rosa, maka di lihat dari betapa frustasi nya Risa. Mungkin saja dia benar-benar akan melompat dari jendela, dan itu akan menimbulkan masalah besar bagi kehidupan Hadi Tama juga.


"Lepaskan aku, aku tidak ingin hidup lagi. Lepaskan aku...!" teriak Rosa.


"Baik.. baik.. kita akan menikah secara sah. Sekarang juga aku akan bawa kamu menemui ayah dan ibuku!" ujar Hadi yang membuat Rosa berhenti memberontak.


Setelah Rosa berhenti memberontak, Hadi melepaskan tangannya dari Rosa.


"Kamu serius pak Hadi?" tanya Rosa sambil menyeka air matanya.


Hadi Tama langsung mengangguk.


"Kamu ganti pakaian, aku akan membawamu ke rumah ku!" ucapnya pada Rosa.


Rosa pun perlahan memunguti pakaian nya yang berserakan di lantai. Lalu berjalan perlahan ke kamar mandi, sesekali dia berjalan seperti orang yang kesakitan pada org4n int1nya.


Hadi mengusap kepalanya gusar. Dia sudah bisa membayangkan akan mengamuk seperti apa Susan nanti. Tapi dia juga tidak ingin terlibat masalah dengan Rosa yang nekat akan lompat dari kamar hotel yang berada di lantai 4 itu. Bisa panjang urusannya. Bisa berurusan dengan pihak berwajib juga nantinya.


"Aku tahu Susan pasti akan mengamuk, tapi aku yakin dia juga akan terima jadi istri kedua. Karena sekarang dia sedang hamil anakku!" gumam Hadi Tama.


Mereka pun meninggalkan hotel dan segera menuju ke rumah Hadi Tama yang besar dan mewah. Rosa cukup terpana saat tiba di depan rumah Hadi.


Hadi membawa Rosa masuk, Murti yang melihat Hadi membawa wanita lain pun memandang Hadi dan Susan dengan tatapan tidak senang.


"Hadi, siapa wanita ini?" tanya Murti yang sudah curiga karena Hadi terlihat gelisah dan terus-menerus mengusap kepalanya kasar.


"Ibu, dia Rosa. Dan aku akan menikah dengannya!" ucap Hadi yang membuat Murti sangat terkejut bahkan nyaris terhuyung karena tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


***


Bersambung...