Goresan Hati Yang Terluka

Goresan Hati Yang Terluka
baru menyadari


POV ARYA.


Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku sendiri, bagaimana aku bisa lupa akan kewajiban ku. Dihari ini, hari dimana aku memberikan kebebasan untuk istriku untuk melakukan aktivitas apa Apapun di luar sana, setelah tragedi yang menimpa kami.


Sebuah sikap posesif dan kekanak-kanakan ku akan membuat hubungan akan mudah hancur, adanya rasa ke tidak puasa membuat kita mengambil langkah yang salah. Hari ini aku merasakannya, membuat kesalahpahaman yang berakhir dengan kekacauan yang tragis.


Disini memang salahku, tidak seharusnya aku mengabaikan istriku dengan begitu menyedihkan. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, hanya berinteraksi dengan teman lama atau mantan!


Entah kenapa sisi egois ku muncul tidak terkendali, melihat dia tertawa lepas dengan pria lain aku sudah disulutkan api cemburu.


Dia mencoba menjelaskan, tapi aku memilih tidak peduli. Bukan itu saja kesalahan yang aku buat, aku bahkan meminta adik ipar ku dua hari ini yang mengisi piring saat di meja makan. Mengabaikannya, memilih menghindari dan dengan teganya aku memilih pisah ranjang, aku memilih tidur di sofa untuk menghindarinya.


Saat aku menyadari kesalahanku, ternyata aku sedikit terlambat. Wanita yang sangat aku cintai sudah mulai menjauh karena sikap kekanak-kanakanku ini. Dihari ini aku bisa mengerti, ternyata senyuman yang selalu ia perlihatkan pada kami itu semua palsu. Nyatanya di dalam hati ia menyimpan begitu banyak luka. Berdiri seolah-olah ia baik-baik saja dengan membohongi perasaannya sendiri, padahal ia sendiri sangat rapuh dengan luka yang berdarah.


Hatiku sakit saat ia mengatakan 'Aku tau, aku hanya seorang janda yang kamu pungut dengan paksaan menjadi istrimu' Ucapannya benar-benar membuat jantung serasa berhenti berdetak. Dia bukan sampah yang aku pungut, dia harta yang paling berhargaku! bagaimana ia bisa berpikir seperti itu?


Aku tidak pernah berpikir seperti itu untuk Salva, aku tidak pernah memandang rendah dirinya. karena dia adalah aku, aku adalah dia, kami diciptakan dengan rusuk yang sama.


Semenjak hari itu istriku tidak lagi seperti dulu, tidak lagi manja, tidak ada lagi senyum manis yang selalu menyambut kepulangan ku jikalau merasa lelah saat bekerja. Senyum itu benar-benar hilang dari hidupnya.


"Dek? Ini sudah dua Minggu, kenapa masih marah?"


Seperti saat ini, kami sedang di meja makan berdua, bunda dan ayah tidak di rumah, begitu juga adik ipar ku. Kami makan dalam diam, tidak ada yang mulai obrolan, atau lebih tepatnya memang tidak ingin.


"Aku tidak marah," ucap Salva, hanya itu yang ia jawab setiap aku bertanya.


"Lalu kenapa kamu selalu mendiami mas?"


"Karena aku sadar diri, dimana posisi aku sebenarnya!" Sudah itu saja, aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi.


Setiap hari ia melakukan semua kewajibannya seperti biasa, menyambutku pulang, menyiapkan keperluan, juga melayaniku. Tapi ia melakukan dengan diam tanpa semangat.


"Mas tau, ini sudah keterlaluan. Tapi mas mohon, jangan seperti ini? Kamu bisa menghukum mas sepuasnya, tapi jangan diam seperti ini."


Sekarang aku tau didiamkan itu menyakitkan, sekarang Kamu juga melakukannya padaku, membalas perbuatanku. Batin arya berteriak perih melihat sang istri mengabaikan dirinya.


"Ini sudah siang mas, nanti bisa telat bekerja." Mengalihkan pembicaraan keahlian Salva saat ini, membuka ku memutar bola mata jengah.


"Lagi-lagi mengalihkan pembicaraan ... Sayang, ayolah. Apa perlu mas bersujud di kaki mu?" mencoba menggenggam tangan istriku, tidak ada penolakan. "Apa kamu ingin membalaskan perbuatan mas?"


"Tidak ada yang perlu dibalas, Aku adalah aku, dan kamu adalah kamu, tidak ada yang perlu bersujud, karena aku bukanlah Tuhan!"


"Tidak! Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu? Apa semudah itu kamu memisahkan? kamu dan aku tetaplah kita, jangan pernah berbicara seperti itu!" Emosiku sungguh tersulut sekarang, bagaimana ia begitu cepat bisa memisahkan makna yang begitu dalam.


"Apa masih ada harapan itu? Rasanya sudah sangat melelahkan untuk berharap, akhirnya tetap saja kekecewaan yang ku dapatkan. Aku tidak mau lagi jatuh dalam lubang yang sama."


"Salva! Ternyata kau sangat keras kepala! Baiklah jika ini yang membuat mu senang, lakukan apa pun yang ingin kau lakukan!"


Aku mengambil tasnya ditangan Salva dengan kasar, bahkan tidak berpamitan dulu dengan istriku seperti pagi biasanya. Dadaku benar-benar merasakan sesak, tidak mungkin aku langsung lemah dengan cobaan seperti ini, aku adalah imam sudah tugasku untuk mempertahankan hubungan ini, tapi tidak untuk sekarang, aku tak ingin tetap diam.


Ternyata tidak dianggap dan tidak diinginkan itu sungguh menyakitkan. Tapi selama ini itu lah yang ditahan istriku, merasa dirinya tidak diinginkan, merasa dirinya paling rendah karena masa lalu. Tapi ia bertahan dengan senyum palsunya, hanya untuk membuat orang yang dicintainya bahagia. Nasib istriku yang malang.


*****


Halo semuanya....


Aku rasa beberapa bab ini membuat aku sedih, gak tau dengan kakak yang baca. Sedih apa enggak?


Jangan lupa komen ya😁