
Matahari terlihat cerah pagi ini, sama seperti yang dirasakan seorang wanita yang sedang tersenyum malu-malu itu.
Salva sedang mengganggu tidur nyenyak suaminya, dengan sengaja ia menyentuh, membelai, sesekali ia juga mencubit pelan pipi suaminya.
"Va... Jangan ganggu, mas masih ngantuk." setelah salat subuh Arya kembali tidur karena ia sangat kelemahan kembali dari rumah sakit yang larut malam.
Salva tidak peduli dengan peringatan Arya, tetap saja ia melakukan hal yang membuat suaminya terganggu.
"Sayang. Sekali lagi kamu berani cubit pipi mas, jangan harap dapat ampun!" peringat Arya. Tapi memang dasarnya Salva yang ngeyel, tetap saja mencubit pipi suaminya dengan gemas.
Arya yang sudah hilang ngantuk nya, memilih membalas perlakuan istrinya. Dengan cepat Arya membalas Salva dengan menggelitik tubuh istrinya balik. Suara teriakan dan tawa membuat kamar itu sangat berisik, untung saja kamarnya kedap suara,jika tidak mungkin bunda sudah berlari masuk kekamar mereka.
"Mas ampun! mas. Salva ngaku salah ... Ampun mas!!!!" Salva yang memang tidak bisa menahan geli ia menggeliat seperti cacing kepanasan Menggeliat kesana kemarin untuk menghindari gelitik Arya.
"Salah siapa nakal?" Arya masih saja melakukan aksinya.
"Mas. sakit," lirih Salva.
Arya langsung berhenti, ia melihat wajah yang tadi penuh tawa sekarang meringis kesakitan.
"Astagfirullah. Va?? kamu gak Apa-apa?"
"Mas, perut Salva sakit." salva menyentuh bekas lukanya, ia benar-benar merasa sakit dan ngilu Disana.
"Sini mas periksa." Arya melihat bekas luka diperut istrinya dengan hati-hati. "Maafkan mas. Ini tidak akan terjadi jika mas lebih berhati-hati." sesal Arya.
Salva yang sudah merasa lebih baik dengan elusan tangan Arya, tersenyum melihat tingkah suaminya. "Mas gak salah kok, kan yang mulai aku. Jadi jangan merasa bersalah."
"Tetap saja mas yang membuatmu kesakitan."
"Ya sudah ... Kalo mas masih merasa bersalah, jangan berhenti mengusapnya. Itu sangat nyaman!"
"Dengan senang hati, permaisuri ku!!"
Bolehlah dirinya terbang sekarang? Meskipun sudah setiap hari suaminya menggombal setiap hari, tetap saja ia merasa senang dan tersipu malu.
Salva mencoba memejamkan matanya untuk bisa menikmati sentuhan Arya. tak terasa ia kembali merasa ngantuk. Ia mulai memasuki alam mimpinya dengan nyaman.
Kau sungguh cantik istriku. Allah mengirimkan seorang bidadari yang begitu cantik, nikmat apalagi yang bisa kau dusta kan.
*****
Salva melihat bunda yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga, memilih menghampirinya.
"Siang bunda," ucap Arya.
"Loh... kamu sudah bangun nak?" bunda membantu Salva duduk. "Sudah merasa lebih baik? tadi Arya bilang lukamu merasa sakit lagi?"
"Tadinya iya, tapi sekarang sudah tidak Bun." Salva mencoba mencari keberadaan suaminya. "Bunda, yang lain kemana?"
"Suamimu pergi bersama ayah... entah kemana mereka?"
"Nana?"
"Adikmu pergi ke kampus. Apa kamu sudah salat?" Salva menggeleng. "Kenapa?"
"Lagi masa istimewa Bun," ucap salva.
Bunda menganguk mengerti, ia mengusap sayang kepala Salva. Ia senang melihat putrinya sudah kembali sembuh, ia tau putrinya satu ini sangat kuat, selagi Allah masih kesempatan ia pasti akan berjuang untuk tetap bertahan.
"Bunda, besok Salva mau izin?"
"Loh. mau kemana? kamu belum terlalu pulih loh," ucap bunda memperingati.
"Teman-teman sekolah melakukan reuni Bun, mereka udah capek-capek undang Salva, masa gak datang?"
"Suami kamu udah ngizinin?"
"Sudah Bun. Kemarin ngizinin, gak tau besok." Salva sendiri tau, keputusan suaminya itu bisa berubah kapan saja jika ia merasa ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Sebenarnya jika boleh ia juga ingin mengajak Arya ikut serta, tapi tidak bisa. Mereka membuat acara khusus hanya teman satu angkatan yang boleh pergi, tidak boleh membawa orang lain ataupun keluarga. Lagipula besok suaminya melakukan operasi yang sangat penting, tidak mungkin ia meninggal perkejaan nya.
"Ya sudah... Sekarang kamu istirahat, biar besok banyak tenaga buat pestanya."
Bundanya ini ada-ada saja, padahal ia juga baru bangun tidur, masa disuruh balik lagi ke kamar.
"Sudah bosan istirahat Bun, Salva mau nonton film aja."
Bunda hanya ber o ria saja, ia pergi meninggalkannya Salva yang duduk sendirian di ruang tamu. Mungkin bunda ada sesuatu yang ingin ia kerjakan, karena sebentar lagi suami dan menantunya akan pulang, ia harus membuka sesuatu.
*****