
Sila kembali lagi ke kediaman Hendrawan, dia mengajak Mika bersamanya. Sila berpikir untuk menemani Shafa bersama dengan Mika.
"Mama ini rumah siapa?" tanya Mika saat turun dari mobil.
"Sayang ini rumah Oma Davina, ibunya Daddy!" jelas Sila pada Mika.
Ekspresi wajah Mika begitu takjub melihat mansion besar itu.
"Mama, kenapa kita tidak tinggal di sini saja. Ini seperti istana yang aku lihat di tok tok nya Aurel, rumah-rumah kleji rit mama!" ucap Mika.
Sila kembali geleng kepala, sepertinya temannya Mika yang bernama Aurel itu sudah memperlihatkan dan mengenalkan banyak hal baru pada Mika. Dia bahkan tahu tentang crazy rich, itu benar-benar di luar ekspektasi Sila.
Sila yang tidak ingin putri kecilnya terpengaruh terlalu besar terhadap kehidupan seperti itu. Segera berjongkok di depan Mika dan memegang lembut kedua pundak Mika.
"Mika sayang, apa saja yang sudah di katakan Aurel padamu?" tanya Sila.
"Banyak mama, dia menunjukkan banyak koleksi tas mahal dan juga mainan mahal nya padaku. Aku akan minta juga pada Daddy...!"
Sila semakin cemas dengan putrinya itu. Dia takut Mika berubah jadi anak manja dan kerasa kepala jika dia bergaul dengan orang yang seperti itu.
"Mika sayang, Daddy memang akan memberikan apapun yang Mika minta. Tapi Mika harus bijak, Mika tidak boleh meminta hal yang tidak bermanfaat, dan Mika ingat kan mama pernah bilang, tidak boleh pamer. Karena itu merupakan salah satu contoh kesombongan. Dan Tuhan, tidak suka pada manusia yang sombong!" jelas Sila dengan suara lembut.
Mika kecil menunduk sedih.
"Sayang, mama tahu Mika adalah anak yang baik. Mika tidak boleh bersikap tidak baik ya nak, kalau boleh mama tahu, apa sebelum Mika di antar jemput om Oman, Aurel berteman dengan Mika?" tanya Sila.
Sila menduga kalau teman Mika itu baru-baru ini saja berteman dengan Mika. Karena dia baru mendengar nama Aurel baru-baru ini saja.
Dan setelah mendengarkan pertanyaan dari ibunya, Mika pun langsung menggelengkan kepalanya.
Sila pun menghela nafasnya panjang.
"Ya sudah, mulai sekarang mama harap Mika tidak hanya berteman dengan Aurel, Mika harus berteman dengan yang lain juga seperti dulu. Sekarang kita masuk yuk, ada tante cantik adiknya Daddy, mau kenalan sama Mika!" jelas Sila.
Sila dan Mika pun masuk ke dalam rumah keluarga Hendrawan. Saat Sila menggandeng Mika masuk ke dalam rumah besar itu, dia melihat Joseph yang berdiri di depan pintu kamar Shafa. Mika yang memang takut pada Joseph langsung melambatkan langkah kakinya dan bersembunyi di belakang Sila.
Sila pun menoleh ke belakang, dia hanya bisa tersenyum karena dia tahu apa yang menyebabkan Mika merasa takut seperti itu.
Sila langsung menggendong Mika, dan berjalan mendekati Joseph.
Di gendongan Sila, Mika benar-benar seperti bayi koala yang menempell erat pada ibunya. Mika bahkan menyembunyikan wajahnya di pelukan Sila.
"Jo, kenapa di luar? kenapa tidak temani Shafa di dalam?" tegur Sila yang merasa khawatir karena Joseph berada di luar kamar Shafa.
Terlebih lagi saat Sila melihat pintu kamar Shafa tertutup.
"Jo...!" tegur Sila kali ini dengan wajah serius.
"Maaf nyonya, tadi aku sudah bawakan jus dan mengajak nona Shafa mengobrol, tapi dia menyuruhku keluar dan menutup pintu kamarnya!" ucap Joseph jujur.
Semua yang dikatakan Joseph itu memang jujur, hanya saja dia tidak mengatakan tentang perdebatan nya dengan Shafa.
