Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
Rencana jahat


"Kenapa anda bertanya istri anda pada pada saya...." Rasanya ada yang janggal bagi kaivan.


Jika istri pria ini yang hilang, berarti....


"Apa yang terjadi pada Salva?" tanya Kaivan yang sudah sadar apa yang terjadi. Arya Tetu saja tidak percaya dengan Kaivan.


Arya menarik kerah baju kaivan. "Cepat anda katakan!! Atau anda kanan menyesal!!"


Kaivan mendorong Arya, agar melepaskan cengkraman nya. Sepertinya mereka sudah sudah sama-sama tersulut emosi, sehingga tidak sadar gadis yang disamping mereka sudah meyupah serapah manusia yang tidak punya pikiran ini.


Dasar manusia bodoh... bukanya mencari kakakku malah berantem. Jika aku bisa melakukannya sendiri akan ku lempar mereka berdua dengan batu.


Meskipun hati mengutuk mereka berdua, tapi Nana tetap tidak berani memisahkan mereka. Bagaimana pun mereka sedang dalam emosi, bagaimana nanti mereka hilang kendali dan malah memukul wajah cantiknya, ohh tidak.


"Saya benar-benar tidak tau! Sekarang jelaskan apa yang terjadi?"


Arya melihat wajah Kelvin yang juga ikut kwartir mendengar kabar Salva diculik, hati Arya sedikit yakni jika bukan Kaivan pelakunya.


Dengan emosi menggebu-gebu Arya menceritakan ancaman yang beberapa hari ini dan berlanjut kehilangan Salva di mall yang diceritakan Nana tadi.


"Dasar bodoh!!! dia sudah mengancam mu, kenapa tidak kau laporkan kekantor polisi!!" maki Kaivan. Ia kesal apakah mendengar Arya menghapus barang buktinya.


"Kak ipar apa kau masih menyimpan pesan terakhirnya?" Nana memilih berbicara saat melihat mereka berdua kembali ingin saling menyalahkan.


"Iya Na... masih ada foto dan pesan ancamannya tadi sebelum kesini." Arya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pada mereka.


"Kita kan lapor polisi!"


"Tunggu!! tuan Kaivan, jika kita melaporkan polisi mereka akan menyakiti Salva!" ucap Arya, ia masih ingat dengan pesan terakhir sang penculik.


"Itu jika kau yang melaporkannya, tapi itu tidak berlaku untuk kami,"


Nana tersenyum menyeringai, benar apa yang dikatakan Kaivan. Mungkin kakak iparnya sedang diawasi oleh seseorang sekarang, tapi tidak dengan Kaivan. Dia orang luar yang tidak akan mungkin dicurigai, lagi pula pengaruh kaivan dikota ini cukup besar, ia yakin mantan kakak iparnya itu dengan mudah bisa menemukan nya, hanya itu harapan mereka saat ini.


Kaivan mengangguk setuju, mungkin untuk sekarang yang terpenting menyelamatkan wanita yang dicintainya, masalah hati nanti saja dibahas.


Mereka berpisah untuk melakukan rencana mereka untuk mengecoh sang penculik. Orang itu pasti fokus dengan apa yang akan dilakukan Arya dan keluarga Nana, tidak tidak dengan orang lain seperti Kaivan.


*****


Seorang perempuan dan dua laki-laki tersenyum melihat kepanikan Arya, rencana mereka akan berhasil memisahkan dua sejoli itu.


"Halo... Bagaimana dengan gadis itu?" tanya sang perempuan.


"Dia aman bersama ku!!"


"Kenapa tak sekalian kau lenyap kan wanita penggoda itu!!" Bentak sang perempuan murka.


"Aku tidak ingin membunuh seseorang yang tidak punya urusan dengan ku!! Aku hanya ingin nyawa penghianat itu!!" bentak balik sang pria diseberang sana.


"Kau jangan lupa perjanjian kita!! jangan pernah menyakiti Arya!!"


"Aku tidak peduli nyawa harus dibalas nyawa!! Jika kau ingin menyelamatkan pujaan hati mu itu, siap-siap juga akan menjadi mayat didepan ku!!"


Sambungan telepon langsung diputuskan sepihak, dia sangat murka ternyata pria yang membantunya membuat rencana itu Malah ingkar janji.


"Kalian berdua! Jika Hendri tidak mau menghabisi wanita sialan itu, kalian yang harus menghabisinya!!"


"Tentu saja nyonya... yang penting bayarannya!! hahaha."


"Tentu saja, jika berjalan lancar kalian akan mendapat bonus... dan satu lagi, jika pria gila itu ingin melenyapkan Arya, kalian harus menghentikannya, ingat!!"


"Siap!!"


Tersenyum penuh kemenangan merasa dirinya benar-benar sudah Menang dalam pertarungan ini, tapi ia tidak tau hal yang lebih berbahaya sudah siap membakarnya.