
Keesokan harinya, Zain baru menemui Hadi Tama. Karena kemarin kedatangannya ke penjara sia-sia. Hadi Tama sedang di periksa dan di cocokkan keterangannya dengan para saksi dan bukti-bukti yang ada.
Di ruang besuk tahanan. Hadi Tama langsung bergegas duduk di depan Zain. Dengan wajah penuh harap, Hadi langsung bertanya pada Zain.
"Bagaimana Zain, apa Sila mau bertemu denganku?" tanya Hadi penuh harap dengan pandangan mata yang berkaca.
Zain segera menggelengkan kepalanya dengan cepat karena dia juga tak mau memberi harapan pada Hadi.
Melihat reaksi Zain, Hadi pun menunduk pilu. Dia memang sudah memperkirakan hal itu pasti terjadi, tapi rasanya hatinya begitu pilu. Orang yang dulunya sangat mencintai nya dan rela melakukan apapun untuknya, kini sudah sama sekali tidak perduli padanya.
"Tapi kak Sila mengatakan dia telah memaafkan mu, dia benar-benar sudah melupakan semua perbuatan burukmu padanya!" lanjut Zain membuat Hadi semakin terlihat sedih.
"Kak, aku harap ini jadi pelajaran berharga bagimu. Bukan aku bermaksud menggurui mu yang lebih tua dariku. Tapi yang kamu lakukan pada kak Sila, jika itu Anita Lia adik kita? apa kamu akan menerimanya?" tanya Zain.
Hadi langsung terdiam, matanya benar-benar sudah berkaca-kaca. Perkataan Zain barusan begitu menohok perasaan Hadi. Dia sampai melupakan semua itu, apa yang dikatakan Zain benar. Dia saja bahkan tidak akan terima jika adiknya Lia, di perlakukan seperti itu oleh suaminya. Hadi benar-benar dirinya sekarang bahkan lebih buruk dari siapapun yang terburuk di dunia ini.
Hadi menangis dengan terus mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi. Melihat kakaknya yang begitu terlihat frustasi, Zain menepuk bahu kakaknya itu pelan.
"Menangis, bahkan menyakiti dirimu sendiri sekarang juga tidak akan merubah apapun. Aku akan membawa ayah dan ibu pulang. Kami juga akan terus memantau kasusmu kak, tapi kami tidak bisa menemanimu. Kau tahu kan, aku masih punya tanggung jawab lain di kampung!" ujar Zain.
Hadi benar-benar terlihat sedih sekarang. Dia bahkan tidak ada siapapun yang akan mendampingi nya di masa-masa sulitnya ini. Tapi dia mengerti, Zain juga punya pekerjaan dan keluarga yang membutuhkan dirinya.
"Ibu juga menyampaikan maafnya karena harus pergi di saat sulit mu ini kak, aku juga minta maaf. Tapi kalau nanti aku dapat cuti lagi aku akan menjenguk mu!" ucap Zain yang matanya juga sudah berkaca-kaca.
Hadi pun memeluk adiknya itu.
"Jaga ayah dan ibu ya Zain, katakan aku sangat menyesal. Aku benar-benar menyesal!" ucap Hadi.
Zain tahu semua yang kakaknya katakan itu tulus. Dia sangat berharap Hadi benar-benar belajar sesuatu setelah peristiwa ini. Zain pun meninggalkan penjara, dan menuju ke rumah sakit. Haris juga kondisinya sudah membaik, jadi Oman juga sudah menyiapkan mobil untuk kepulangan mereka ke kampung.
Sementara itu di pengadilan, kasus perceraian Shafa dengan Vincent juga sudah pada keputusan final. Mereka benar-benar resmi bercerai. Shafa, Davina dan juga Rizal keluar dari gedung pengadilan dengan wajah yang lega.
"Sekarang apa rencana mu?" tanya Davina yang melihat anaknya sepertinya sekarang dalam kondisi sangat baik setelah resmi bercerai.
Rizal pun melihat ke arah Shafa yang terlihat santai dan tidak sedih sama sekali.
