Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
belum siap


SALVA POV


Aku baru saja sampai dirumah, rasanya sangat lelah, mungkin karena akhir-akhir ini aku jarang mengerakkan badan, membuat mudah lelah. Bertemu dengan ayah Kaivan benar-benar membuat aku kepikiran, apalagi ia juga mengatakan mantan suaminya itu selalu mencarinya.


Untuk apa mencari barang yang sudah dibuangnya ini? bukankah dendamnya sudah terbalas? aku ingin mengutuk pria bodoh itu, untungnya bunda memberi nasehat untuk saling memaafkan, jika tidak aku sudah datang ke depan wajah pria itu,dan mentertawakan nasib malangnya itu.


Belum juga sepuluh menit duduk di rumah, telpon ku kembali berbunyi, saat kuliah aku cukup kaget, Kenapa mantan ayah mertuaku ini menelpon ku lagi?


"Assalamualaikum yah.. ada apa?" ucap ku tanpa basa-basi.


"Halo... ini dengan keluarga tuan Hendra? kami dari pihak kepolisian, saudara Hendra mengalami kecelakaan!"


Deg...


Baru saja aku melihat wajah keriputnya itu, lalu bagaimana hal seperti ini terjadi? ya Allah aku tidak percaya. Setelah pihak kepolisian mengatakan korban dibawa kerumah sakit XXX, tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke sana. Mungkin Nomor terakhir yang dihubunginya adalah aku, jadi pihak kepolisian mengira aku keluarganya.


Untungnya nasib baik sedang memihak ku, aku dengan mudah menemukan taksi, jalan pun tak terlalu macet, dengan cepat Bisa sampai dirumah sakit.


Dengan cepat aku menuju ruangan yang dikatakan oleh polisi tadi, saat sampai bisa dilihat ada dua orang polisi yang berjaga didepan pintu. Sekali lagi diriku mengetahui pentingnya sebuah status, pentingnya uang dalam hidup ini, jika yang kecelakaan itu orang miskin seperti kami ini mereka tidak akan peduli, berbeda dengan mantan ayah mertuanya itu, kedudukan dan status membuat orang memperlakukannya bak raja.


"Permisi... saya yang bernama Salva, ke,,, keluar korban." ucapku pada salah satu dari mereka.


"Kalau begitu anda harus menunggu dulu nona! pasien sedang ditangani oleh dokter, anda harap bersabar." menganguk mengerti, ingin pergi di kursi tunggu, tapi ada satu hal yang mengganjal dalam hatiku.


"Korban mengalami kecelakaan, seperti ada seseorang yang mencoba melukainya! kami diperintahkan putra tuan Hendra!"


Satu hal lagi, menjadi orang kaya belum tentu membuat seseorang bahagia, buktinya mantan ayah mertuaku ini. Meskipun kaya tapi musuh tetap saja ada, menjadi seorang pengusaha kehidupan dikelilingi oleh orang-orang yang ingin menggulingkan nya, mereka tak merasa senang melihat kita lebih maju dari diri mereka, lalu dari mananya yang bahagia? Jika nyawa selalu terancam.


Sudah hampir menunggu setengah jam, tapi dokter tak kunjung keluar, membuat perasaan ku semakin cemas terjadi sesuatu dengan tuan Hendra. Satu hal lagi yang ku cemaskan, bagaimana jika Kaivan datang kemari, rasanya aku belum siap untuk bertemu dengannya.


Bukannya takut, hanya ia akan merasa canggung. bertemu dengan ayah dari mantan suami saja ia sudah canggung apa lagi dengan dia.


*****


Matahari sudah terbenam dan malam sudah mulai datang, tapi dokter yang menangani tuan Hendra belum juga keluar. Salva mulai cemas, bagaimana jika suaminya pulang lebih awal? alasan apa yang akan ia berikan nanti?


Saat Salva sibuk dengan pikirannya, seorang pria berlari di lorong rumah sakit, pria itu berhenti tepat di depan pintu kamar rawat inap tuan Hendra. Ia terengah-engah mengatur nafasnya yang memburu karena capek berlari, sebelum ia menoleh kedepan mendapat sesuatu yang menurut jantungnya berhenti berdetak.


"Salva?!"


*****


jangan lupa tinggalkan jejak ya kk


biar aku tambah semangat untuk nulis 😘😘