
Salva mulai memasuki kamar yang sempat mereka tinggal bersama, jantungnya bagaikan ingin meledak saking gugupnya bertemu dengan suami sendiri. Ahh bukankah hubungan kami memang begitu canggung dari kemarin, apalagi ada masalah ini membuat jarak semakin jauh.
Saat pertama kali masuk ia bisa melihat Arya yang tengah tidur dengan posisi membungguginya, untung saja ia tidak mengunci pintu kamarnya,jika tidak ia tak akan bisa masuk kedalam.
Tangan Salva terulur untuk mengelus kepala Arya,ia bisa melihat keadaan suaminya itu tidak baik-baik saja. Setelah puas bermain dengan rambut suaminya, Salva pindah ke dahi pria itu dan memijat dahi Arya pelan, dapat dirasakan tubuh suaminya sedikit panas.
Saat Salva memandang wajah Arya begitu intens ia tidak sadar mata itu sudah mulai terbuka, memandang dirinya dengan tajam.
"Apa yang kamu lakukan disini?!" Salva dibuat kaget dengan suara bentakan itu, meskipun suara itu sedikit lemah, tetap saja membuat jantungnya deg-degan.
"M... mas Arya," ucap Salva kelu.
"Ngapain kamu disini?!" sekali lagi suara bentakan itu terdengar.
"Aku... aku mau...." entah mengapa kata itu begitu berat untuk dikatakan, ia benar-benar merasa sial pada dirinya sendiri.
"Pergilah bersamanya! aku tidak peduli!"
"Aku bisa jelaskan... kami tidak punya hubungan lagi, kau harus percaya pada ku...."
salva berusaha menggenggam tangan Arya, tapi langsung ditepis si empunya.
"Aku cemburu!"
"Ha?"
Dahi Salva berkerut, ia bingung dengan maksud ucapan Arya. Apa dia sedang cemburu kaivan?
Arya memutar bola matanya malas, mengapa istrinya ini begitu tidak peka dengan perasaan orang lain? apa dia tidak tau dirinya begitu tersiksa dua hari ini untuk menahan rindu pada dirinya.
Arya menggenggam tangan Salva, "Aku cemburu melihat mu bersamanya! apa kau tidak juga mengerti?!"
Apa yang baru saja dia katakan? apa benar dia cemburu? itu artinya dia mencintai ku kan?
Salva membalasnya genggaman tangan Arya. "Aa... apa kamu mencintaiku?" pertanyaan itu meluncur dengan baik, dari tadi ia sudah ingin menanyakan.
"Ckk... Kenapa kamu masih bertanya, aku benar-benar kesal!"
Arya berdecak kesal melihat respon yang diberikan istrinya ini, tak bisakah istrinya ini bersikap romantis seperti di film-film, saat pasangannya menyatakan perasaannya sang wanita langsung memeluk sang pria.
"Kau tau dua hari ini aku harus menahan rindu untuk tidak bertemu dengan mu, dan sekarang ini balasan mu!" ucap Arya lagi. Salva terlihat cengo dengan sikap Arya.
"Memangnya siapa yang suruh menghilang? jadi tersiksa sendiri kan?" cicit Salva yang masih dapat didengar Arya.
"Siapa yang suruh kau berpelukan dengan pria lain?" balas Arya tak kalah pedas.
Salva menjadi manyun, ia merasa bersalah lagi, padahal baru saja ia senang mendengar suaminya berkata rindu.
"Baiklah, baiklah... katakan apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa memaafkan ku?"
Arya menatap Salva intens, kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan. ia tersenyum menyeringai melihat Salva. "Apa kau yakin bisa melakukannya?"
"Menjadi milikku seutuhnya?!"
Deg
Tubuh salva bergetar, apa dirinya begitu egois selama ini? Bahkan ia sampai sekarang belum memberikan hak suaminya, ternyata dia benar-benar terkubur dalam jurang masa lalu, sehingga ia tak melihat pria yang begitu baik sedang menunggu dirinya.
"Bukankah selama ini aku memang milikmu? lalu kenapa masih bertanya, aku milikmu dan kamu milikku akan seperti ini sampai kapanpun!" ucap Salva penuh penekanan.
Arya terlonjak kaget mendengar perkataan salva, ia sempat berpikir Salva akan menjauh darinya, tapi jawaban yang begitu sejuk dan indah membuat ia senang seketika. tak menyia-nyiakan kesempatan, Arya menarik salva masuk ke dalam pelukannya.
"Benarkah? Itu berarti kau juga mencintai ku?" salva menganguk canggung,ia malu dengan posisi intim ini.
Arya tak lagi memperdulikan kondisi tubuhnya, yang ia inginkan sekarang mengecup bibir merah istrinya itu, dari awal tadi ia benar-benar sudah tergoda.
Tapi suara ketukan pintu membuat semuanya menjadi kacau, ibu Mala masuk dengan senyum manis membawa nampan berisi bubur untuk Arya.
"Bener kan apa yang ibu bilang? Dia langsung sehat setelah kedatangan dirimu nak Salva... jadi sekarang tolong suapi suami mu ini, sudah dua hari ia tak makan-makan."
Salva melotot melihat Arya, kenapa suaminya begitu bodoh? tidak makan sampai dua hari biasa membuat orang meninggal!
Bu Mala mulai meninggalkan kamar mereka, sudah bisa dipastikan menantu nya sebentar lagi akan mengomel, dapat dilihat dari wajah Salva yang kesal.
"Kamu tidak makan dua hari? apa-apaan ini, kau bisa mati jika tidak makan!" Arya tertegun melihat Salva mengomel, tidak biasanya. Selama mereka tinggal berdua perempuan ini hanya berbicara seperlunya saja, bahkan lebih banyak mereka saling menghindar.
"Bukankah sudah ku bilang... bagaimana bisa orang sedang patah hati dan menahan rindu bisa makan?" Balas Arya tak mau disalahkan.
"Jangan berkata seperti itu... sekali lagi aku minta maaf...."
"Panggil aku mas, sayang juga boleh." Salva melongo mendapat sebuah kedipan mata dari Arya.
Kenapa dia berubah seperti ini? Apa otaknya bergeser karena sakit?
"aku...aku hanya takut terjadi sesuatu saja, jika sudah tak ada lagi yang dibicarakan kau bisa makan. aku akan pergi keluar ngobrol sama ibu."
Ia harus cepat-cepat pergi, jika tidak ia tidak yakin jantungnya akan aman, sekarang saja serasa mau meledak karena gugup.
"Kau mau meninggalkan ku lagi?"
"Ehh bukan seperti itu... aku hanya ingin...."
Astaga Kenapa suaminya ini tidak mau mengerti, bukanya melepaskan ia malah kembali memeluk, ia tak yakin Arya tak mendengarkan detak jantungnya.
"Suapi aku... jika tidak aku tak akan melepaskan pelukan ini!" Salva mengangguk mengerti seperti anak kecil polos. Orang yang sedang kasmaran benar-benar bisa berubah seratus delapan puluh derajat. salva menuruti dengan patuh.
Dengan hati-hati Salva menyuapi suaminya. Sedangkan Arya, meskipun ia merasa makanan itu sedikit pahit ia tetap memakannya, ia tidak ingin istrinya itu mengomel lagi.
Bertapa indahnya sebuah hubungan jika kita saling mengerti.
*****