
"Mungkin dengan ini kau bisa puas mas? mungkin dengan kepergian ku membuat dendammu terbalaskan. tapi kau perlu ingat satu hal.... aku tidak pernah melenyapkan kekasihmu!!" salva menggores kedua nadinya. luka yang cukup dalam membuat darah keluar begitu hebat. kesadaran Salva mulai menipis, sampai akhirnya ia ambruk kelatai.
Bu Salma yang begitu kwatir mencoba menghubungi Kaivan, tapi tak kunjung mendapat Jawaban dari sebrang. Merasa tidak memiliki pilihan lain,Bu Salma langsung menelepon tuan besar,ayah Kaivan.
"halo tu,,tuan...," ucap Bu Salma sedikit takut.
"Ada apa bik Salma..?" ayah Kaivan Langsung bertanya, padahal ia sedang menunggu disamping istri.
"Tuan...tuan tolong nak Salva,tuan. dia mencoba menyakiti dirinya...," ucap Bu Salma cemas. ayah Kaivan terkejut mendengar perkataan pembantu anaknya itu.
"Dimana dia sekarang?!"
"Dia mengurung dirinya dikamar, sambil membawa pisau tuan...." ayah Kaivan langsung berlari keluar dari ruang rawat istrinya.
"Apa kau sudah menghubungi Kaivan?!"
"Sudah tuan.... tapi...." ayah Kaivan tau apa yang terjadi,dia langsung memutuskan sambungan telepon. Dengan cepat ia menuju rumah putranya, bahkan beberapa kali ayah Kaivan menerobos lampu lalu lintas.
Hendra yang tiba dirumah putranya, kaivan. langsung menuju kamar yang ditunjukkan Bu Salma.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hendra.
"Saya kurang tau,tuan. saat saya kembali, saya melihat non Salva mencoba menyakiti dirinya.... setelah itu dia berlari membawa pisau dan mengunci pintu kamarnya." jelas Bu Salma.
Ayah Kaivan terpaksa membuka pintu dengan kasar,dia sudah tau pasti sudah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
*****
"Maaf kan aku Nai.... aku mencoba mengganti cinta kita. maaf Aku yang sempat melupakan mu belakangan ini, tapi aku berjanji akan sering untuk datang kesini." ucap Kaivan berbicara sendiri.
"Kau tau..? wanita itu semakin menjadi. dia hampir saja melenyapkan ibuku.... dia Bena tidak punya perasaan. tapi.... entah mengapa belakangan ini aku rasa, aku mulai mencintainya?" Kaivan menarik nafas dalam, setiap dia datang kesini ia akan selalu bercerita. Meskipun dia tau, orang yang dia ajak berbicara tidak akan bisa menjawab.
"Aku lelah Nai.... maaf akan aku jika suatu hari nanti aku melupakanmu mu, tapi kau harus tau.... aku tidak akan pernah melupakan mu,aku ingin memulai hidup baru,dan menemukan kebahagiaan ku." kembali kaivan mengusap batu nisan mantan kekasihnya itu.
Setelah puas bercerita dengan makam Naira, kaivan memutuskan untuk kembali kerumah sakit. kau dia cukup lama meninggalkan ibunya,ia hanya ingin disana ibunya bangun ia ada disamping ibunya dan meminta maaf.
Kaivan masuk kedalam mobilnya, tapi niatnya untuk menjalankan mobil terpaksa ia batako saat melihat telpon masuk dari ayahnya.
"Asalamu...." belum sempat kaivan mengucapkan salam pada ayahnya,ia sudah mendapat bentakan dari sebrang sana.
"Dasar anak bodoh..! dimana kau sekarang?!" kaivan terlonjak kaget mendengar teriakan-teriakan ayahnya.
"Ada apa yah?"
"Sekarang pergi kerumah sakit!!! cepat!!" Kaivan Bingung dan sangat cemas. ia takut sesuatu terjadi dengan ibunya.
"Ba,,baik yah aku akan kesan...," ucap Kaivan takut Mendengar bentakan ayahnya. tidak biasanya pria ini begitu marah pada dirinya.
Apa yang terjadi? apa ibu baik-baik saja? aku harus cepat sampai kerumah sakit,aku tidak ingin sesuatu terjadi dengan ibu!"
Kaivan membawanya mobil dengan kecepatan tinggi,ia tidak peduli dengan keselamatan dirinya. karena terlalu kwatir.
*****