Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 77


"Ayah, kita ke rumah sakit ya?" tanya Sila membujuk sang ayah.


Tapi Prio Utomo yang sejak tadi tersenyum melihat putri kesayangannya datang langsung menggelengkan kepalanya perlahan. Jelas terlihat pria paruh baya itu sangat lelah dan sepertinya sedang stress berat hingga dahinya terlihat berkerut begitu banyak.


"Tidak nak, ayah tidak mau menyusahkan ibumu, kakak mu dan juga kamu!" jawab Prio Utomo dengan nada suara lemah.


Sila langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak ayah, ayah tidak menyusahkan kami dan tidak akan pernah menyusahkan. Kondisi ayah sudah seperti ini, aku mohon ayah. Kita ke rumah sakit ya?" tanya Sila lagi pada sang ayah.


"Iya ayah, benar kata Sila. Kita ke rumah sakit saja ya!" sambung sang ibu.


Ayah Sila menunduk sedih. Sila tahu pasti ayahnya sedang memikirkan hutangnya pada Baron dan juga biaya rumah sakit nya nanti. Sila langsung menggenggam erat tangan kiri ayahnya dan tersenyum.


"Apa ayah tahu? sekarang aku sudah dapatkan pekerjaan yang sangat baik, bahkan lebih baik dari pekerjaan di kantor lamaku. Gajinya sangat besar, ayah tidak perlu khawatir dengan biaya rumah sakitnya. Aku mohon ayah, kita ke rumah sakit ya?" tanya Sila.


"Tapi nak, ayah tidak mau menyusahkan mu!" ucap Prio Utomo masih enggan menyusahkan anak-anak nya.


Sila lalu kembali memeluk ayahnya.


"Ayah, kenapa ayah bilang begitu? sejak kecil hingga dewasa ayah menjagaku dengan baik, mengurusku dan mencukupi semua kebutuhan ku. Nilainya bahkan tidak bisa terhitung, jadi sekarang biar Sila yang mengurus dan menjaga ayah ya!" tanya Sila.


Sila lalu bangkit dan melihat ke arah ibunya.


"Lihat ibu ayah, apa ayah mau melihat ibu sedih?" tanya Sila dan sang ayah pun menggeleng pelan.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit ya?" tanya Sila lagi dan lagi.


Dan pada akhirnya Prio Utomo pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sila tersenyum senang.


"Baik, sebentar ya. Sila akan minta Joseph siapkan mobil!" ucapnya lalu berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur sang ayah.


"Siapa Joseph?" tanya ayahnya.


"Dia rekan kerjaku ayah, dia dan bos ku datang mengantarku kemari, sebentar ya!" ucap Sila begitu bersemangat dan langsung keluar dari dalam kamar ayahnya.


Melihat Sila berjalan dengan cepat ke arahnya, Dave langsung berdiri. Melihat Dave berdiri, Joseph pun ikut berdiri.


"Sila, bagaimana ayah mu?" tanya Dave cemas.


"Mas ayah sakit, bisakah aku minta tolong untuk mengantarkan ayah ke rumah sakit dengan mobilmu, masalahnya mobil ayah dan kak Bima sudah...!"


Sila belum selesai bicara dan Dave langsung memeluk pinggangnya.


"Sayang, dia ayah mertuaku. Kenapa bertanya begitu, aku akan mengurus semuanya dengan baik!" ucap Dave yang makin mendekat ke arah Sila.


"Ekhem.. ekhem!" deheman Joseph membuat Sila refleks menjauh dari Dave.


Sorot mata tajam Dave pun langsung mengarah pada Joseph.


"Maaf tuan, tapi ini di rumah tuan Prio Utomo. Belum ada satu pun orang di sini yang tahu kalau nona Sila adalah istrimu!" jelas Joseph pada Dave kenapa tadi dia berdehem keras melihat Dave mendekati Sila.


Dave langsung memegang kepalanya.


"Sayang maaf aku lupa!" ucap Dave pada Sila.


"Tuan, maaf tapi kata itu akan membuat orang salah paham!" tegur Joseph lagi.


