
Hari berlalu tanpa henti, sekarang pernikahan Salva dan Kaivan sudah memasuki bulan ketiga. tapi Kaivan tidak kunjung berubah. Meskipun dia memberikan perhatian tapi itu hanya sebatas perhatian biasa, dia hanya menggantung hubungan mereka.
Tapi pagi ini Salva sangat senang, karena kaivan mengajak pergi jalan-jalan. ini kali pertama Salva keluar setelah dua bulan lebih terkurung didalam rumah ini.
"Kau sudah siap?" Salva mengangguk semangat, meskipun dia tidak tau akan di ajak kemana.
"Kita akan kemana?"
"Jangan banyak tanya! ikut saja!" bentak kaivan.
Salva cukup aneh dengan tingkah Kaivan sekarang, tiba-tiba pergi mengajak jalan, itu hanya pikiran Salva saja. padahal kaivan tidak pernah mengatakan alasan dirinya dibawa kemana.
Salva ikut dalam diamnya, sudah bersyukur suaminya tidak seperti sebelumnya, jika tidak dia akan menerima tamparan dan bentakan lagi.
Setelah menempuh perjalanan sedikit jauh, akhirnya mereka sampai, ternyata mereka pergi kerumah ibu Kaivan.
"Mas? kenapa kita kerumah ibu?" Salva memandang sekeliling. "Dan kenapa sepertinya lagi ada acara?" tanya salva lagi.
"Jangan banyak tanya! ayo cepat masuk!" salva hanya menurut saat kaivan menarik tangannya. tohh menolak juga tidak bisa.
*A*da apa sebenarnya? kenapa aku merasa tidak enak? apa akan ada sesuatu yang akan terjadi?!
Salva mengikuti langkah Kaivan, meskinya dia sedikit takut tapi dia tetap tersenyum. Dia tau sesuatu pasti akan terjadi, apalagi saat sampai Salva melihat keberadaan salsa dan ibu mertuanya yang menatap tajam padanya.
*O*hh.... ternyata mereka lagi melakukan kumpul keluarga! aku sedikit canggung berada di keluarga besar suamiku ini. apa mereka sama seperti salsa dan mas kaivan? jika iya tamat lah riwayat ku.
Salva sadar diri,ia tidak sekaya keluarga kaivan. dia hanya anak tanpa orang tua, hidupnya pun hanya menumpang pada tantenya. jadi dia hanya takut jika ia tidak diterima oleh keluarga Kaivan.
"Assalamualaikum..." Kaivan mengucapkan salam pada keluarga yang terlihat sedang mengobrol dan bercanda ria.
"Walaikum salam... loh nak kaivan Sudah sampai? ayo masuk... dan nak Salva? ayo sama Tante." salva tersenyum mendapat perlakuan baik dari Tante Kaivan. tapi senyum itu tidak bertahan lama, karena melihat tatapan tajam dari ibu mertuanya dan salsa sang saudara jauh suaminya itu.
Salva menyalami mereka seperti biasanya bertemu dengan orang yang lebih tua.
"Bagi kabar kalian?" ayah Kaivan bertanya dengan senyum lembut pada putra dan menantunya.
"Kami baik ayah... tidak ada yang perlu dicemaskan." Kaivan menjawab pertanyaan ayahnya.
Kenapa ibu menatap ku seperti itu? apa aku sudah melakukannya kesalahan...? salva cukup mengerti dengan tatapan tajam ibu Kaivan.
sebentar lagi... sebentar lagi kau akan hancur gadis bodoh...hahah aku sudah bilang, jangan main-main dengan seorang salsa.... kau akan menagis darah sebentar lagi...(salsa)
"Bagaimana? kapan kalian akan memberikan kami cucu?" Tanya Tante Salva. Salva langsung terkejut mendengar pertanyaan itu,ia tidak berpikir senyum yang diberikan Tante Kaivan hanya untuk menyudutkan dirinya.
"Mungkin... mungkin belum rejeki Tan.." jawab Salva gugup. mau Hamil bagaimana? jangankan untuk berhubungan, tidur aja disuruh dilantai! Salva menangisi nasib malangnya.
"Itulah alasan kami mengajak kita ngumpul disini!" ibu Kaivan mulai angkat bicara. "Mumpung Salva ada disini... aku akan mengatakan tujuan Kita berkumpul!!" suasana semakin menegang, entah mengapa semua orang fokus mendengar perkataan ibu Kaivan selanjut. terutama Salva, karena ini menyangkut dirinya,dan masalah hamil.
bagaimana cara aku menjelaskannya, bahwa masalahnya ada pada mas kaivan. tidak mungkin aku jujur, mereka akan mentertawakan nasib malang ku ini.
******