Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 254


Sementara itu Shafa yang sedang sendirian di dalam kamarnya pun iseng-iseng menghubungi Joseph. Sebenarnya bukan iseng, dia sudah rindu pada pria itu. Karena setelah siang tadi pergi dengan Dave, Joseph sama sekali tidak nampak batang hidungnya di depan Shafa.


Tut.... Tut....


"Pak tua...!" seru Shafa ketika melihat kalau panggilan nya sudah di terima oleh Joseph.


"Shafa aku sedang ada pekerjaan. Aku akan hubungi kamu nanti!"


Tut Tut Tut


Mata Shafa langsung melotot, mulutnya juga terbuka cukup lebar.


"Hah, dia memutuskan nya begitu saja. Ih..... !" Shafa memukul-mukul bantal yang ada di sampingnya.


"Belum jadian saja sudah seperti ini, harusnya kan kalau belum jadian itu lagi gemes gemesnya, lagi greget gregetnya, lagi sering rindu rindunya. Kalau kata orang sehari tuh rasa setahun, setahun tuh rasa seabad. Ini gimana sih, kok cuek cuek bebek nya masih sama seperti dulu. Aghk.... nyebelin dasar pak tua! es kutub, beruang salju bongsor! akhh... nyebelin nyebelin nyebelin!!" gerutu Shafa yang merasa kesal pada Joseph.


Sementara di tempat lain, Joseph memang sedang mengerjakan pekerjaan penting. Setelah mengurus pembayaran dan surat kepemilikan apartemen. Joseph langsung pergi ke apartemen Catherine. Sesuai dengan perintah Dave, dia juga sudah mengirimkan papan bunga ucapan duka cita terlebih dahulu ke apartemen Catherine.


Namun ketika dia tiba di apartemen Chaterine. Dia melihat beberapa orang sudah merusak papan bunga yang dia kirimkan atas nama perusahaan Hendrawan Grup.


"Tunggu, apa yang kalian lakukan? kenapa merusak bunga papan ini?" tanya Joseph pada tiga orang yang berpakaian seperti pengawal itu.


Langkah Joseph juga segera maju ke depan menghalangi seorang pengawal yang akan menginjak nama Hendrawan yang tersusun dari rangkaian bunga Chrysant yang tertata apik di papan itu.


"Hentikan!" pekik Joseph mendorong dada pria yang akan menginjak bunga papan, lebih tepatnya akan menginjak tulisan Hendrawan di bunga papan itu.


"Siapa kau? beraninya menghalangi kami. Ini perintah bos Edgar!" teriak orang yang di dorong oleh Joseph.


Mendengar jawaban dari pria itu yang ternyata mengatakan kalau Edgar Retz yang menyuruh anak buahnya menghancurkan bunga apapun itu. Joseph mulai merasakan firasat tidak baik dalam benaknya. Namun dia masih berusaha bicara baik-baik pada pria pria yang menghancurkan bunga papan kiriman darinya.


"Dengar, kalian bisa injak bagian lain. Tapi jangan menginjak bagian yang ada nama Hendrawan. Beliau adalah orang yang sangat aku hormati, tolong!" pinta Joseph yang masih berusaha bicara baik-baik pada para pria itu.


Selain karena dia tidak ingin mencari masalah di ruang duka, dia juga tidak ingin mencari masalah untuk keluarga Hendrawan. Apalagi dia juga tahu siapa itu Edgar Retz. Bukan hanya pengusaha terkenal di luar negeri, tapi dia juga punya beberapa koneksi dengan dunia hitam. Akan sangat tidak baik jika mencari masalah dengannya.


"Hah, mengganggu saja. Pergi sana!" pekik salah satu pria yang memang sejak tadi kelihatan paling bersemangat ingin menghancurkan bunga papan itu.


Bahkan salah satu pria yang berada paling dekat dengan Joseph mendorong Joseph dengan kuat.


Joseph sudah mengepalkan tangannya, tapi kemudian seorang pria dengan jas hitam dan kaca mata hitam memanggilnya.


"Kau... yang di sana!" panggil orang itu dengan wajah datar dan suara dingin. Persis seperti cara bicara dan ekspresi yang selalu di tunjukkan oleh Joseph pada orang lain.


Setelah Joseph menoleh orang itu pun lanjut berkata lagi.


"Tuan Edgar ingin bertemu dengan mu!" ucap nya langsung berjalan masuk ke dalam apartemen.


Joseph mengikuti pria kaku itu sampai tiba di sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali potret Chaterine dari mulai ukuran besar, sangat besar bahkan sebesar dinding itu sendiri.


Setelah Joseph berada di sana, pria yang tadi menunjukkan jalan padanya pergi begitu saja. Dan seorang pria yang duduk di sebuah sofa single besar yang tadinya memandang ke arah potret Chaterine yang paling besar yang sedang tersenyum sangat cantik itu berdiri.


'Edgar Retz!' batin Joseph.


"Kenapa dia tidak datang?" tanya Edgar dengan suara yang sama sekali tidak menunjukkan basa-basi.


