
"Kau ingin dendam ini semakin membara? Tidak cukup kah kau mendorong Luna dalam bencana itu?" Kesabaran sudah habis, maka kebenaran yang selama ia dirinya simpan akan ia ungkapkan sekarang.
"Jangan kau berkilah Arya! Luna mati karena kau!"
"Tidak! Dia tidak meninggal karena aku hen," Arya tersenyum sinis. "Jika kau memperjuangkan Luna untuk mencintaimu, dan tidak mendorong dirinya semakin dalam mencintaiku, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
Jika diingat yang dikatakan Arya memang benar. Hendri tau betul Arya tak pernah menaruh perasaan pada Luna, saat itu ia hanya fokus dengan cita-citanya. Tapi Hendri dengan egois selalu memberi harapan pada Luna, setiap Luna ingin mendekati Arya, Hendri selalu membantu dan menjadi perantara pertemuan mereka.
Sebagai seorang sahabat Arya tau Hendri sedang menahan perasaannya, tapi pria itu Malah lebih memilih membahagiakan orang yang dicintainya dengan berharap Luna mendapatkan cinta Arya.
"Kau yang egois Hen! Ini semua tidak akan terjadi jika bukan karena sikap mu yang egois!" tekan Arya. "Kau berharap dia bahagia mendapatkan pria yang dicintainya, sedangkan aku ingin sahabat ku bahagia, Tampa harus menyakiti salah satunya. Apa aku salah?"
Hendri terdiam tak berkutik, ia ingat masa itu, masa dimana ia begitu memperjuangkan hubungan mereka berdua, tapi ia malah melupakan perasaannya sendiri dan perasaan sahabatnya sendiri.
"Kau tidak perlu membuat ku merasa bersalah! Tetap saja kau yang membuat Luna meninggal, dan ... Keluarga mu juga yang membuat adikku meninggal, kalian tidak menjaganya dengan baik!"
"Kau keras kepala ..., "
"Diam! Aku tidak butuh bernostalgia lagi dengan mu!!" satu pukulan hinggap di wajah Arya Tampa perlawanan dari Arya yang terikat.
"Bawakan istrinya kemarin! Aku ingin melihat dia menagis darah saat melihat orang yang dicintainya meninggal didepan matanya!" perintah Hendri pada anak buahnya.
"Kau gila! Jangan lakukan itu!"
Ucap itu tidak dipedulikan, dua orang pria menyeret seorang wanita yang terlihat begitu lusuh. Bagaimana tidak dua hari ia tidak tidak dengan baik, tidak mandi, sehingga terlihat begitu menyedihkan.
"Mas Arya," Panggilan ini begitu merdu, yang sangat dirindukan Arya beberapa hari ini.
"Sayang,"
*K*enapa mas Arya disini? dan itu ... ya Allah bibirnya mengeluarkan darah, tuhan tolong selamatkan suamiku, tidak apa-apa jika kau menyakiti ku, tapi jangan dengan orang yang kucintai.
Embun itu turun dari mata Salva, ia begitu sedih melihat keadaan suaminya yang berdarah, tapi ia lupa dengan keadaannya sendiri. Air mata itu disalah artikan Arya, ia berpikir Salva sangat menderita dan ingin lepas dari sini, penyesalan itu semakin memenuhi hatinya.
Arya menunduk sedih, "Lepaskan istriku, kau bisa melakukan apa pun padaku, tapi jangan sakiti dia," ucap Arya mengiba, ini benar-benar menyakitkan.
"Mas!"
Tapi itu tidak terjadi, seorang gadis datang bersama dengan dua orang pria. Mereka langsung menarik rambut Salva dengan kencang.
Salva terpekik menahan sakit di kepalanya. "Tiara! lepaskan istriku!" teriak Arya.
"Lepas katamu? Tidak akan pernah Arya! dia sudah merebut mu dariku!"
"Kau menyakitinya, aku akan menghabisi mu!!" Teriakkan Arya tak dipedulikan, sedangkan Hendri tertawa senang melihat Arya yang berusaha melepaskan diri. tentu saja tidak bisa karena tali itu begitu kuat diikat, dan kaki tangannya diikat kebelakang.
Pisau itu berkilat tajam, tidak ada yang menyangka sebelumnya sampai pisau tajam itu menancap di perut Salva. Perempuan itu benar-benar khilaf karena cinta, ia bahkan rela bertumpah darah tampa penyesalan.
"Salva!" teriak Arya memenuhi seluruh ruangan itu, saat melihat istrinya dilukai didepan matanya sendiri.
"Tidak!"
Semuanya terlambat, teriakkan itu bagaikan pengantar tidur Salva untuk selamanya. ia mulai menutup matanya, sambil memanggil. "Mas Arya," ucapannya lemah, setelah itu ia tidak sadarkan diri lagi.
Hendri hanya bisa diam terpaku, ia tidak mampu membaca gerakan Tiara. Tidak seperti ini yang ia inginkan, ia hanya ingin menggertak Arya saja.
"Angkat tangan kalian! Tempat ini sudah dikepung!" Teriakkan menggema bersamaan suara tembakan.
Polisi datang, tapi terlambat. Kaivan yang melihat Arya terikat dengan tali langsung membukanya, sedangkan para polisi sibuk menangkap para anak buah Hendri dan Tira. Tapi mereka tidak menyadari jika seorang wanita itu butuh bantuan, mereka bahkan mengabaikan Tampa memberi pertolongan.
"Selamatkan istriku!"
********