Sila yang cemas segera membuka pintu kamar Shafa. Dia terkejut melihat Shafa memeluk lututnya dan terlihat menangis. Juga ada pecahan gelas di lantai.
"Astaga Shafa!" lirih Sila.
Sila kembali keluar dari kamar Shafa, dia tidak ingin putrinya bertemu dengan tantenya dalam keadaan seperti itu. Sila meminta Joseph memanggil Diah.
Saat berada di luar kamar Shafa, Mika yang sudah menyadari kalau Joseph sudah pergi mengangkat kepalanya.
Sila yang sedang cemas memikirkan Shafa hanya bisa mendengus pelan dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya sayang, Mika sayang, Mika makan siang dulu ya sama mbak Iyah. Mama mau bicara sama tante Shafa dulu" ujar Sila.
"Iya mama!" jawab Mika patuh karena melihat Joseph datang bersama Diah.
Mika bahkan langsung pindah ke gendongan Diah. Karena Joseph mendekati Sila.
"Mbak Iyah, tolong ajak Mika makan siang dulu ya, Jo tolong antar mereka ke dapur dan panggil satu pelayan untuk membersihkan pecahan gelas di kamar Shafa!" ucap Sila.
Joseph mengangguk paham, dia segera mengajak Diah ke ruang makan dan meminta para pelayan menyiapkan makanan untuk Mika dan juga Diah. Joseph juga meminta seorang pelayan ke kamar Shafa seperti perintah Sila.
Sila lalu masuk ke dalam kamar Shafa lagi. Sila berjalan dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan gelas yang ada di lantai. Karena dia harus menjaga dirinya sendiri agar jangan sampai terluka, karena dia tidak hanya sedang menanggung satu nyawa, tapi juga ada calon anaknya yang ada di kandungannya yang harus dia jaga baik-baik.
Sila langsung duduk disebelah Shafa. Perlahan dia mengusap punggung adik iparnya itu dengan lembut.
"Shafa...!"
Shafa langsung memeluk Sila, dan menangis di pelukan kakak iparnya itu.
"Aku hanya mencintai nya kak? apa aku salah?" lirih Shafa dengan suara sangat pelan.
Sila tidak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan Shafa, karena di sela Isak tangis dan suaranya sangat pelan. Tapi Sila samar-samar mendengar kata cinta.
"Kamu bilang apa Shafa?" tanya Sila ingin memastikan sebenarnya apa yang Shafa sedang coba katakan pada Sila.
Shafa yang menyadari kalau dia terlalu emosional dan tanpa sengaja mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan pun segera menyeka air matanya dan menarik dirinya sedikit dari pelukan Sila. Shafa menggelengkan kepalanya.
"Tidak kak, apa kakak membawa Mika?" tanya Shafa.
Sila langsung mengangguk.
"Iya, dia sedang makan siang di ruang makan. Kamu juga pasti belum makan siang kan. Kita makan siang bersama yuk!" ajak Sila dengan wajah tersenyum tulus.
Shafa bisa lihat senyuman tulus dari Sila itu. Dia lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Seiring pelayan yang datang membersihkan pecahan gelas, Shafa dan Sila keluar dari dalam kamar. Sila memang sengaja tidak menanyakan perihal gelas yang pecah itu karena dia memang tidak mau membuat suasana hati Shafa kembali menjadi tidak baik.
Ketika mereka berdua keluar dari kamar, Joseph pun menyapa Sila.
"Nyonya, ada lagi yang bisa aku lakukan?" tanya Joseph dengan sopan.
Shafa menghela nafas jengah di depan Joseph.
"Kak Sila, aku duluan ya!" ucap Shafa yang langsung pergi meninggalkan Sila dan Joseph.
"Tidak ada Jo, kamu juga makan siang lah bersama Oman!" sahut Sila.
"Baik nyonya!" jawab Joseph.
Sila pun menyusul Shafa, tapi pandangan Joseph terus tertuju pada punggung Shafa yang semakin menjauh. Joseph merasa sedikit ada yang aneh dalam hatinya melihat Shafa mengacuhkannya.
***
Bersambung...