
Arya memilih untuk tidak pergi kerumah sakit hari ini, tadi pagi ia sudah meminta izin kepada kepala rumah sakit. Untuk hari ini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama istrinya, seperti sekarang ini, mereka berdua sedang bersantai ditaman Belakang sambil mengobrol santai.
"Mas... Apa kau menyesal sudah menikah dengan ku? bagaimana pun pernikahan kita atas dasar salah paham, aku takut kau akan menyesal nantinya." Salva bersandar di dada bidang suaminya, sambil menikmati angin sepoi-sepoi diatas ayunan.
"Yah... aku menyesal," Salva langsung menjauh dari Arya, menatap tajam Arya seolah ingin proses. "Aku kesal... kenapa tidak dimalam pertama aku melakukannya, jika tidak mungkin sekarang dia sudah hadir diperut mu." Canda Arya yang langsung dihadiahi pukulan didada nya oleh Salva.
"Kamu membuatku takut mas!!"
"Salah siapa mancing-mancing, kita sudah sejauh ini sayang, dan kamu masih bertanya hal bodoh itu." ucap Arya tak senang.
"Aku hanya mencoba berpikir realistis mas... pernikahan yang didasarkan cinta saja bisa kandas, apalagi kita didasarkan salah paham." Arya menganguk Setuju untuk satu hal ini, pantas saja istrinya selalu kwatir. Kegagalan membuat seseorang akan selalu cemas akan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Kamu benar, sayang. Tapi kita berbeda! mungkin kamu menikah dengannya dengan dasar cinta, tapi dia tidak membuat cinta itu berkembang untuk melindungi sebuah hubungan. Meskipun hubungan kita didasarkan salah paham, tapi insyaallah cinta kita akan melindungi hubungan kita." Salva kembali bersandar di dada bidang suaminya.
"Jika suatu hari aku pergi meninggalkan mu selamanya, apa yang akan kamu lakukan?" Arya kembali berputar matanya malas, apa semua wanita seperti ini?
"Ya apalagi... palingan cari wanita baru." jawab Arya enteng, yang kembali mendapat pukulan dari Salva.
"Dasar pria!! sama saja!" ucap Salva bersungut-sungut, tak terima dengan jawaban Arya.
"Makanya jangan bertanya yang macam-macam sayang! kau tau? pertanyaan seperti ini bisa merusak sebuah hubungan, aku memilih untuk jujur, masa depan tidak ada yang tau, meskipun aku bersumpah pada mu untuk setia, tapi Allah berkehendak lain mau bagaimana lagi...."
"Sayang... saat kau berbicara tentang dia aku jadi kepikiran... Apa kalian tidak melakukan itu saat menikah?" Akhirnya pertanyaan dari semalam keluar juga, ia begitu penasaran, karena memang Salva belum pernah menceritakan kisahnya pada Arya.
"Kamu sudah tau jawabannya mas... Bagaimana mungkin kami melakukannya, disaat setiap hari ia hanya memberikan siksaan, bahkan untuk menyentuh tanganku saja ia merasa jijik." Mata Salva sudah berkaca-kaca, menahan Isak tangisnya.
Bukan maksudnya ingin membicarakan kejelekan mantan suaminya, hanya saja ia ingin suaminya mengerti atas Trauma nya dimasa lalu.
"Jika itu membuat kamu sedih jangan ingatkan lagi, sayang. Aku tidak ingin melihat air mata kesedihan Dimata istriku, yang ku inginkan tawa, canda dan senyum dari bidadari ku!" Salva terkekeh dalam tangisnya, suaminya ini benar-benar berubah.
"Kenapa sekarang kamu begitu romantis mas..? Padahal dulu kau begitu dingin dan galak."
"Mungkin ia sudah menemui sesuatu yang membuat ia meleleh, Allah sudah mengirimkan seorang bidadari untuk membuat ia selalu tersenyum bahagia." Ucap Arya sambil mengecup dan membelai lembut rambut istrinya.
"Ahh udah lah, kamu membuat ku semakin meleleh mas...." Salva mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya, ia bahkan sudah tak berani menunjukkan wajah yang memerah seperti kepiting rebus itu.
Takdir ku diawal memang tidak menyenangkan, tapi sekarang Tuhan membalas kesabaran ku dengan begitu indah, kau memang maha mengetahui segala ya Allah.
*******