
Malam harinya Dave tidak mengantarkan Sila ke rumah kontrakan Karina untuk berganti pakaian dan bersiap untuk menghadiri acara di rumah baru Hadi. Tapi Dave mengajak Sila ke sebuah butik ternama di kota ini.
Sila bukannya tidak pernah ke butik, saat dia bekerja di perusahaan lamanya dulu dia juga sering membeli baju couple bertiga dengan Hadi dan Mika di butik.
Setelah masuk ke dalam, seorang pelayan menyapa mereka dengan sangat sopan.
"Selamat malam, selamat datang tuan Dave dan nyonya Dave!" sapa pelayan itu membuat wajah Sila merona.
Ini adalah kali pertamanya ada yang menyapanya sebagai nyonya Dave. Melihat Sila tersipu, Dave juga tersenyum.
"Silahkan, kami sudah menyiapkan pakaian sesuai yang tuan katakan tadi di telepon!" ucapnya lagi dengan begitu ramah.
Dave hanya mengangguk sedikit lalu mengajak Sila mengikuti pelayan butik itu.
Hingga mereka tiba di sebuah ruangan khusus yang terpisah dengan ruang busana yang lain. Sebuah sofa besar dengan meja di depannya di lengkapi dengan sajian makanan ringan dan juga minuman serta beberapa pakaian yang di pajang di sisi kanannya.
Pelayan itu lalu mempersilahkan Sila dan Dave untuk duduk, kemudian dia menunjukkan pakaian pakaian seperti yang di katakan oleh Dave di telepon.
Sila sedikit tidak nyaman dengan gaun-gaun yang di tunjukkan. Masalahnya gaun itu begitu mewah dan sedikit terbuka. Sila belum pernah mengenakan pakaian seperti itu jika bertemu dengan keluarga Dave.
Tapi karena Dave yang pilihkan untuknya, dia tidak berani menolaknya.
Dave menunjuk sebuah gaun brokat berwarna hijau tanpa lengan. Sepertinya Dave memang sudah mengerti benar ukuran gaun yang pas untuk istrinya itu.
Sila langsung berdiri dan mencoba gaun itu, di temani pelayan butik itu di ruang ganti yang ada di dalam ruangan VIP itu juga. Beberapa saat kemudian Sila keluar dari ruang ganti, Dave langsung berdiri ketika melihat Sila keluar, dengan make up seadanya saja. Sila sudah tampak sangat cantik dan menawan di mata Dave.
"Anda cantik sekali nyonya, gaun ini begitu pas di kenakan oleh anda!" puji pelayan butik itu pada Sila.
Memang sudah tugasnya memuji para pelanggan, tapi dia memang jujur. Gaun itu benar-benar seperti menempel di tubuh Sila. Sepertinya ukurannya memang adalah ukuran Sila.
"Bagaimana tuan Dave?" tanya pelayan butik itu pada Dave.
Dia sih sudah sangat yakin kalau Dave akan memilih gaun itu, tapi alangkah baiknya kalau dia bertanya dulu. Begitu pikirnya.
"Yang ini saja!" jawab Dave tanpa melepaskan pandangannya dari Sila.
Bahkan sejak Sila keluar dari ruang ganti tadi memang dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Sila.
Sila juga cukup menyukai gaun pilihan Dave ini, karena di bandingkan dengan gaun lainnya yang dadanya terbuka atau punggung nya terbuka, gaun yang dia pakai ini dadanya tertutup sampai di bawah leher, meskipun tanpa lengan tapi bagian dada dan juga punggung benar-benar tertutup. Bahannya juga brokat ringan, jadi Sila sangat nyaman.
Setelah itu Sila langsung di make-up juga oleh MUA yang ada di butik ini. Riasan tipis dengan lipat berwarna pink muda membuat Sila terlihat begitu segar dan menawan. Rambut yang di tata dengan gaya sanggul modern dengan menyisakan beberapa helai sebagai pemanis pun membuat Sila bertambah anggun tapi juga manis.
Dave sudah selesai bersiap, dia lalu masuk ke ruang makeup untuk bertemu dengan Sila dan melihat istrinya itu.
Begitu melihat Sila, Dave benar-benar terpana di buatnya.
"Kalian bisa tinggalkan kami!" seru Dave pada para makeup artist yang sedang merapikan rambut Sila.