Joseph sesungguhnya mengerti siapa yang dimaksud oleh Edgar Retz. Dia adalah anak buah Dave, tentu saja pertanyaan Edgar Retz itu adalah menanyakan kenapa Dave tidak datang.


"Maaf tuan Edgar, siapa yang tuan maksud?" tanya Joseph berusaha bicara dengan sopan pada Edgar Retz.


Tanpa menjawab dengan perkataan, Edgar Retz langsung melemparkan beberapa foto di depan wajah Joseph.


Setelah foto itu berterbangan sebagian lagi terjatuh ke lantai, mata Joseph mulai terbuka lebih lebar dari yang tadi.


Semua foto itu adalah foto kebersamaan Dave dan Chaterine. Dimana Catherine selalu memakai sarung tangan sepanjang sikunya dengan corak yang sama dengan pakaian nya. Chaterine memang seperti itu, dia ingin tetap modis tapi juga ingin tetap berada di dekat Dave karena memang Catherine sangat menyukai Dave.


"Bahkan untuk datang di penghormatan terakhir adikku saja dia tidak datang, seberapa bren9sek nya Dave Hendrawan itu?" pekik Edgar Retz bertanya pada Joseph.


Mata Edgar sudah merah begitu pula wajahnya.


"Tuan Edgar, saya minta maaf. Tapi sepertinya anda salah paham. Tidak ada hubungan seperti itu antara tuan Dave dengan nona Chaterine Retz. Mereka berdua hanya sebatas seorang pengusaha, pemilik perusahaan dan brand ambassador untuk perusahaan saja. Tidak ada hal lain!" jelas Joseph yang tidak mau Edgar Retz salah paham.


Edgar Retz menggertakkan giginya. Geram sekali rasanya dia mendengar jawaban seperti itu. Bagaimana mungkin tidak ada hubungan apa-apa tapi berbulan-bulan yang diceritakan oleh Catherine padanya hanya tentang Dave Hendrawan. Lalu semua foto kebersamaan mereka yang terjadi selama berbulan-bulan. Juga inisial yang ada di surat terakhir yang ditulis tangan oleh Catherine. Siapa yang akan percaya kalau di antara keduanya tidak ada apa-apa.


"Tuan Dave juga sudah menikah, tuan Edgar Retz sepertinya anda salah paham!" tegas Joseph lagi.


"Kurang ajar sekali kau, beraninya bicara seperti itu. Apa kau pikir adikku hanya mengada-ada tentang hubungannya dengan Dave, apa kau tahu berapa kali dalam sehari dia menghubungi ku dan membicarakan tentang Dave Hendrawan?" tanya Edgar Retz dengan suara keras.


Joseph sampai terkejut. Tapi dia tetap berusaha untuk tenang.


"Tuan Edgar Retz. Saya benar-benar minta maaf. Tapi saya juga ada di setiap tuan Dave bersama nona Catherine. Mereka memang hanya sebatas pemilik perusahaan dan brand ambassador nya...!"


Brakkk


Belum selesai Joseph bicara, Edgar Retz sudah membanting sebuah vas yang ada di atas meja ke atas meja itu sendiri. Membuat vas itu pecah berkeping-keping, bahkan karena jarak Joseph dengan meja itu lumayan dekat, beberapa pecahan kaca vas itu mengenai wajah Joseph dan membuatnya tergores dan berdarah sedikit.


"Kau anak buahnya, dia pasti yang menyuruh mu bicara seperti itu kan. Katakan pada pengecut itu, aku tidak akan pernah memaafkan nya. Aku tidak akan membuat hidupnya tenang. Dia juga harus merasakan apa yang aku rasakan. Aku kehilangan adikku satu-satunya, adikku yang sangat aku sayangi. Dia juga harus kehilangan semua yang dia sayangi! Camkan itu!!!" seru Edgar Retz lalu meninggalkan ruangan itu dengan bahunya mendorong bahu Joseph hingga Joseph nyaris terhuyung ke belakang.


'Tuan Dave, aku sudah berusaha menjelaskan ya. Maafkan aku!' sesal Joseph dalam hatinya.


Joseph pun memutuskan untuk kembali ke apartemen Dave. Dan menjelaskan semua yang terjadi, tentang kesalahpahaman Edgar Retz. Tapi di tengah perjalanan, dia kembali mendapatkan panggilan telepon video call dari Shafa.


Joseph pun menepikan mobilnya dan menghentikan mobilnya.


"Ya Shafa...!


"Pak tua, kenapa wajah mu. Kamu habis berkelahi? atau kamu kecelakaan?" tanya Shafa panik.


Di saat itu, Joseph baru sadar kalau ternyata wajahnya ada beberapa luka akibat pecahan kaca itu. Kalau seperti ini sepertinya dia tidak bisa bertemu dengan Dave dulu, atau Dave juga akan emosi pada Edgar Retz karena Joseph tahu meski hanya asisten pribadi, tapi Dave akan sangat marah kalau ada yang melukai Joseph.


***


Bersambung...