Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
Nasehat Adam


Hari ini kaivan bekerja dengan tidak fokus,ia masih memikirkan nasib Salva yang ditinggal dengan ibunya dan salsa. Kaivan cukup tau ibunya tidak menyukai salva, Kaivan takut pertengkaran akan terjadi lagi.


Bagaimana cara aku menyuruh ibu pergi? tapi mungkin aku mengusir secara langsung,ibu pasti salah paham. Kaivan sangat bingung dengan situasi ini. padahal dulu ibunya sangat menyukai salva, entah mengapa ibunya secepat itu berubah?.


"Kau melamun lagi? Aku bosan melihatnya!" Kaivan mendengus kesal mendengar perkataan temannya itu. ia sudah tau pasti Adam yang sedang mengejek nasibnya.


"Ada apa kau kemari?" Adam terkekeh geli melihat temannya itu kesal.


"Sombong sekali kau...! Apa mentang-mentang mau punya istri dua? kau tidak membutuhkan sahabatmu lagi?" Kaivan semakin kesal dengan ucapan Adam.


"Jangan bahas itu lagi! Aku sungguh kesal mengingat hal gila itu!" Adam semakin tertawa melihat kaivan Semakin kesal.


"Ahhh... andaikan saja aku menjadi dirimu kawan... aku tidak akan melepaskan berlian hanya untuk segenggam pasir...," Kaivan terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu. "Jangan kau pikirkan... aku hanya bercanda,aku yakin kau tau yang terbaik untuk dirimu!"


"Sudah lah Dam, aku bingung. disatu sisi aku tidak mungkin mengingkari sumpah ku,disatu sisi lagi aku kasihan melihatnya...," ucap Kaivan sendu. iya tidak percaya kehidupannya akan sekacau ini jadinya.


"Apa kau yakin hanya kasihan? apa selama kalian bersama, tidak ada rasa lain yang muncul?" Adam menggoda Kaivan,iya yakin sesuatu pasti terjadi dengan sahabatnya itu.


"Rasa apa maksudmu?" tanya Kaivan Bingung.


"Jangan tertawa kaivan..! aku tidak bercanda, aku sering melihat hal seperti itu terjadi." Adam tidak suka melihat kaivan hanya menganggap dirinya bercanda.


"Ini bukan novel kawan, jadi jangan terlalu banyak berharap!"


"Kau salah Kaivan... Disaat kau kehilangan, baru kau tau apa itu penyesalan. Meskipun kau tidak mengucapkannya,aku tau kau sudah mulai mencintainya...! Tebakan ku benar bukan?" Kaivan terdiam,ia bingung untuk cerita atau tidak, tapi yang dikatakan Adam memang benar,dia mulai merasa nyaman dengan perlakuan Salva selama ini. dia merasa menjadi suami yang sangat diperhatikan, mulai dari semua kebutuhan semua salsa yang urus. tidak bisa dia pungkiri, bahwa dia sangat kecewa tadi pagi melihat Salva tidak melakukannya lagi. karena itu dia terlalu kesal, tidak menyadari ia sudah membuat kesalahan lagi, dengan menampar Salva.


"Hadehhh malah melamun nih anak... ya sudah lah... aku pergi dulu,ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." sebelum benar-benar meninggalkan kaivan,Adam kembali mengucapkan kata-kata yang membuat jantung kaivan berdegup keras.


"Sekali lagi aku ingatkan Kai... kejarlah. Sebelum dia benar-benar meninggalkan mu untuk selamanya... Saat itu tiba, menagis darah pun kau tidak akan bisa membawanya kembali. Jangan kau sia-siakan berlian hanya untuk segenggam pasir, penyesalan itu akan selalu datang diakhir...," setelah mengucapkan itu,Adam Bena pergi dari ruangan kerja Kaivan.


Apa benar aku kan kehilangan nya? itu tidak boleh terjadi... dia harus selalu ada dibawah kendali ku! aku tidak akan melepaskan nya!" Sisi egois kaivan kembali menguasai dirinya.


Dengan cepat kaivan keluar dari ruangannya,ia sudah tidak sabar untuk pulang. entah mengapa tiba-tiba ia merindukan wajah istrinya,ia ingat keadaan Salva yang belum membaik membuat dia kwatir.


*****