
Bus yang ditumpangi sudah sampai di kota Bandung, salva dan Bu Mala terpaksa berpisah. Disana Sudah nampak seorang gadis remaja menunggu Salva bersama dengan motor metik nya.
"Hay kak Salva ya?" salva tersenyum mengangguk,ia sudah tau Maya yang akan menjemputnya. karena memang sudah diberi tau bunda zera.
"Kamu Maya keponakan ayah Ardi kan?" tanya salva balik. Maya menganggu menandakan ucapan salva benar.
"Hayuk kak... mama udah nunggu dirumah." Salva melihat tak yakin pada Maya. bagaimana bisa mereka pergi dengan sebuah motor metik, sedangkan barang yang dibawa salva sedikit banyak, bukan terlalu banyak ya.
"Bagaimana saya naik dek? emang muat motor kamu bawa barang kakak?" tanya salva tak yakin.
"Udah tentang aja... sini koper kakak, ini muat kok." dengan santai gadis remaja itu menaiki koper salva, memang muat tapi salva sedikit cemas. Meskipun sedikit cemas, salva tetap mengikuti naik. Untung saja salva tidak membawa barang terlalu banyak,jika tidak mungkin sekarang mereka akan susah membawanya.
Padahal aku bisa naik taksi, tapi malah seperti ini jadinya. tak pa lah yang penting sampai... kapan lagi uji nyali, ucap salva dalam hati.
Mereka menuju pulang kerumah adik Ardi. Karena memang rumah yang akan ditempatkan salva tak jauh dari sana, bagaimana pun ayah Ardi tak akan membiarkan dia tanpa pengawasan.
Jalanan yang sedikit ramai membuat Maya harus memperlambat kan laju motornya. Ini bukan pertama kalinya salva menaiki kendaraan roda dua, tapi ini bisa dikatakan pertama naik motor dengan beban yang berat dan itu sangat mencemaskan.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sudah sampai dirumah yang tampak asri dan sejuk. Salva tersenyum manis saat wanita paruh baya datang menyambutnya.
"Aduhhh nak salva udah datang... maaf ya ibu gak bisa jemput." salva tersenyum manis,ia bersyukur ternyata kedatangannya diterima baik oleh keluarga pamannya.
"Iya buk... assalamualaikum."
"Ehhh maaf ibuk lupa, waalaikum salam..."
Salva dibimbing masuk ke dalam rumah oleh ibu Maya, salva disuruh istirahat dulu sebelum pindah ke rumah yang akan ditempatkannya.
"Gak apa-apa Bu... ini lebih sejuk dari Jakarta," ucap salva sungkan.
"Istirahat lah sebentar, setelah ini kita akan melihat rumah yang kamu tinggalkan," salva hanya mengangguk setuju.
*****
Setelah merasa sedikit segar salva pergi kerumah yang sudah disiapkan ayah. ternyata rumahnya hanya berjarak tiga rumah saja, suasananya hampir sama dengan rumah Maya, sangat asri dan nyaman untuk tinggal seorang diri.
"Nah ini rumah mu, apa kamu suka nak?"
"Iya... ini sangat bagus. terima kasih Bu," ucap salva,ia merasa sungkan dengan kebaikan keluarga Maya. padahal ini baru pertama mereka bertemu.
"Gak usah sungkan... anggap kami seperti keluarga mu!" Salva terharu mendengarnya.
Terimakasih ya Allah kau sungguh baik, meskipun aku kehilangan seorang, tapi kau Menganti dengan lebih banyak orang baik seperti mereka.
Setelah Maya dan ibunya pergi Salva memutuskan untuk membereskan barang-barang yang dibawanya, untuk rumah semuanya sudah bersih. sepertinya rumah ini telah dibersihkan sebelum ia datang.
suasana terasa sunyi, membuat salva rindu kota Jakarta. biasanya ada nana dan bunda yang mengontrol setiap hari, tapi disini ia hanya bisa mendengarkan daun permohonan yang bergoyang karena angin.
aku rindu rumah... aku rindu kota kelahiranku.
Aku berharap ini pilihan terbaik dalam hidupku...
*****