Mendengar perintah Dave, dua orang yang tadi merias dan menata rambut Sila segara keluar dari dalam ruangan. Setelah keduanya keluar Dave lalu mendekati Sila.
Dave melihat ke arah cermin, ke arah yang sama dengan pandangan Sila.
Dave menuntun Sila agar dirinya bangun dan menghadap ke arah Dave.
"Dan bibir ini terlihat sangat manis, bagaimana kalau nyonya Dave memberikan kehormatan pada suami mu ini untuk...!"
Deg deg deg
Jantung Sila makin berdegup kencang. Meskipun bukan pertama, atau dua kali tapi setiap Dave bicara dengan nada berat dan serak seperti itu, Sila selalu dibuat berdesir tak karuan.
Dave memang sudah tidak melanjutkan apa yang dia katakan, tapi tangannya yang sudah bergerak menyentuh bibir Sila membuat Sila mengerti apa yang di inginkan suaminya itu.
Tanpa ragu Dave mendaratkan bibirnya di bibir merona Sila yang memang terasa sangat manis untuk Dave. Tangan Sila pun perlahan terangkat dan merangkul tengkuk Dave. luma*tan luma*tan ringan serta deca*pan deca*pan kecil membuat mereka terlena beberapa saat.
Setelah Dave puas, dia pun melepaskan istrinya itu. Dave menyentuh bibir mungil Sila yang sekarang menjadi sedikit tebal karena sedikit bengkak akibat ulahnya. Dave tersenyum melihat Sila yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dave juga menyeka bibir Sila yang basah dengan tangannya sendiri.
Sila sempat melihat ke arah cermin.
'Untung semua makeup ini water proof!' batin Sila lega.
Sila bersyukur karena makeup yang dia pakai adalah makeup water proof kualitas terbaik. Jika tidak, maka dengan apa yang dilakukan Dave barusan, dia pasti harus makeup lagi.
Setelah beberapa saat kemudian, Joseph pun datang menjemput mereka. Joseph juga sudah berganti pakaian. Dan mereka pun pergi ke rumah Hadi Tama.
***
Sementara itu di rumah Hadi Tama, suasana tampak sangat sibuk. Hadi juga sedikit kesal pada Susan karena sudah jam 7 lebih 30 menit malam, masih ada pelayan yang belum selesai dengan persiapan nya.
Ayah dan ibu Hadi yang juga sudah di kenalkan dengan Susan, sebenarnya kurang suka pada wanita itu. Karena mereka merasa kalau Susan terlalu cuek dan kurang ramah pada mereka.
"Susan, kenapa bisa seperti ini? bukankah tadi siang semua sudah hampir siap?" tanya Hadi pada Susan.
"Jangan tanya aku! tanya saja pada ibu mu itu. Kenapa dia mengganggu ku, aku sidah hilang padanya untuk diam dan melihat saja. Tapi dia malah ribut masalah taplak meja, dia mengganti semuanya dengan taplak meja renda renda itu, kan sudah di tulis dalam list kalau tuan Dave sangat suka pada warna putih dan bersih. Dia pikir ini acara hajatan apa? aku harus menyuruh para pelayan mengganti semuanya lagi, sementara sudah ada banyak makanan dan benda lain di atasnya, benar-benar membuang waktu saja kan?" tanya Susan pada Hadi setelah menjelaskan apa yang terjadi di sore hari tadi.
Susan hanya meninggalkan ruangan ini sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Dan ibu Hadi sudah mengganti semua taplak meja di ruangan ini.
Hadi lagi-lagi memegangi kepalanya, yang dikatakan oleh Susan memang benar, kalau ibunya membuat kesalahan. Tapi Hadi juga tidak senang karena Susan menyalahkan ibunya seperti itu.
"Baiklah, baiklah. Tapi kamu tidak berkata kasar pada ibu kan?" tanya Hadi pada Susan.
Susan langsung terdiam, sebenarnya tadi sempat marah pada ibu Hadi.
'Mas Hadi pasti marah kalau tahu aku membentak ibunya tadi!' batin Susan.
Susan langsung mendekati Hadi dan memeluknya.
"Tentu tidak mas, mungkin nada bicara ku memang cuek begini. Tapi aku sangat menghormati ibumu, mana mungkin aku berkata kasar padanya!" ucap Susan berbohong, tapi membuat Hadi tersenyum lega mendengar apa yang dikatakan Susan.
***
Bersambung...