"Jo, cepat siapkan mobil. Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu cerewet sekali seperti ibuku!" seru Dave yang langsung mengajak Sila ke kamar ayahnya sambil menggerutu pada Joseph.


Joseph pun bergegas keluar untuk menyiapkan mobil, sambil jalan keluar dia tersenyum.


"Itu karena kamu tidak seperti dulu tuan, sekarang kamu lebih manusiawi!" gumam Joseph.


Apa yang di gumamkan Joseph itu adalah benar. Dave yang sekarang memang sangat berbeda dengan Dave yang dulu sebelum mengenal Sila. Dulu jangankan menegur Dave, berkata lebih dulu sebelum di tanya pun Joseph tidak berani. Karena amarah Dave selalu tidak bisa di duga. Dave yang dulu memang sangat dingin, galak, keras kepala dan tidak bisa di tegur kecuali oleh ayah dan ibunya.


Sila dan Dave masuk ke kamar ayah Sila yang sedang coba untuk di papah oleh Bima. Tapi sepertinya Bima kesulitan karena posisi tubuh Prio Utomo tidak seimbang.


Melihat itu Dave lalu bertanya pada Sila.


"Say... em maksudku, Sila! apa di rumah mu ada sarung tangan?" tanya Dave.


"Ada di dapur, sebentar!" jawab Sila


Lalu Sila melihat ke arah kakak dan ayahnya.


"Kak Bima sebentar, aku akan ambilkan sarung tangan dulu untuk tuan Dave agar bisa membantu kakak memapah ayah!" ucap Sila yang sudah mengerti maksud Dave menanyakan perihal sarung tangan.


Dave lalu mendekati Prio Utomo dan Bima, tapi masih dalam jarak satu meter sambil menunggu Sila yang sedang mengambilkan sarung tangan untuknya.


"Selamat pagi pak Prio, mohon maaf tapi aku memang mengidap Myshopobia. Bukan maksud ku tidak sopan...!"


"Tuan, anda adalah atasan Sila. Kami sangat berterimakasih anda mau membantu kami!" sela Bima yang langsung respect pada Dave.


Bima tidak pernah menyangka kalau seorang atasan akan sangat begitu perhatian pada bawahannya. Tapi Bima yang memang selalu berpikir positif merasa bersyukur di saat sulit mereka ini ada orang yang mau membantu mereka.


Sementara Prio Utomo terlihat sudah sangat pucat jadi dia hanya tersenyum sekilas pada Dave.


Setelah Sila kembali dan menyerahkan sarung tangan pada Dave, dengan cepat Dave memakainya dan setelah itu barulah dia bisa memegang tangan Prio Utomo dan membantu Bima memapah pria paruh baya yang sebenarnya sekarang telah menjadi ayah mertuanya itu keluar.


Setelah keluar pintu, Joseph dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Prio Utomo.


"Jo, kamu di sini saja. Aku yang akan mengantarkan ayah Sila ke rumah sakit. Masih ada urusan yang kamu urus di sini!" seru Dave membuat Bima merasa bingung.


Tapi dia tidak ambil pusing, setelah Dave, Sila dan ibunya pergi mengantar sang ayah dengan mobil Dave. Bima baru mendekati Joseph yang masih berdiri melihat mobil Dave bergerak menjauh.


"Maaf tuan Joseph, apa aku boleh tahu kira-kira urusan apa ya yang tuan Dave tadi sebutkan?" tanya Bima dengan sopan.


Joseph langsung tersenyum pada Bima.


"Tuan Dave sudah tahu, kalau tuan Prio Utomo telah berhutang pada Baron Cs. Sebenarnya maksud kami kesini tadi adalah membantu nona Sila menyelesaikan masalah itu, kami sudah bawa uangnya untuk membayar hutang pada Baron Cs!" jelas Joseph pada Bima.


Tentu saja apa yang dikatakan Joseph membuat Bima terkejut.


"Tu.. tuan tapi hutangnya tidak sedikit!" ucap Bima yang sangat terkejut.


'Sila, kasihan sekali kamu. Kamu pasti akan bekerja sangat keras untuk melunasi pinjaman pada atasan mu itu!' batin Bima sedih.


***


Bersambung...