"Apa ya?" tanya Shafa pada dirinya sendiri sambil berpikir dan meletakkan jari telunjuknya di dagunya.
"Apa lagi? tentu saja menghabiskan uang ayah untuk liburan dan berbelanja!" ucap Shafa sambil tersenyum senang.
Rizal langsung mengerutkan keningnya.
"Apa-apaan itu, tidak bisa. Kamu sudah dewas4, sudah waktunya kamu menghasilkan uang sendiri, bukan hanya tahu menghabiskan uang ayah!" protes Rizal yang jelas sekali menentang keras apa yang diinginkan Shafa itu.
"Ayah, sejak kapan ayah jadi pelit?" tanya Shafa.
Plakk
Rizal lantas memukul kepala Shafa pelan.
Davina pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang suaminya itu katakan.
"Ya ampun, kalian ini orang tua kandungku bukan sih. Aku ini baru saja bercerai loh, aku dalam masa yang menyedihkan...!"
Davina terdiam, dia berpikir apa yang di katakan Shafa itu juga tidak salah.
"Shafa benar yah, Shafa sedang dalam keadaan yang seharusnya healing...!"
"Nah, ibu benar. Baru kali ini ibu benar!" ungkap Shafa yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Davina.
"Aku butuh healing yah, aku mau liburan!" ucap Shafa pada ayahnya.
"Tidak!" tegas Rizal.
Rizal bukan pelit ya, serius dia sama sekali tidak perhitungan soal uang yang bahkan kalau di simpan di bank, brankas bank itu akan luber. Tapi Rizal menolak justru perduli pada Shafa. Dia sama sekali tidak ingin anaknya itu dapat selentingan yang tidak-tidak dari orang-orang. Baru bercerai tapi malah liburan dan bersenang-senang.
Setelah membujuk sang ayah dan tidak berhasil, akhirnya Shafa menyerah dan ikut kedua orang tuanya pulang ke rumah, ke kediaman Hendrawan.
***
Sementara itu di rumah sakit tempat dimana Susan dan ibunya sudah menjalani pemulihan pasca operasi. Seorang wanita muda masuk ke dalam ruang rawat Susan.
Wanita itu terlihat tersenyum melihat kondisi Susan yang masih di pasangkan beberapa alat medis di tubuhnya. Susan bahkan belum sadarkan diri.
Sang ayah Hilman sedang menjaga ibunya yang juga belum sadarkan diri.
Wanita itu berjalan mendekat ke arah Susan, dia juga sudah mendengar kalau Susan telah keguguran dan rahimnya telah di angkat karena terjadi kerusakan parah pasca kecelakaan yang terjadi di jalan tol, saat Susan berusaha melarikan diri dari kejaran para petugas yang akan menangkapnya.
"Ck.. ck.. ck.. sekarang dendam kakak ku Jasmine telah terbayar lunas Susan. Lihat dirimu sekarang sudah tidak jadi menikah dengan Hadi Tama, lalu kamu juga sudah kehilangan anakmu, dan selamanya pun kamu tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu karena rahim mu telah di angkat. Bonusnya adalah, kamu juga seorang narapidana. Benar-benar sudah di bayar lunas bukan?" tanya Rosa.
Benar, perempuan itu adalah Rosa. Dengan senyuman puas dia mengetuk-ngetuk meja di sebelah kiri tempat tidur pasien Susan. Membuat Susan berusaha membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ka... kamu?" tanya Susan pelan karena dia masih sangat lemah.
Rosa pun tersenyum penuh arti.
"Iya aku, bagaimana Susan? bagaimana rasanya kehilangan semuanya? kehilangan calon suami, kehilangan anak? kehilangan segalanya dan sebentar lagi membusuk di penjara?" tanya Rosa dengan suara yang penuh dengan ejekan dan hinaan untuk Susan.
Mata Susan memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Rosa.
"Sialll, semua ini gara-gara kamu. Perempuan licik!" pekik Susan yang berusaha bangkit tapi tidak berdaya.
***
Bersambung...