
Di dalam mobil di basemen hotel Rose, awalnya Oman menawarkan untuk mengantarkan Anita pulang saja ke rumahnya, tapi Anita menolaknya. Karena dia ada meeting penting. Sementara Dave dan Joseph sedang ada pekerjaan lain. Anita memang sangat profesional, Anita tidak pernah mencampur adukkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Saat sedang bekerja, Anita benar-benar melupakan semua masalah pribadinya dan menjadi sosok Anita yang tegas, sigap juga kreatif.
"Kamu yakin?" tanya Oman memastikan karena dia khawatir pada kondisi Anita yang masih sesekali meneteskan air matanya tapi dengan cepat langsung menyekanya lagi.
Anita pun mengangguk yakin.
"Iya, Oman. Kita ke perusahaan saja, meeting nya akan dimulai sebentar lagi. Aku akan baik-baik saja!" ucap Anita yang tahu kalau Oman mencemaskan nya. Dan Anita mengatakan dia baik-baik saja, agar Oman tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya lagi.
Oman pun segera melakukan mobilnya menuju perusahaan. Dalam perjalanan, Anita benar-benar hanya diam. Dan Oman juga tidak mau banyak bicara, karena dia tahu di saat seperti ini. Akan lebih baik memberikan Anita ruang dan privasi untuk menenangkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di depan perusahaan Hendrawan Grup. Anita langsung melepaskan sabuk pengamannya dan memegang handel pintu mobil, tapi sebelum membuka pintu mobil dia menoleh ke arah Oman.
"Oman, terimakasih untuk semuanya tadi!" ujar Anita yang langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu jawaban Oman.
Namun sebelum Anita keluar, Oman melepaskan sabuk pengaman nya dan menarik tangan Anita hingga wanita itu kembali duduk di kursinya. Anita sedikit terkejut, apalagi ketika Oman langsung menarik tengkuk Anita dan menciumnya.
Karena tak siap, Anita hanya diam dan membulatkan matanya karena benar-benar terkesiap dengan apa yang dilakukan Oman.
Oman menarik dirinya lalu memandang Anita yang bahunya naik turun karena terkejut dan bingung dalam waktu yang sama.
"Aku menyukaimu, kalau tidak ada yang mau menikah dengan mu. Masih ada aku! aku tahu saat ini kamu pasti tidak mau membahas masalah pernikahan atau menjalin hubungan baru. Tapi yakinlah, aku akan menunggumu!" ucap Oman yang membuat mata Anita kembali berkaca-kaca.
Ini adalah kali kedua Oman menciumnya tanpa ijin. Tapi kali ini perasaan Anita benar-benar campur aduk. Anita terdiam, saat Oman menyentuh lembut pipinya.
"Kamu serius Oman?" tanya Anita yang akhirnya memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suara pada Oman.
"Aku tidak pernah seserius ini Anita!" jawab Oman dengan cepat dan penuh keyakinan.
"Aku... aku akan pikirkan dulu, aku...!"
Oman meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Anita hingga membuat wanita itu tak melanjutkan perkataannya.
"Tak perlu buru-buru, aku akan menunggumu!" ucap Oman.
Anita hanya mengangguk paham.
"Iya, aku ke dalam dulu. Kamu hati-hati di jalan!" ucap Anita yang langsung berlari keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam perusahaan.
Anita tidak mau kalau Oman sampai melihat wajahnya yang merah seperti tomat. Sedangkan Oman, dia malah tersenyum melihat tingkah Anita itu.
Setelah mengantarkan Anita kembali ke perusahaan, Oman pun kembali ke mall untuk menjemput Sila dan juga Mika yang masih berada di sana menunggu Oman.
"Bagaimana?" tanya Sila.
"Ini nyonya!" Oman menyerahkan ponselnya pada Sila.
Sila pun melihat video yang sudah di ambil oleh Joni tentang perselingkuhan Anwar. Juga apa saja yang dikatakan Anwar pada Anita. Sila mengepalkan tangannya sangat geram, mendengar kata-kata hinaan Anwar pada Anita.
"Kenapa yang ada di otak pria itu hanya hal itu itu saja sih, apa wanita itu hanya di jadikan pemu4s keinginan mereka saja. Menyebalkan!" gerutu Sila.
Oman sedikit mengernyitkan dahinya, masalahnya Sila memang sedikit berbeda beberapa Minggu ini. Sikapnya benar-benar tak seperti Susilawati yang biasanya. Mendengar kata-kata yang di ucapkan Sila, Oman agak heran.
