Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
memilih bertahan


Mereka sudah duduk di ruang kerja ayah Tio, Arya merasakan keseriusan dari wajah ayahnya. Tak dapat dipungkiri sekarang ia sendiri merasa tegang dengan suasana ini. Apa yang ingin disampaikan ayahnya? Kenapa begitu serius?


Jika ditanya apa dirinya sudah mengetahui latar belakang kehidupan istrinya? jawabannya tidak! Bahkan nama lengkap istrinya itu ia belum tau?


"Ada apa ayah memangil ku?" Tio menghembuskan nafas berat, ia merasa sedikit sulit mengatakan kebenaran ini.


"Ayah hanya ingin kamu tau siapa istrimu... Setelah semua ini kamu ketahui, keputusan ada pada mu. Apa masih ingin mempertahankan nya? atau kau akhiri? pilihan ada di tangan mu, nak. Jika memutuskan untuk bertahan jangan pernah menyakiti hati istri mu seperti ini lagi! Jika ada masalah selesaikan dengan baik." Dada Arya bak ditikam pisau tajam, ia sangat menyesal sudah membentak istrinya. Bahkan hari pertama pernikahan mereka.


"Apa maksud ayah?" jantung Arya mulai merasa tak nyaman,apa akan ada sesuatu yang begitu tak enak didengar?


"Dengarkan ayah baik-baik! ini mungkin akan sulit kamu terima...." Arya mulai tidak sabaran, ada apa dengan ayahnya? Haruskah berbicara begitu berbelit-belit.


"Cepat lah yah... Aku harus kembali kekamar!" ucap Arya tak sabaran.


"Istrimu... dia bukan lah seorang gadis!"


Deg...


Jantung Arya serasa berhenti, kenyataan ini sungguh mengejutkan dirinya. Mulut tak mampu lagi berucap, kesunyian terjadi di antara ayah dan anak itu. Benarkah istri yang baru dinikahinya bukan seorang gadis? lalu apa dia seorang janda?


"Ayah sudah bilang, jika kau tidak siap dengan kabar ini kalian bisa memilih jalan masing-masing! Ayah tidak ingin kamu membuat kesalahan dimasa depan nanti!" Arya tertegun mendengar nasehat ayahnya, ia benar-benar syok mendengar nasehat ayahnya ini. Tapi disisi lain ia juga tak mungkin menceraikan Salva yang baru satu hari menjadi istrinya.


Kabar ini memang sangat mengejutkan dia, tapi bukan berarti ia akan mengakhiri sebuah hubungan yang baru saja terjadi. Ayahnya benar, jika ia menerima keadaan istrinya ia harus menyiapkan dirinya terlebih dahulu.


"Benarkah? Apa dia mengucapkan nama seseorang?" Arya menghembus nafas berat, Lebih baik sekarang ia kembali kekamar.


"Masalah ini biar aku saja yang mengurus nya. Terimakasih perhatian ayah," Arya beranjak ingin pergi, mungkin masalah ini akan ia selesaikan dengan istrinya sendiri.


"Tunggu...." Arya kembali duduk saat ayahnya tak mengizinkan pergi. "Masalah ia tidak semudah yang kamu bayangkan. Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tanyakan masalah ini pada Tantenya!" Arya tak setuju akan hal itu bukanlah lebih baik ia bertanya secara langsung pada Salva.


"Bukankah lebih baik bertanya pada dia sendiri? kenapa harus ditanyakan pada Tantenya?" Tio menggeleng kuat, jika bertanya pada korban mungkin akan lain jadinya.


"Kamu tidak bisa bertanya secara langsung, nak. Kamu tak lihat bagaimana reaksinya saat kau bentak?" Bener juga, apa itu dikarenakan masa lalunya? Salva pasti tidak akan pernah mau bercerita. lagi pula mereka belum sedekat itu untuk saling berbagi cerita.


"Baiklah..."


******


Salva membuka matanya yang terasa berat, ia mencoba mengingat apa yang terjadi? Terakhir kali ia ingat Arya membentak dirinya, mengingat ia pada luka lama.


syukur aku masih hidup... Aku pikir akan bertemu ayah dan ibu dialam sana? Kenapa aku tidak pernah menemukan kebahagiaan ya? Apa ku tak pantas?


"Sudah bangun?"