
Cup
Wajah Salva merona, saat Arya mencium bibirnya.
Pelan Arya membelai wajah cantik istrinya, ditatapnya wajah yang menunduk malu. Tangan gagah itu, mengangkat dagu Salva. Kini keduanya saling pandang mendekatkan wajah hingga tak berjarak.
Awalnya berlahan,tapi lama-kelamaan ciuman itu menjadi semakin panas. Tangan Arya tak tinggal diam, ia bahkan sudah tak dapat menghentikan kegilaan yang ia buat.
Nafas mereka memburu dengan detak jantung berpacu, tak ada yang bisa menghentikan gelora asmara diantara mereka. sentuhan dan belaian membuat mereka seolah terbang ke surga dunia.
Jangan ditanya perasaan Salva, wanita itu sudah tak sanggup menggngkapkan nya dengan kata-kata, ia hanya mampu bergerak-gerak gelisah di bawah kuasa suaminya.
"Ahhh...." Satu desahan lolos dari bibir salva dengan indah, Arya tersenyum menyeringai. Ciumannya semakin turun dileher Salva, membuat wanita itu semakin gelisah. Ia berjanji tidak akan melepaskan istrinya ini untuk malam ini.
"mas... ahh...." salva semakin tak bisa mengendalikan dirinya, ia benar-benar terbuai dengan kelembutan suaminya, dirinya seolah-oleh terbang dibuatnya.
"Yah... panggil nama ku sayang!!" Udara disana semakin panas, bersama dengan kegiatan mereka. Hingga tanpa sadar mereka berdua sudah sama-sama polos tanpa pakaian sehelai benang pun.
"Apa boleh?" Salva menatap Arya tak mengerti, tapi kemudian ia mengangguk malu. Wajah salva memerah saat melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat, ada rasa cemas dalam hatinya, tapi ia menyakinkan diri untuk menyerahkan hidupnya pada suaminya sendiri.
Percobaan pertama penyatuan mereka gagal, begitupun kedua dan ketiga kalinya tetap gagal, membuat Arya heran. ia memandang Salva dengan sulit diartikan.
"Kamu masih perawan?!" tanya Arya seketika.
Arya begitu terkejut mendapati kenyataan ini, ternyata ia pria pertama yang menggagahi istrinya.
"Issss jangan banyak tanya mas!! lakukan apa yang ingin kau lakukan...." salva benar-benar malu, bagaimana mungkin suaminya malah bertanya dalam situasi seperti ini.
Arya tersenyum bahagia, ia semakin semangat membuat istrinya merasakan nikmatnya surga dunia. Desahan bersautan satu sama lain keluar dari mulut Arya dan Salva, kedua insan manusia itu sedang berusaha untuk mencari surga dunia dititik tertinggi.
Bagaimana pergelutan mereka berlanjut sampai subuh menjelang, Arya benar-benar niat membuat istrinya tak bisa berjalan esok pagi.
*******
Cahaya matahari masuk melewati jendela, menganggu tidur dua insan manusia yang saling berpelukan dengan erat.
Arya mulai membuka matanya perlahan, ia tersenyum melihat Salva yang masih tertidur nyenyak. Ia kembali ingat kegiatan yang mereka lakukan tadi malam, ingin rasanya Arya bersorak senang mendapati kenyataan dia yang pertama.
Aku tidak percaya ini... apa mereka tidak pernah berhubungan setelah menikah. Terimakasih ya Allah, kau memberikan hadiah begitu indah melewati dirinya, aku berjanji akan selalu menjaganya sampai akhir hayat ku!!
Arya bangkit menutup pintu jendela agar tak menganggu tidur nyenyak istrinya, bagaimana pun ia sudah membuat istrinya bergadang semalaman, bahkan mereka hanya tidur disaat menjelang subuh, setelah melakukan salat subuh baru mereka melanjutkan tidurnya lagi.
Arya kembali mengecup kening Salva sebelum pergi keluar, ia harus menyiapkan sarapan untuk istrinya, bagaimana pun dia yang sudah membuat istrinya lelah, jadi untuk sekarang ia ingin memanjakan nya.
Arya dapat melihat para asisten rumah tangga sudah mulai melupakan pekerjaan mereka, Arya pergi menuju dapur untuk memasak.
"Tuan Arya? ada yang Bisa saya bantu tuan?" tanya wanita paruh baya itu. ia bik Ijah, orang yang ditugaskan untuk memasak dan mengurus semua urusan dapur.
"Tidak usah bik, saya ingin memasak sendiri untuk istri saya." bik Ijah tersenyum kecil.
"Memangnya tuan bisa memasak? nanti terluka loh...." canda bik Ijah. Arya terkekeh kecil, bagaimana ia bisa takut untuk terluka, bukankah profesi ia sebagai dokter bedah, bermain pisau sudah makanannya sehari-hari.
"Jangan lupa siapa Arya bik... sekarang bik Ijah istirahat saja, untuk pagi ini dapur dalam kuasa Arya!"
Arya mulai memasak apa yang dia bisa, untuk makanan sederhana ia bisa melakukannya, seperti nasi goreng.
Setelah siap dengan kesibukannya,ia tersenyum bangga melihat masaknya sendiri. untuk rasa ia sudah bisa menjamin bisa untuk dimakan hehe, ia sudah mencobanya sedikit.
*******