Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
tempat ternyaman


Arya duduk dengan lesu dipojok ruang Salva dirawat, ia kesal, baru saja salva ingin mengatakan siapa pria yang dimimpikannya, tapi keburu kedatangan bunda dan ayah.


Aku masih kesal! untung ayah dan bunda yang datang, jika orang lain, sudah aku tendang keluar!


"Khemm! Sepertinya ada seseorang yang sedang kesal," ucap Nana jahil. "Ada apa kak ipar? apa ada sesuatu yang ingin kalian lakukan, tapi tidak jadi karena kami datang?" selidik Nana.


Arya hanya berdecak kesal. "Jangan sok tau dek,"


"Yakin? sepertinya suasana hati kakak ipar sedang sangat buruk?"


Lagi-lagi Arya berdecak kesal, ia melangkah menuju ayah dan bunda yang sedang mengobrol dengan Salva. Keadaan wanita ini sudah cukup baik, ia sudah tidak dibatasi lagi untuk mengobrol dengan orang-orang, hanya saja ia belum bisa berjalan dengan leluasa, luka yang ada diperutnya belum terlalu kering, jika dipakai untuk berjalan akan terasa nyeri.


"Bunda, ayah. aku akan kembali bekerja, jika ada sesuatu tolong hubungi aku." pinta Arya.


"Tentu saja nak, mungkin kami akan lama disini. ada banyak hal yang ingin bunda tanyakan," ucap bunda.


"Tentu saja, bunda bisa sepuasnya berada disisi. Tidak ada yang akan melarangnya," ucap Arya, tapi dalam hati siapa yang tau?


Sebelum pergi ia memberikan tatapan tajam, seolah mengatakan 'urusan kita belum selesai'


Dasar pria cemburuan!! dalam mimpi saja cemburu, padahal itu kan hanya halusinasi ku!


........


Hari berlalu dengan sangat cepat, setelah merasa lelah dan hari akan segera malam, bunda dan yang lain berpamitan untuk pulang. Arya kembali keruang rawat inap Salva.


"Udah kembali mas?"


"Udah. Apa sudah ngantuk?"


"Belum mas." salva bergeser ke samping, kemudian ia menepuk tempat tidur disebelahnya. "Mas... malam ini tidar sama Salva ya," pintanya.


Tentu saja dengan senang hati akan Arya terima, lagipula untuk tidur berdua bisalah, meskipun akan kesempitan, tapi disitulah nikmatnya.


"Ada apa ini? rindu dipeluk mas?"


"Sangat!" salva membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Kapan aku bisa kembali mas? bosan dirumah sakit," rengek salva, seolah ia tersiksa tinggal ditempat yang penuh dengan bau obat.


"Sabar sayang. Mas akan usahakan secepatnya, tapi kesehatan kamu lebih penting."


Salva mengangguk saja, lagi pula sudah membahas kesehatan dengan seorang dokter maka ia tidak akan bisa membantah, suaminya pasti tidak akan mengikuti keinginannya.


"Mas?"


"Ya,"


"Sudahlah sayang. Lebih baik sekarang kamu tidur, yang berlalu biarlah berlalu." menepuk pelan pundak istrinya agar wanita itu cepat tidur.


"Mas tau? siapa pria yang sudah datang menyelamatkanku dimimpi itu?"


"Tidak!"


"Kenapa tidak tau? Apa mas tidak berharap itu mas?"


"Sangat! Tapi jika tidak, juga tak masalah."Salva tersenyum lebar ketika ia mendengar jawaban suaminya.


"Jangan salah paham. Untuk sekarang dan selamanya hanya ada mas dihati Salva, meskipun itu hanya mimpi, tetap tak ku izinkan orang lain untuk mengantikan mu,"


"Jadi??"


"Ya ... kamu mas, kamu yang datang untuk menerangi kegelapan ku, hanya saja," Salva memutuskan ucapannya.


"Hanya apa? Jangan bikin kesel lagi, sayang!" Jika bisa, ia ingin melambung tinggi sekarang,saking bahagianya mendengar jika istrinya memimpin dirinya. tapi kenapa harus ada kata hanya saja?


"Hanya saja aku sedih ... kenapa kamu harus lebih tampan dimimpi dari pada sekarang?" Salva langsung memeluk Arya dengan kuat, agar suaminya tidak mengamuk.


"apa?" Mencoba melepaskan pelukannya. "Jadi aku gak tampan gitu?"


"Kurang,"


"Tega sekali, sayang." Berdiri ingin pergi, seolah-olah merajuk dengan ucapan istrinya.


"Salah siapa? Baru juga ditinggalkan enam belas hari, mas sudah berubah begitu buruk." Salva mengusap lembut wajah suaminya yang dipenuhi rambut halus yang mulai tampak panjang.


"Sudah berapa lama mas gak cukuran?"


Suaminya itu salah satu orang yang sangat suka kebersihan, bahkan biasanya ia tidak Suka membiarkan jenggotnya panjang, tapi sekarang entah mengapa ia begitu kusut, itu membuatnya Salva tak suka.


"Hanya beberapa hari, kenapa?"


"Salva gak suka mas... Apa-apaan ini? kayak preman aja!" Tegas Salva.


Arya Semakin kesenangan mendapat perhatian istrinya. "Jika istriku menginginkannya, dengan senang hati akan mas lakukan. Besok mas akan mencukurnya," ucap Arya.


"Baiklah, sekarang ayo kita tidur!"


Malam itu mereka lewati dengan saling berbagi kehangatan, diruangan VIP tidak seorang pun akan menggangu mereka. Tidak ada tempat ternyaman bagi Salva, selain didalam pelukan orang yang dicintai!


******