
Seperti yang sudah direncanakan, pagi-pagi sekali Salva mulai bersiap untuk pergi jalan pagi bersama Nana, untung saja suaminya masih tidur jadi dia bisa pergi diam-diam.
"Maaf ya mas... Hehe kali ini istri mu durhaka deh, pergi tanpa pamit." Bisik salva dalam tidur Arya yang begitu nyenyak, mungkin ia masih kelelahan menyetir mobil dari Bandung ke Jakarta. Setelah salat subuh, suaminya kembali tidur, tidak seperti biasanya yang tak ingin salat lagi jika fajar sudah tumbuh.
"Mmm...." Ternyata suaminya melenguh, mungkin merasa geli dengan nafas istrinya yang berbisik ditelinga.
Salva hanya tertawa kecil sambil meninggalkan kamar mereka, diluar kamar Nana sudah menunggu dengan pakaian yang sudah siap untuk melakukan aktivitas pagi hari ini.
"Apa kakak ipar terbangun?"
"Tidak," Salva membawa adiknya menjauh dari pintu kamar. "Jika dia terbangun, kita tidak akan bisa pergi. Lebih baik kita kabur sekarang," Salva yakin suaminya pasti akan ngamuk saat tidak menemukan dirinya bangun tidur, tapi dia tidak akan berani marah karena ada ayah dan bunda.
"Apa menikah itu sangat menyenangkan kak?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya salva balik. "Apa kamu sudah memiliki calon?"
Jawabannya sudah pasti dapat Salva tebak, wajah tersipu malu itu penanda ia sedang memiliki hubungan asmara dengan seseorang. Salva tersenyum kecil, mengerti jika saat ini adiknya pasti sedang menyukai seseorang.
"Aku tidak yakin dia mau sama aku kak... Kami sudah pacaran, Hanya saja sepertinya ia tidak ada niat serius dengan ku." Salva menatap iba adiknya itu.
Masalah cinta Salva sendiri sulit untuk menjelaskannya, ia sendiri pernah gagal menilai seseorang, lalu bagaimana cara ia menasehati adiknya.
"Sudah berapa lama kalian pacara?"
"Sudah cukup lama... Kakak tau? dia pria yang baik, dia sering membantuku saat mengerjakan tugas kuliah. Dan sejak itu kami begitu dekat," Sebenarnya ia sendiri tak yakin jika kekasihnya akan memilih dirinya, dapat Nana lihat pria itu memang baik sama semua orang, meskipun perlakuan padanya memang sedikit berbeda.
"Lalu kenapa kamu cemas?"
Nana memilih duduk dibawah pohon rindang. "Dia pernah bilang, ia akan dijodohkan! tapi dia menolak. Aku takut suatu hari nanti ia akan mengalah, dan menyerah akan hubungan kami...." Salva dapat melihat wajah cemas disana.
"Maaf Na... Kakak sendiri tidak tau berkomentar apa, hanya saja kamu harus berbesar hati untuk masalah seperti ini. mungkin... Mungkin apa yang kamu takutkan itu benar-benar terjadi, kamu harus berlapang dada."
"Tidak usah pikirkan kak... sekarang ceritakan bagaimana pernikahan mu?" Wajah yang sedih tadi sudah hilang, diganti dengan wajah yang begitu penasaran dengan hubungan kakaknya.
"Tidak ada yang sepesial... Hanya saja dia... sedikit berubah,"
"Benarkah? Seperti apa?"
Nana begitu bersemangat. Dari awal ia melihat suami kakaknya, ia sudah menyukainya. Ia tau pria seperti itu pasti sangat baik dan romantis, hanya tampangnya saja yang galak dan dingin. Berjodoh dengan kakaknya sudah pasti mereka sangat serasi.
"Dia itu sangat... Baik."
"Hanya itu?" kakaknya ini benar-benar tidak bisa memuji suaminya, seharusnya ia perlu berlebih-lebihkan, agar terdengar lebih baik.
"Ya hanya itu! lagi pula aku tidak ingin kau nanti baper dek... Bayangkan saja setiap malam aku tidur dipelukkan hangatnya, memanjakan ku bak seorang putri... Ohh, aku jadi rindu!!" membuat ekspresi yang sangat bahagia dan sangat menikmati. Seolah ingin mengguncang jiwa jomblo adiknya itu.
Nana melongo mendengar perkataan kakaknya. Hhhhh rasanya ada sesuatu yang memberontak dalam dirinya. Kakaknya ini, tadi pura-pura masa bodoh, Sekarang berkata begitu dramatis, membuat dirinya ingin cepat-cepat menikah sekarang.
"Ahh kakak... Bujuk Bunda dong...," rengek Nana.
"Wisuda aja belum kamu! udah mikir nikah!!"
Nana cemberut mendapat sentilan kecil di keningnya. Kakak nya ini benar-benar keterlaluan, sudah membuat dirinya baper tapi malah melarangnya untuk menikah. Benar-benar tidak adil!
Tak berapa lama Mereka kembali kerumah, karena matahari sudah mulai meninggi, panas pun sudah mulai terasa mengenai kulit.
Mereka tertawa sepanjang jalan sambil berjalan tanpa beban, hidup sederhana seperti ini yang selalu Salva impikan selama ini. Berjalan berdua bersama dengan orang yang kita sayangi, tidak apa-apa hari ini dengan Nana, tapi hari selanjutnya ia akan berjalan bergandengan tangan dengan suami tercintanya.
*****