
Salva telah sampai dirumah yang disebutkan anak kecil tadi, tapi dia belum terlalu yakin. saat ini bertanya ternyata anak kecil yang bernama Gilang itu tertidur diperlukan salva.
"Apa alamat ini benar pak?" salva mencoba bertanya pada supir taksi.
"Sesuai alamat, benar dek!" jawab sang supir.
Dengan lembut terpaksa salva bangunkan Gilang. terlihat anak itu mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Kita sudah sampai dek, hayuk turun." salva membimbing Gilang yang masih terlihat belum stabil jalannya.
"Dek?? betul ini rumah kamu?" tanya salva bingung. Rumahnya besar dan terasa sangat menyejukkan melihatnya.
Andaikan aku bisa Tinggal dirumah seperti ini... mungkin akan menyenangkan!
"kakak kenapa melamun?" Gilang menarik-narik tangan salva yang terlihat melamun.
"Tidak apa-apa... ayo masuk,"
Lahh kenapa aku yang nyuruh dia masuk? ini kan rumah dia. salva menepuk jidatnya karena malu bercampur bingung.
"Gilang... Sekarang kamu sudah sampai, kakak pulang dulu ya," ucap salva akhirnya.
"Kok pulang? kakak gak mau ketemu nenek dulu? nenek orangnya baik tau," ucap Gilang membanggakan neneknya.
"Tapi kakak harus pergi...."
"Sebentar saja ya kak..." bujuk Gilang yang ingin memperkenalkan pada neneknya.
Sebelum sempat salva membantah, terdengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah besar itu.
"Nyonya!! den Gilang sudah pulang!!" teriak seorang wanita yang terlihat seumuran dengan ibu Maya.
Setelah teriakkan itu,disusul dengan kemunculan beberapa orang lagi, yang salva yakin mereka keluarga Gilang. Salva mulai tidak enak, seharusnya tadi ia langsung pulang. jika sudah seperti ini pasti akan banyak pertanyaan.
POV SALVA
Aku merasa tak nyaman jika sudah seperti ini, seharusnya setelah mengantarkan anak ini didepan pagar aku langsung pulang. jika sudah seperti ini aku akan jadi tersangka pertama,dan banyak pertanyaan kenapa anak ini bisa bersama aku.
Seorang wanita yang terlihat sudah berumur langsung mengendong Gilang, dan anak itu Langsung berteriak memanggil nenek. tapi sepertinya aku pernah bertemu dengan dia... wajahnya terasa tak asing.
"Hay Bu... apa ibu kenal dengan saya?" aku belum mengingat siapa dia, jadi wajar jika aku bertanya bukan.
Tapi ibu-ibu itu malah tertawa membuat aku semakin bingung.
"Kamu udah lupa sama ibu?"
Kembali mencoba mengingat-ingat, tapi tidak kunjung teringat. selama dua hari disini aku sudah banyak bertemu dengan orang, terutama tetangganya yang aku kunjungi untuk perkenalan. jadi yah tidak terlalu ingat dengan wajah orang-orang yang pernah bertemu denganku.
"Maaf tapi saya benar-benar tidak ingat," ucap ku bingung. aku melihat kesekitar ada empat orang disini dan salah satu pria menatap ku dengan tajam. mungkin dia ayah anak ini?
Dan untuk wanita yang berteriak tadi ia sudah pergi, mungkin dia hanya pembantu dirumah mewah ini.
"Astaga... jadi kamu benar-benar lupa sama ibu? saya orang yang bersama kamu di bus saat itu!" Aku langsung terbelalak, pantas saja aku merasa kenal tadi. ternyata dia ibu yang membuat aku kagum hari itu.
"Ibu Mala?? maaf ya Bu aku benar-benar lupa," ucap ku canggung. aku kembali melihat pada dua wanita dan satu pria yang masih muda itu, aku bingung kenapa mereka menatap ku seperti itu.
"Ayo masuk dulu nak... ibu ingin tanya-tanya kenapa Gilang bisa sama kamu." jika ditolak merasa gak sopan, tapi jika diterima tiga mata tajam itu masih mengawasi ku.
Akhirnya aku pun mengikuti Bu Mala masuk kerumahnya. aku masih heran kenapa orang sekaya ini masih mau naik bus ya?
"Gilang sama ayah dulu ya... nenek mau ngobrol sama tamu!" ehh kenapa suaranya begitu merdu ya? aisss kenapa otak ku mulai oleng sih!
Tapi Gilang tidak menjawab panggilan pria itu,anak itu malah menatap garang pada wanita disamping sang pria.
"Gak mau!! Gilang sama nenek aja!" bentak Gilang.
Aku mulai ingat, bukan kah tadi ia bilang ada wanita jahat yang membuangnya? mungkin salah satu dari wanita itu, membuat Gilang membencinya.
"Gak boleh bicara sama ayah seperti itu sayang...." bujuk Bu Mala pada cucunya.
"Nanti Tante itu jahatin Gilang lagi!!! aku mau sama papi aja!" anak itu berlari entah kemana, sepertinya ia masuk kesebuah ruangan.
Aku merasa ruangan ini merasa mencekam, karena tatapan horor. bukan untukku ya, tapi tatapan Bu Mala dan pria itu untuk sang wanita disampingnya.
"Apa maksud cucu saya tadi?!"
******