
"Sudah bangun?" salva tersentak mendengar suara dingin itu.
Salva tidak menjawab ia kembali mengingat kembali sebelum pingsan. dirinya melihat pada kaki yang sudah dibalut dengan perban, hati Salva merasa dingin.
"Maaf!" Arya alisnya terangkat.
"Apa yang perlu dimaafkan? apakah ada suami seburuk diriku...? bahkan nama istrinya sendiri ia belum hafal!" ada sindiran yang ingin disampaikan Arya, ia ingin Salva mengerti, 'bahwa dirinya sekarang suaminya mereka harus saling berbagi'
Salva menatap Arya dengan dingin, mungkin sekarang pria itu sudah mengetahui masa lalunya. perkataannya begitu dingin dan penuh sindiran, Salva tersenyum masam.
"Apa kamu pernah bertanya?? bukan aku istri yang buruk... istri yang tidak pernah diinginkan!" Arya tersentak mendengar ucapan salva,ia lupa pesan ayahnya.
"Istirahat lah... mungkin nanti kamu butuh banyak tenaga untuk menagis lagi...." salva tersenyum sinis,ia yakin Arya akan mundur setelah mengetahui status nya.
Kau akan menyerah akan hubungan ini, dan aku akan menjadi wanita gagal lagi. selama Salva... sepertinya kehancuran mu akan datang sebentar lagi!
Salva meringkuk di bawah selimutnya, menagis tak bersuara adalah keahlian setiap wanita, hanya dengan tangisan dapat menghilangkannya sesak di dada.
Arya keluar dari kamarnya,ia tau wanita itu sedang menagis sekarang. tapi ia tidak punya begitu banyak keberanian untuk merangkul dan menenangkan sang istri, andaikan.... sudah lah, untuk saat ini ia tidak ingin berandai-andai lagi.
Arya kembali masuk keruangan ayahnya, ada hal yang harus dibicarakan dengan jelas.
"Ayah?" Tio melihat anaknya kembali merasa heran.
"Ada apa? ada yang menggangu pikiran mu?" Arya tak menjawab,ia duduk didepan ayahnya.
"Kami tidak pindah untuk sekarang... aku ingin Salva tinggal disini untuk sementara."
Tio tidak menangapi ia ingin melihat seberapa ni anaknya menyelesaikan masalah pribadinya sendiri? ia menunggu Arya melanjut pembicaraannya.
"Besok aku akan ke Jakarta! aku ingin berbisnis dengan keluarga Salva secara pribadi." Tio mengangguk-angguk setuju.
"Apa kamu tidak membawanya sekalian?" Arya menggeleng.
"Pergilah... istri mu akan aman disini!" Arya percaya akan hal itu.
******
Arya tak membuang waktu tertentu lama, malam itu juga ia berangkat ke Jakarta. sebelum pergi ia sudah meminta alamat rumah Tante salva. Arya tak mengatakan akan pergi pada Salva, karena hubungan mereka masih begitu dingin.
Arya mulai memasuki rumah yang terlihat sederhana itu, dengan yakin Arya melangkah masuk kerumah Tante zera.
Saat memberi salam, seorang gadis cantik berhijab keluar.
"Assalamualaikum...."
"waalaikum salam... mau ketemu siapa Om?" nana mengerutkan keningnya,ia merasa tak kenal dengan pria tampan didepannya ini.
"Bener ini rumah tuan Ardi? saya suaminya Salva!!" jelas Arya yang langsung mendapat tarikan dari Nana.
Arya yang terkejut hampir saja terjungkal saat Nana menariknya masuk. gadis itu gak ada anggun-anggunnya, sifatnya yang seperti itu membuat orang tuanya tidak tenang untuk tinggal sendiri di rumah.
"Bunda!!" Nana berteriak memanggil bundanya yang sedang memasak.
"Ada apa Na! jangan teriak!!" balas bunda didapur.
"Ada kakak ipar!!"
Bunda yang mendengar itu Lang berlari keluar, yang ada dipikirannya sekarang Kaivan yang datang. Tak beda dengan Ardi yang mendengar teriakan putrinya, ia langsung keluar kamar.
"Untuk apa lagi dia datang...." zera tak lagi melanjutkan ucapannya, setelah mengetahui siapa yang datang.
*****