'Nyonya Sila akhir-akhir ini agak bar bar ya, untung dia bicara di sini. Kalau dekat nyonya kecil, wah... bisa berabe!' seru Oman dalam hatinya.
Oman juga belum lupa tentang ide Sila menguak hubungan Shafa dan Joseph, dan menurut Oman itu benar-benar bukan Nyonya mudanya. Ide Sila itu benar-benar konyol, padahal bilang saja pada Dave baik-baik kan bisa. Sila malah merencanakan hal yang ekstrim dengan Joseph. Dan yang Oman tidak habis pikir, Joseph yang biasanya berpikiran panjang dan jernih, malah begitu saja setuju dengan ide konyol Sila.
"Kamu pukul dia hanya begini saja?" tanya Sila mengagetkan Oman.
"Harusnya kamu buat minimal dua atau tiga giginya rontok Oman. Dia benar-benar menyebalkan! atau kenapa tidak kamu buat saja dia masuk rumah sakit paling tidak satu bulan begitu? atau tendang saja benda pusakanya sampai seumur hidupnya tidak bisa bangun lagi. Buta tahu rasa...!"
Oman benar-benar di buat tercengang. Menurut Oman, apa yang ada di pikiran Sila itu benar-benar sadis dan kejam. Seperti pemikiran Dave kalau sudah kesal dan benci pada orang lain.
'Kenapa lama-lama nyonya muda jadi seperti tuan Dave ya?' tanya Oman dalam hatinya.
"Tapi Anita sudah baik-baik saja kan? kamu antar ke rumahnya kan?" tanya Sila.
"Tadinya aku mau antarkan Anita ke rumahnya nyonya, tapi dia menolak. Dia bilang masih ada meeting penting. Tapi dia sudah baik-baik saja nyonya!" jawab Oman.
Sila langsung menunjukkan wajah keperdulian nya pada Anita.
"Ya ampun, Anita benar-benar sangat profesional. Aku akan minta maaf Dave naikkan gajinya bulan ini!" ujar Sila yang langsung mengembalikan ponsel Oman dan menghampiri Mika dan yang lain.
***
Sementara itu di sebuah penginapan atau lebih tepatnya di sebuah bungalow di atas air di sebuah pulau bernama Fihalholi, seorang pria sedang sibuk memasakkan makan malam untuk seorang wanita yang sedang duduk dengan santai sambil memakai masker di wajahnya.
"Aduh!" pekik Randy yang tercipr4t minyak goreng panas yang melompat-lompat dari wajan karena dia sedang menggoreng ikan untuk makan malamnya dengan Karina.
Karina langsung melepaskan dua potong mentimun yang dia tempelkan di atas kelopak matanya yang tadinya terpejam.
"Ada apa Randy?" tanya Karina terkejut mendengar Randy memekik cukup keras.
"Sayang, tidak apa-apa. Lanjutkan bersantai. Makan malam akan siap sebentar lagi!" jawab Randy.
Karina yang awalnya ingin mengerjai Randy karena kesal atas apa yang terjadi di pesawat tadi pun akhirnya menjadi tidak tega juga.
Karina langsung mencuci wajahnya dan menghampiri Randy di dapur minimalis yang ada di bungalow.
"Sudahlah, biar aku saja. Siram tanganmu yang terkena cipratan minyak dengan air dingin!" ujar Karina.
"Tidak sayang, aku akan menyelesaikan nya!" bantah Randy.
"Sudahlah, ini memang seharusnya adalah tugasku!"
"Apa ini artinya kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Randy ragu.
Wajah memelas Randy benar-benar membuat Karina merasa tidak enak hati. Dengan perlahan Karina mengangguk kan kepalanya.
"Apa itu artinya malam ini aku dapat jatah?" tanya Randy yang langsung membuat Karina meletakkan kembali spatula yang sudah dia pegang.
"Hah, aku tidak jadi membantumu. Aku mau tidur saja!" sahut Karina yang langsung berjalan menuju ke kamar mereka.
"Sayang, apa kamu marah lagi?" tanya Randy sambil mengikuti Karina.
Tapi saat Karina akan masuk ke kamar, dia merasa ada yang aneh. Aroma yang menyengat.
"Randy ikannya gosong!" pekik Karina membuat Randy yang tadinya mengikuti Karina langsung berlari ke arah dapur.
***
Bersambung...