Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
petaka datang


Seorang laki-laki tersenyum menyeringai melihat dua orang wanita sedang bersenang-senang di toko pakaian. Dari awal ia sudah mengikuti langkah mereka tanpa diketahui.


Ia mengambil foto dari jauh, lalu mengirimkan pada seseorang dengan seringai licik. "Kau akan kehilangan milikmu yang berharga!"


Pesan terkirim dengan ancaman yang akan membuat seseorang sangat cemas disana. Ia kembali mengikuti mereka dengan santai, agar tidak membuat orang-orang Curiga.


Sedangkan Nana dan Salva masih sibuk memilih pakaian tanpa rasa curiga. Sangking asyiknya bercerita ia bahkan tidak peduli dengan apa pun.


"Kak kamu pilih yang mana?" mereka berdua sedang memilih pakaian muslimah untuk Nana.


"Kakak rasa ini bagus Na," ucap Salva sambil menunjuk baju yang pegang Nana.


"Kakak tidak membelinya? aku rasa kakak akan semakin cantik jika memakai jilbab."


"Benarkah? Mm... nanti kakak pikirkan lagi, setelah mantap dengan hati nanti baru diputuskan!"


Nana mengenyam tangan kakaknya. "Apalagi yang harus dipikirkan? Kakak lihat bunda, dia selalu menjaga auratnya untuk ayah, apa kakak tidak ingin seperti bunda?"


"Kamu benar dek, tapi aku berasa belum siap... bagaimana jika nanti aku tidak kuat, lalu melepas hijab ku?"


"Tidak apa-apa, setidaknya untuk satu hari atau mungkin satu menit kakak sudah menutup aurat, kakak sudah mendapatkan pahala. Kakak hanya perlu yakin dengan hati, meskipun besok kakak tak mengunakannya, setidaknya hari ini kakak tidak membuat dosa... Islam itu indah kak!"


Hatinya merasa sejuk mendengar nasehat adiknya. Benarkah ia sudah membuat dosa selama ini? Dirinya begitu jauh melupakan sang pencipta.


"Kakak tau... Terimakasih sudah mengingatkan kakak," Salva memilih barang yang sama seperti melihat Nana hanya warna hijab dan baju muslimah nya saja yang berbeda. Mungkin suatu hari nanti ia akan memakainya.


"Dek... tolong pegang belanjaan kakak ya, kakak mau ke toilet dulu!"


"Ehh tapi...," Tak sampai menyelesaikan ucapannya Salva sudah lebih dulu meninggalkan Nana, ia benar-benar merasa ingin membuang air diperutnya.


"Kenapa perasaan ku tak enak ya? Aku harus menyusul kakak, aku sudah berjanji pada kakak ipar untuk tidak membiarkan kak salva sendirian."


Nana Semakin merasa aneh saat menyadari pria yang dari tadi melihat pada mereka ikut hilang setelah kepergian kakaknya. Perasaannya Semakin tak menentu, ia berlari menuju toilet


"Kakak!!! Kau dimana?"


Teriakkan Nana membuat beberapa orang berkumpul, Nana tidak peduli ia berlari masuk menerobos kedalam toilet wanita.


Tapi ia tidak menemukan kakaknya, ia hanya melihat tas kakaknya tertinggal dilantai membuat Nana semakin cemas.


"Hay... tolong aku, apa kalian melihat kakakku?"


Nana berteriak pada beberapa wanita yang ada di toilet.


"Seperti apa dia?" Tanya seorang ibu-ibu.


"Dia... dia yang memakai tas ini tadi!"


Nana mengambilnya tas Salva yang tergeletak di lantai, ia melihat barang kakaknya lengkap semua.


"Kekasih? itu tidak mungkin nyonya!"


"Pria itu yang bilang, ya dia memang membawa gadis itu sedikit kasar... memangnya kenapa?"


"Tidak!! dia bukan kekasih kakakku!! dia menculik kakakku!!"


Sekuat apa Nana mengejutkan sang pencuri dan kakak, tapi ia sudah terlambat. Mereka sudah meninggalkan tempat itu beberapa menit yang lalu.


*****


Aku sudah mendapatkan nya, bersiaplah untuk menerima jasad istri tercinta mu!!!


Dia sungguh cantik... Tapi aku tidak tertarik dengan bekas penghianat seperti mu... Kau akan menderita seperti yang aku rasakan!!


Pesan kembali masuk ke ponsel Arya, tapi sayang sang empunya sedang melakukan operasi beberapa jam yang lalu. Ia keluar dengan keringat bercucuran di tubuhnya, ia benar-benar merasa sesak didalam sana dan bergelimang dengan darah padi yang baru saja kecelakaan.


Operasi berjalannya lancar,sang pasien pun bisa diselamatkan. Meskipun begitu banyak luka pada tubuh korban, kemungkinan nanti ia tidak akan bisa berjalan lagi dengan normal.


Arya membersihkan tubuhnya didalam ruangnya, ia begitu tak nyaman melihat darah menempel pada bahunya saat mencoba memberi pertimbangan pertama pada pasien.


Telpon bergetar diatas meja, dengan sigap Arya mengambilnya.


"Assalamualaikum Na," Ucap Arya pada adik iparnya itu.


"(....)"


"Bicara yang jelas Na... apa yang terjadi dengan Salva!" Arya berteriak marah.


"(....)"


"Tidak mungkin!!" Arya langsung mematikan sambungan teleponnya, ia langsung menyambar kunci mobil.


Tapi langkahnya terhenti saat merasa telponnya kembali bergetar. Disana seseorang mengirim foto salva yang sedang pingsan didalam kamar yang gelap, istrinya diikat ditempat tidur dengan begitu menyedihkan.


"Jika kau berani melaporkan pada polisi, istrimu akan berakhir!!"


"Sialan!!! siapa kalian sebenarnya!!!"


Ia berlari keluar tanpa mendengar panggilan para dokter dan suster yang sedang memangilnya. ia tidak peduli dengan pekerjaannya lagi.


******


Maaf ya jika ceritanya membuat kalian kurang suka, tapi ini alurnya yang sudah aku bayangkan, jadi harap dimaklumi ya😁


Jangan lupa like,vote, dan komen juga.