Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
insting


Salva mulai membuka matanya dengan berlahan, tubuhnya benar-benar merasa lelah setelah digempur oleh suaminya. Pria itu benar-benar niat membuat ia kelelahan.


Ia mulai mencoba menggerakkan tubuhnya, disana terasa sangat tak nyaman. Ia melihat jam dinding, sudah setengah sembilan tapi dia baru bangun. Tak menemukan keberadaan suaminya, Salva mencoba untuk berjalan tertatih-tatih kekamar mandi, ia benar-benar ingin membersihkan tubuhnya dari rasa lengket keringat mereka tadi malam.


"Kau sudah bangun?"


Arya datang dengan membawa makanan mereka kekamar, buru-buru ia meletakkan makanan yang dibawanya keatas meja.


"Ya begitulah lah, mas... bisa kamu keluar dulu?" Ia masih merasa malu. "Aku merasa tak nyaman, mas bisa menunggu diluar."


Arya tak memperdulikan ucapan Salva, dengan sigap ia mengendong tubuh istrinya membawa kekamar mandi. Ternyata disana ia sudah menyiapkan air hangat untuk istrinya berendam.


"Aku tidak akan melakukan apa pun... Berendam lah sebentar, agar merasa lebih baik." Arya mengecup kening Salva sebelum keluar dari kamar mandi.


Salva mulai merilekskan tubuh dan pikirannya, melihat perlakuan lembut suaminya benar-benar membuat ia mabuk kepayang. Meskipun ia merasa lelah, tapi ia juga sangat menikmati kegiatan mereka, ahh wajahnya kembali memerah mengingat itu.


Setelah merasa lebih segar, Salva keluar dari kamar mandi, ia mendapati pakaiannya sudah disiapkan Arya.


Benar-benar suami idaman!


"Apa sekarang lebih baik? Ayo kamu harus memakan sarapan mu, aku tidak mau nanti istriku menjadi sakit dan kurus." Arya membibing Salva kembali duduk di tempat tidur.


"Mas... aku bisa makan sendiri, tidak perlu seperti ini." Salva mencoba menolak saat Arya ingin menyuapinya.


"Apa kamu tidak ingin dimanjakan suamimu? Ayo lah sayang... aku suaminya, bukan orang lain."


Salva menggenggam tangan Arya. "Karena kamu suamiku makanya aku keberatan, kamu terlalu memanjakan ku mas... nanti aku ketagihan loh!"


"Itu lebih baik sayang, aku tunggu kamu bermanja-manja padaku," ucap Arya genit.


Wajah Salva tersipu, lagi-lagi suaminya mampu membuat hatinya melelah.


*****


Kaivan masih gelisah dengan keadaan ayahnya, sudah tiga hari ini saya belum juga sadar dari pingsannya. Ia tidak mengatakan pada ibunya bahwa ayah sedang sakit, ia tidak ingin membuat kondisi ibunya semakin memburuk.


"Ayah... aku mohon cepatlah sadar, apakah kalian yang aku sayangi mulai ingin meninggalkan ku? tak cukupkah penderitaan ini sampai disini saja?"


Andaikan dia tau semua masalah dimulai dari kecerobohannya, mungkin ia akan berhenti mengeluh. Ia hanya bisa menyalahkan takdir tanpa mau memperbaiki dirinya, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuannya.


Telpon kaivan bergetar didalam sakunya, dengan cepat ia mengambilnya.


"Halo...."


"(....)"


"Bagaimana bisa!! apa kau tidak salah lihat?"


"(....)"


"Baiklah, terima kasih atas bantuan anda." Kaivan memutuskan sambungan telponnya.


Terlihat wajahnya yang tidak bersahabat, sepertinya ia baru saja menerima kabar yang tidak mengenakkan. Kaivan meremas ponsel ditangannya, ia benar-benar marah dengan kabar yang baru didapatkannya.


Dia milikku!! tak seorang pun akan ku biarkan merebutnya!


Dengan langkah tegap kaivan mulai meninggalkan kamar rawat ayahnya, ia bahkan tidak sadar orang yang berada ditempat tidur itu sudah mulai membuka matanya perlahan. Mungkin insting seorang ayah mulai muncul saat anaknya akan terluka lagi, dengan begitu ia harus sehat untuk melindunginya.


******


Terimakasih like, komen, dan vote nya kak😘