
Keadaan sudah kembali seperti semula, Salva pun sudah diizinkan untuk kembali kerumah bunda. Keadaannya sudah membaik, hanya saja lukanya harus sering dilakukan pemeriksaan dirumah sakit. Diluar memang sudah sembuh dan sudah mulai mengering, tapi didalam, lukanya belum tertutup sempurna.
Untuk beberapa bulan ini ia dilarang untuk bergerak terlalu aktif, bahkan untuk berhubungan pun dilarang dokter. Kata dokter, luka didalam hampir mengenai rahimnya, karena itu harus istirahat total untuk dua bulan ini.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Arya yang baru kembali dari bekerja memilih untuk menyegarkan tubuhnya dikamar mandi, ia tidak ingin penyakit yang ia bawa pulang akan hinggap pada istrinya.
"Baik. Mas baru siap mandi?"
"Ya. Memangnya kamu gak liat mas masuk kamar?" padahal dari tadi istrinya duduk di ranjang sambil bermain ponsel.
"Hehe, maaf. Tadi Salva Terlalu serius mainnya."
Arya hanya menggelengkan kepala melihat Tingkah istrinya, sejak sembuh dari sakit ini istrinya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel, mungkin karena ia kesepian. Arya sadar beberapa hari ini ia sibuk bekerja, sehingga gak ada waktu untuk istrinya.
Bagaimana pun ia harus menebus hari libur saat merawat Salva, dan sekarang pekerjaannya begitu padat tak bisa ia tinggalkan.
"Apa kamu kesepian? Maaf sudah membuatmu sedih."
"Mas. Seharusnya Salva yang minta maaf, Jika saja aku tidak membantah perkataan mu, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Ia benar-benar mengacaukan rencana mereka, padahal baru saja kembali ke Jakarta, tapi langsung mendapatkan masalah yang begitu besar.
"Kamu tidak salah, sayang. Mas yang gagal menjagamu!" mengusap lembut rambut istrinya. "Mulai hari ini mas tidak akan melarang mu keluar lagi, istriku berhak mendapatkan kebebasan dan bersenang-senang."
Salva tidak percaya apa yang dikatakan suaminya, ia mencoba memahami maksud Arya.
Arya yang melihat respon Salva, hampir saja tawanya pecah. Ia tahan agar istrinya tidak tersinggung.
Astaga... kenapa istriku begitu lucu. Apa begitu bahagianya saat aku membebaskan mu? jika benar,akan aku lakukan apapun agar senyum ini selalu bertahan diwajahnya.
Bukan maksudnya ia tak ingin pergi keluar berduaan, bahkan ia sangat ingin melakukan itu. hanya saja itu tak mungkin untuk sekarang, kesibukan Arya akan menyita banyak waktu, jika ia sendiri tentu bisa pergi sesuka hatinya.
"Bahagia banget? Memangnya kamu mau kemana?"
"Cuma mau bertemu dengan teman-teman lama, bagaimana pun kami sudah lama tidak ngumpul." Bisa dikatakan ia sudah tak punya teman lagi semenjak ia menikah, maksudnya pernikahan pertamanya.
"Cowok apa cewek?!"
Sedikit ragu Salva menjawab. "Dua-duanya. Bagaimana pun kami berkumpul teman-teman Waktu sekolah, jadi,"
Salva tau Arya pasti tidak akan Setuju, tapi rencana ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari Sama mereka, Salva tentu tidak enak jika menolak permintaan sahabatnya.
"Tidak apa-apa, Asalkan jaga mata dan hatimu!"
"Hehe. Jaga hati insyaallah mas, tapi mata ... susah," lirihnya yang langsung mendapat cubitan di hidungnya.
"Coba aja kalo berani..! Berani macam-macam mas ikat kamu nanti, biar gak keluar Mandang pria lain!"
Tawa Salva langsung pecah melihat lagi-lagi ia berhasil membuat suaminya cemburu, ia hanya bercanda. Sebenarnya disana nanti ia juga akan bertemu dengan seseorang, mantan. Jika sampai Arya tau entah apa yang akan terjadi nanti? Tapi Salva tak peduli, ia tau dimana batasannya sebagai seorang istri,dan ia yakin Arya akan percaya padanya.
Hatiku sudah kau miliki seutuhnya, tidak ada tempat untuk pria lain. Kau yang akan menjadi terakhir aku berlabuh, tidak ada yang lain lagi!
*******